Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Monday, 28 Ramadhan 1442 / 10 May 2021

Nadiem: Pemerintah Selalu Berupaya Atasi Buta Aksara

Selasa 08 Sep 2020 16:37 WIB

Red: Ratna Puspita

Mendikbud Nadiem Makarim

Mendikbud Nadiem Makarim

Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Nadiem ajak pegiat pendidikan untuk terus semangat mengentaskan buta aksara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengatakan pemerintah terus berupaya mengatasi permasalahan buta aksara dengan berbagai strategi yang dilakukan. "Pemerintah senantiasa mengupayakan agar masyarakat lepas dari permasalahan buta aksara," ujar Nadiem dalam acara peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-55 yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Selasa (8/9).

Strategi yang dilakukan pemerintah yakni melakukan pemutakhiran data buta aksara, memperluas program pendidikan keaksaraan, mengembangkan dan pemeliharaan kemampuan literasi warga, hingga mengakselerasi layanan pada program pada daerah yang padat buta aksaranya. "Kemendikbud bergotong royong dan berusaha menghadirkan pendidikan yang inklusif termasuk di tengah pandemi Covid-19. Kita harus mengambil kesempatan. Saat pandemi Covid-19 selesai kita harus yakin kita dapat keluar sebagai pemenang, " jelas dia.

Nadiem mengajak para pegiat pendidikan untuk terus semangat dalam mengentaskan buta aksara.

Baca Juga

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikbud Jumeri mengatakan tema HAI yang diusung oleh UNESCO tahun 2020 adalah “Literacy Teaching and Learning in The COVID-19 Crisis and Beyond’ with a Particular Focus on The Role of Educators and Changing Pedagogies". Mengacu tema tersebut, Kemendikbud menetapkan tema nasional peringatan HAI tahun ini menjadi “Pembelajaran Literasi di Masa Pandemi COVID-19, Momentum Perubahan Paradigma Pendidikan".

Jumeri menambahkan angka buta aksara di Tanah Air semakin menurun dari tahun ke tahun. "Persentase buta aksara pada 2018 sebanyak 1,93 persen atau 3,29 juta orang, dan pada 2019 turun menjadi 1,78 persen, atau menjadi 3,076 juta orang," kata Jumeri.

Berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik 2019, angka melek aksara usia 15-59 tahun adalah sebesar 98,22 persen. Sejumlah upaya yang dilakukan dalam mengentaskan buta aksara adalah pemutakhiran data buta aksara, strategi penuntasan, jejaring kemitraan dalam keaksaraan, dan inovasi pendidikan keaksaraan.

Selama masa pandemi Covid-19, pihaknya melakukan inovasi pembelajaran keaksaraan yakni dengan melakukan pembelajaran secara daring.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA