Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Denyut Sastra Kaum Sarungan

Senin 07 Sep 2020 09:23 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Buku Sastrawan Santri

Buku Sastrawan Santri

Foto: Tangkapan Layar
Buku ini mengupas riwayat dan aktivitas kesusastraan sebuah pesantren besar di Madura

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasanul Rizqa

Di Indonesia, perkembangan awal tradisi sastra Islam mulai terjadi setidaknya pada abad ke-13 atau 14. Menurut sejarawan Universitas Islam Negeri (UIN)Syarif Hidayatullah Prof Jajat Burhanuddin, periode itu disebut pula sebagai zaman peralihan yang melahirkan karya-karya sastra dengan karakteristik utama transisi dari masa Hindu-Buddha ke Islam.

Salah satu cirinya ialah tidak atau belum menampakkan istilah-istilah keislaman dalam teks. Sebagai contoh, lafaz Allah Ta'ala masih ditu lis dengan sebutan Dewata Mulia Raya atau Raja Syah Alam, sebelum akhirnya ditulis sebagaimana biasa: Allah SWT.

Luasnya cakupan nusantara berarti pula adanya kekhasan sastra di masing-masing daerah. Badrus Shaleh pada 2017 lalu menulis tesis un tuk menyelesaikan studi magister ilmu antropologi pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada.

Dalam risetnya itu, ia secara khusus mengkaji fenomena sastra dalam lingkup pesantren, khususnya di Madura, Jawa Timur. Karya ilmiah yang berhasil meraih penghargaan Nu santara Academic Award (NAA) 2019 itu telah dibukukan dengan judul Sastrawan Santri: Etnografi Sastra Pesantren oleh Penerbit Elsa Press pada Maret tahun ini.

Badrus memilih Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep sebagai lokasi penelitiannya. Sebab, lembaga itu selama ini dikenal sebagai markas para sastrawan di Pulau Madura. Bahkan, pesantren tersebut juga diakui menjadi titik tolak dan perspektif munculnya para sastrawan santri mutakhir di Tanah Air.

Dalam kata pengantar buku ini, Direktur Nusantara Institute Sumanto Al Qurtuby memuji pendekatan etnografis approach from within yang dilakukan Badrus dalam meneliti geliat sastra dan sastrawan di Pesantren Annuqayah.

Pendekatan itu berarti, peneliti mengambil pendapat, ide, opini, atau sudut pandang dari komunitas yang diteliti. Dengan demikian, riset yang dilakukannya dapat menggali lebih dalam topik yang dibahasnya secara komprehensif.

Pemilihan Madura sebagai lokasi riset juga menuai pujian dari dosen antropologi budaya King Fahd Univer sity of Pteroleum-Minerals (Arab Saudi) itu. Sebab, selama ini daerah berjuluk Pulau Garam itu kerap dipandang sebagai tempat lahirnya para sastrawan yang tumbuh dari lingkungan pesantren.

Namun, belum banyak penelitian yang berupaya menelaah kaitan antara dunia santri dan sastra(wan). Maka dari itu, tesis Badrus dapat berkontribusi dalam memperkaya khazanah penelitian budaya Islam di nusantara, khususnya Madura.

Secara keseluruhan, buku Sastrawan Santriter bagi ke dalam lima pem bahasan utama. Mulai dari topik sastrawan dari pesantren, pesantren lumbung sastra dan literasi, sastra sebagai media pendidikan formal, sastra sebagai media pendidikan non-formal, hingga sastrawan santri-- yang menjadi judul kitab tersebut.

Mula-mula, Badrus mengawali penjelasannya dengan mengutarakan terlebih dahulu konteks kekinian sastra Indonesia yang beririsan de ngan dunia pesantren.

Seperti diketahui, jagat literasi Indonesia tak asing lagi dengan nama-nama semisal Zawawi Imron, A Mustofa Bisri, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Ahmad Tohari, Abdul Hadi WM, atau Acep Zamzam Noor. Begitu pula dengan sastrawan nasional dari kalangan yang lebih belia, seperti Jamal D Rahman, Habiburrahman El Shirazy, atau Ahmad Fuadi--untuk menyebutkan segelintir dari sekian banyak nama. Mereka semua adalah sastrawan terkemuka di Tanah Air yang memiliki latar belakang pondok pesantren.

Bahkan, fenomena sastra pe santren sesungguhnya bukanlah hal yang baru. Eksistensinya, menurut Ba drus, dapat dirunut sejak abad ke-16, yakni melalui kiprah Hamzah Fansuri, sang sastrawan yang juga berjulukan Bapak Bahasa dan Sastra Melayu.

Berlanjut pada abad ke-18 dengan kemunculan penyair modern Melayu, yang kiranya dapat direpresentasikan oleh Abdullah bin Abdul Karim Munsyi. Para leluhur sastra Indonesia itu kerap menyisipkan pesan-pesan Islami dalam setiap karya mereka.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA