Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Pakistan, Negara Islam Maju dengan Nuklir dan Anti-Israel

Jumat 04 Sep 2020 17:57 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Nashih Nashrullah

  Tentara Pakistan saat latihan militer bersama dengan pasukan Arab Saudi di Shamrakh, Arab Saudi, Senin (30/3).

Tentara Pakistan saat latihan militer bersama dengan pasukan Arab Saudi di Shamrakh, Arab Saudi, Senin (30/3).

Foto: AP/SPA
Pakistan merupakan negara Islam yang maju dengan kemampuan nuklirnya.

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD – Pakistan adalah satu-satunya negara muslim dengan perkembangan kekuatan nuklir yang luar biasa. Dengan rahmat Allah SWT, Pakistan juga memiliki tentara yang kuat dan menjadi bangsa pemberani dan seluruh umat muslim dunia bangga karenanya.

Itulah mengapa setiap Muslim yang tertindas di Palestina hingga Kashmir, selalu memandang ke arah Pakistan dengan keadaan tertekan. Pakistan juga selalu bersedia dengan kapasitas dan kemampuannya untuk memfasilitasi dan membantu mereka. 

Pada 5 Agustus 2019, pemerintah India mengubah undang-undang terkait Kashmir. Hal ini membuat seluruh dunia terguncang dan menyebabkan kesusahan bagi rakyat Kashmir dan Pakistan.

Baca Juga

India telah melakukan tindakan ilegal dengan menduduki kaum Muslim di Kashmir. Sayangnya, sikap yang diambil beberapa negara, benar-benar mengecewakan kaum Muslim di Kashmir dan Pakistan. 

Setelah agresi India 5 Agustus, OKI tidak sedikitpun menggeser sikapnya dan tetap mendukung Kashmir. Begitu juga dengan Kerajaan Arab Saudi yang menyatakan KSA tidak pernah mendukung sikap India terhadap Kashmir. 

Tetapi sangat disayangkan di media sosial, propaganda jahat yang tidak berdasar telah menyebar dan menjadi tidak terkendali. Hingga Pakistan mengecam OKI karena dianggap diam atas tindakan India terhadap Kashmir. Propaganda tersebut juga membuat ketegangan hubungan antara Pakistan dan Arab Saudi.

Dilansir dari Daily Times pada Jumat (4/9), Pakistan menuntut untuk mengadakan pertemuan tingkat Menteri luar negeri di forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tentang masalah Kashmir, tetapi terhembus isu bahwa Kerajaan Arab Saudi menghalangi pertemuan tersebut. 

Padahal kenyataannya, bukan Arab Saudi, melainkan ada beberapa negara lain yang menghalangi pertemuan ini. Arab Saudi sendiri tidak pernah menjadi bagian dari upaya untuk membatalkan pertemuan. 

"Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa Kerajaan Arab Saudi tetap berada di garis depan untuk mendukung dan mendukung Pakistan dalam menghadapi masalah apa pun, yang tidak dapat dijelaskan di sini. 

Ketegangan pecah setelah Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Qamar Javed Bajwa dan Kepala Jenderal ISI Faiz Hameed menyambangi Arab Saudi. Kunjungan tersebut disambut baik oleh Kementerian Pertahanan Saudi dan Wakil Menteri Pertahanan Saudi Ameer Khalid bin Salman (Putra Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz, saudara laki-laki Putra Mahkota Amir Muhammad bin Salman). Pertemuan tersebut kembali memperkuat hubungan Pakistan dan Kerajaan Arab Saudi.  

Duta Besar Saudi untuk Pakistan, Nawaf Saleed Al-Malicky, memainkan peran yang sangat efektif dan tak kenal lelah untuk mengusir semua kesalahpahaman antara Pakistan dan Arab Saudi. 

Menteri Luar Negeri Saudi, Amir Faisal, dan timnya tetap sadar tentang realitas di dunia. Bahwa Arab Saudi dalam hubungan persaudaraannya dengan Pakistan telah berulang kali menyampaikan agar tidak boleh ada yang campur tangan terkait hubungan Pakistan dengan Arab Saudi dan dunia Arab. 

Hubungan antara Pakistan dan Arab Saudi tidak boleh diganggu karena beberapa negara lain atau kedua negara harus bergantung pada negara ketiga mana pun untuk  stabilitas hubungan. 

Karenanya akan muncul spekulasi bahwa dengan ada negara ketiga, hubungan persaudaraan antara Pakistan dan Arab Saudi akan terganggu. Seperti yang terjadi saat itu, di tengah ketegangan Pakistan dan Arab Saudi, kemudian Uni Emirat Arab yang tiba-tiba memilih jalan perdamaian dengan Israel.

Normalisasi hubungan Uni Emirat Arab dengan Israel ini lantas menyeret Arab Saudi, bahwa KSA dianggap juga menerima Israel dan menjadikan Pakistan semakin tertekan untuk turut mengakui Israel.  

Dalam seluruh kampanye propaganda jahat ini, Putra Mahkota Saudi Amir Muhammad bin Salman menjadi sasaran propaganda dan kritik di media sosial. Para filsuf media sosial ini bahkan tidak menyadari bahwa Arab Saudi telah dengan tegas menyatakan kepada Pakistan, bahwa Arab Saudi tidak akan menerima Israel dan dalam hal ini, Presiden Palestina Mehmood Abbas juga telah memberi tahu bahwa Khadim al-Haramain asy-Syarifain Salman bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Amir Muhammad bin Salman dengan tegas menyampaikan kepadanya bahwa keputusan rakyat Palestina akan menjadi keputusan mereka. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA