Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Friday, 13 Rabiul Awwal 1442 / 30 October 2020

Studi: Vitamin C Berpengaruh Terhadap Gangguan Sarkopenia

Selasa 01 Sep 2020 19:20 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Sarkopenia dipengaruhi oleh defisiensi vitamin C (Foto: ilustrasi jeruk sebagai sumber vitamin C)

Sarkopenia dipengaruhi oleh defisiensi vitamin C (Foto: ilustrasi jeruk sebagai sumber vitamin C)

Foto: www.freepik.com
Sarkopenia dipengaruhi oleh defisiensi vitamin C.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vitamin C merupakan salah satu jenis vitamin yang banyak dikenal karena beragam manfaatnya bagi kesehatan. Akan tetapi, ada satu manfaat vitamin C yang mungkin masih jarang diketahui banyak orang.

Studi dalam Journal of Nutrition mengungkapkan bahwa vitamin C dapat memperbaiki massa otot pada kelompok usia tua secara dramatis. Studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of East Anglia ini menganalisis data dari 13.000 partisipan laki-laki dan perempuan yang pernah terlibat dalam studi cohort European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition–Norfolk pada 1992 lalu. Para partisipan saat itu berusia 42-82 tahun.

Dalam studi ini tim peneliti ingin mengetahui dampak vitamin C terhadap risiko gangguan sarkopenia. Gangguan sarkopenia ditandai dengan penurunan fungsi dan massa otot rangka.

Baca Juga

Hasil studi menunjukkan bahwa sarkopenia tak hanya dipengaruhi oleh faktor usia, tetapi juga defisiensi zat gizi seperti vitamin C. Sekitar 66 persen laki-laki dan 50 persen perempuan dalam studi ini tidak memenuhi asupan vitamin C sesuai anjuran.

Studi ini juga menunjukkan bahwa partisipan yang mengonsumsi vitamin C dalam jumlah tinggi memiliki massa otot rangka yang lebih baik. Menurut tim peneliti, mengonsumsi satu buah jeruk per hari dan mengonsumsi sayuran kaya vitamin C saat makan malam sudah cukup untuk menurunkan degenerasi otot secara drastis pada kelompok usia tua.

"(Vitamin C) membantu melindungi sel-sel dan jaringan-jaringan yang melengkapi tubuh dari zat radikal bebas yang berpotensi berbahaya," jelas ketua tim peneliti dari UEA's Norwich Medical School Profesor Ailsa Welch, seperti dilansir The Ladders, Selasa (1/9).

Profesor Welch mengatakan radikal bebas yang dibiarkan begitu saja dapat berkontribusi pada kerusakan otot. Kondisi ini dapat mempercepat terjadinya penurunan terkait usia, termasuk pada otot.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA