Selasa 01 Sep 2020 15:56 WIB

Kemarau Sebabkan 3.613 KK di Bogor Kekurangan Air Bersih

BPBD Jabar, telah mengirimkan bantuan sebanyak 106.000 liter air bersih.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto
Petugas mendistribusikan air bersih bagi warga yang membutuhkan saat musim kemarau.
Foto: ANTARA/Destyan Sujarwoko
Petugas mendistribusikan air bersih bagi warga yang membutuhkan saat musim kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mulai mengantisipasi ancaman kekeringan di sejumlah daerah. Data BPBD Jabar mencatat saat ini ada 3.612 kepala keluarga di lima kecamatan di Kabupaten Bogor yang mengalami kekurangan air bersih. BPBD Jabar, telah mengirimkan bantuan sebanyak 106.000 liter air bersih. 

Selain di Bogor, ada juga 360 kepala keluarga di Cileunyi, Kabupaten Bandung yang mengalami kesulitan air berih. “Sudah terkirim 6.000 liter air bersih,” ujar Kepala Harian BPBD Jabar Dani Ramdan, kepada wartawan di Bandung, Selasa (1/9).

Dani mengatakan, berdasarkan surat peringatan yang disampaikan oleh BMKG Agustus hingga Oktober 2020 mulai memasuki musim kering atau kemarau. 

“Tapi kemaraunya memang kemarau basah tahun ini, sehingga masih ada hujan meskipun sporadis,” katanya. 

Dani mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah mulai menerima sejumlah laporan dari daerah seperti di Bogor Barat. Di wilayah tersebut BPBD Jabar mulai menurunkan bantuan penyediaan air bersih meski hujan kadang datang.

“Itu yang paling banyak menerima laporan dari Bogor sebelah barat, kalau Bogor timur itu hujannya masih tinggi,” katanya.

Meski sudah ada laporan dari beberapa daerah terkait kebutuhan air, kata Dani, angka sebaran kekeringan belum tinggi. Jadi, hanya beberapa rukun warga di perkampungan, belum meluas satu desa atau kecamatan. “Belum ada yang sampai satu kecamatan,” katanya.

Mitigasi yang dilakukan BPBD Jabar, kata dia, antara lain mengirimkan tangki air bersih ke wilayah terdampak. BPBD Jabar sudah rutin menyiagakan keberadaan tangki air ini untuk memenuhi kebutuhan air bersih. “Tangki-tangki kita sudah tersebar di kabupaten/kota,” katanya.

Sedangkan untuk daerah yang mengalami kesulitan air bersih dengan durasi panjang, kata Dani, pihaknya juga menyiapkan upaya pipanisasi. Mitigasi ini diberikan pada desa yang betul-betul tidak memiliki sumber air terdekat. “Mereka yang sumber airnya kurang dari lima kilo kita bisa pakai proyek pipanisasi,” katanya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement