Sabtu 29 Aug 2020 00:05 WIB

Polres Sampang Tangkap Pengedar Narkoba yang Peralat Santri

Tersangka memperalat seorang santri dan sengaja menyelipkan sabu di balik kopiah.

Barang bukti narkoba jenis sabu dirilis polisi.
Foto: Muhamad Ubaidillah
Barang bukti narkoba jenis sabu dirilis polisi.

REPUBLIKA.CO.ID, PAMEKASAN -- Aparat Polres Sampang, Jawa Timur, menangkap seorang pengedar narkoba yang memperalat santri di Pondok Pesantren Darul Amin Pandiyangan, Sampang. Menurut Kapolres Sampang AKBP Abdul Hafidz di Sampang, Jumat (28/8), pengedar narkoba yang memperalat santri itu berinisial MT (33) warga Desa Lar-Lar, Kecamatan Banyuates.

"MT ini ditangkap pada Kamis (27/8) pukul 17.20 WIB, di rumahnya di Dusun Bejegung, Desa Astapah, Kecamatan Omben," kata Abdul Hafidz dalam keterangan persnya di Mapolres Sampang, Jumat (28/8).

Baca Juga

Peran MT diketahui sebagai pengedar dan pengungkapan kasus narkoba ini merupakan serangkaian kejadian di Desa Pandiyangan, Kecamatan Robatal. "Alhamdulillah setelah toga hari pasca peristiwa itu kita mengamankan MT," ucap Hafidz.

Menurut kapolres, sebelum ditangkap, tersangka sempat pergi ke sebuah tempat untuk menghindari kejaran polisi. "Malam hari kejadian itu sempat pergi dia," ujarnya.

Dari tangan tersangka, polisi mengamankan sabu seberat 2,5 gram. Barang bukti tersebut sengaja diselipkan dibalik kopyah santri. Dari pemeriksaan sementara, alasan tersangka menyelipkan sabu lantaran ada transaksi pesanan, sehingga ia menggunakan jasa seorang bocah kecil tak lain keponakan tersangka.

"Jadi anak kecil itu masih keluarga MT, makanya tersangka selipkan suatu barang ke kopyahnya tanpa diketahui kalau diselipkan barang sabu," terang kapolres.

Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pengembangan atas kasus penangkapan MT. Tersangka dijerat Pasal 114 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 1 junto Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Sebelumnya, kasus santri dituding membawa sabu sempat ramai di media sosial. Aksi penangkapan berujung dugaan penyekapan polisi menjadi latar belakang isu tersebut. Padahal berdasrakan kejadian tersebut terungkap pihak pondok pesantren menyelamatkan anggota polisi dari amukan massa di tengah situasi yang tidak kondusif saat itu.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement