Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

PM Ardern: Tahun 2020 Sulit

Senin 24 Aug 2020 20:34 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

 Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

Foto: EPA
Pembatasan gerak di Auckland tetap diperpanjang menyusul penyebaran Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern menyebut tahun 2020 sebagai tahun yang buruk. Hal itu dikatakannya menyusul kembali diperpanjangnya kebijakan pembatasan gerak di Auckland, kota terbesar Selandia Baru.

"Ini kenyataan yang sulit untuk diterima. Kami tahu ini sulit. Saya tahu ada banyak yang merasa lebih sulit kali ini," ujar PM Ardern dikutip BBC, Senin (24/8).

Baca Juga

"Di dunia di mana tahun 2020, terus terang, sangat buruk, kami kuat, kami baik, dan kami melakukannya dengan sangat baik. Jika ada satu negara yang tahu cara bangkit kembali, itu adalah kami," ujarnya menambahkan.

Selandia Baru berhasil menahan virus Corona baru atau Covid-19, dan menjalani 102 hari tanpa penularan komunitas sebelum klaster baru terdeteksi di Auckland awal bulan ini. Pada Senin (24/8), setiap orang juga diharuskan memakai masker di angkutan umum.

"Jika Covid bisa menyebar di bus, dan kita tahu masker membuat perbedaan, ayo pakai masker," kata Ardern.

Sumber wabah di Auckland tidak teridentifikasi, dan otoritas kesehatan mengatakan mungkin tidak akan pernah diketahui. Meski demikian, pakar epidemiologi menyambut baik perpanjangan pembatasan gerak dan mengatakan itu adalah cara terbaik untuk menghilangkan virus.

"Hampir pasti masih ada kasus aktif dan tidak teridentifikasi di masyarakat yang berpotensi memicu wabah baru jika kita terlalu cepat bersantai," kata Prof Michael Plank dari Te Punaha Matatini dikutip laman the Guardian.

Menurutnya, kasus-kasus akibat dari kontak antara orang asing dalam perjalanan bus adalah contoh seberapa cepat wabah ini bisa menyebar.

Pembatasan di Auckland membuat beberapa pihak berspekulasi. Resistensi terhadap kebijakan pembatasan semakin meningkat di Auckland. Puluhan orang bergabung dalam protes anti-pembatasan di kota pada akhir pekan. Mereka mengatakan hak-hak mereka dilanggar.

Ada juga laporan harian bahwa warga Auckland gagal mematuhi aturan lockdown atau karantina wilayah seketat yang mereka lakukan pertama kali. Psikolog klinis di Victoria University of Wellington, Dougal Sutherland mengatakan perpanjangan lockdown akan mengecilkan hati bagi banyak orang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA