Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Sejarah Hari Ini: Presiden Brasil Ditemukan Tewas Bunuh Diri

Senin 24 Aug 2020 14:58 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

Bunuh diri/ilustrasi

Bunuh diri/ilustrasi

Foto: Max Pixel
Vargas meninggalkan catatan dramatis yang disiarkan di radio nasional.

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Pada 24 Agustus 1954, Presiden Brasil Getulio Vargas ditemukan tewas diduga bunuh diri. Tewasnya presiden terjadi beberapa jam setelah dia mengundurkan diri dari jabatannya di tengah krisis politik yang semakin parah kala itu.

Seperti dilansir BBC History, Vargas ditemukan oleh putranya di apartemen pribadi pada pukul 08.30 waktu setempat. Vargas menembak dirinya sendiri tepat di jantung.

Dia meninggalkan catatan bunuh diri dramatis yang disiarkan di radio nasional hanya dua jam setelah tubuhnya ditemukan. Di dalam surat itu, ia mengeluhkan upayanya untuk membebaskan rakyat Brasil terhambat oleh kepentingan asing yang ditudingnya sebagai penyebab krisis ekonomi.

"Tidak ada yang tersisa kecuali darah saya. Saya memberikan hidup saya, sekarang saya memberikan kematian saya. Saya memilih cara ini untuk membela kalian, karena jiwa saya akan bersamamu, namaku akan menjadi bendera perjuanganmu," tulis Vargas dalam suratnya.

"Saya mengambil langkah pertama menuju keabadian. Saya meninggalkan hidup untuk memasuki sejarah," ujarnya menambahkan.

Kematian presiden terjadi di saat kerusuhan serius melanda bangsa. Inflasi berada pada titik tertinggi sepanjang masa dan kenaikan upah tidak sejalan dengan harga pasar.

Ketidakpuasan dengan Vargas muncul setelah percobaan pembunuhan editor surat kabar oposisi dan kandidat Kongres, Carlos Lacerda pada awal bulan Agustus 1954. Lacerda merupakan seorang pengkritik sengit rezim Vargas.

Dia terluka di kaki dalam serangan pada 5 Agustus dan seorang perwira angkatan udara tewas sehingga memicu kemarahan di kalangan militer Brasil. Pelaku kemudian ditangkap dan mengaku bahwa salah satu pembunuh perwira adalah pengawal presiden.

Presiden Vargas merebut kekuasaan dalam revolusi 1930 dan membubarkan parlemen tujuh tahun kemudian serta melarang semua partai politik dan serikat buruh. Dia menyensor pers dan menekan semua oposisi.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, presiden tunduk pada tuntutan rakyat akan demokrasi yang lebih besar dan dipaksa mundur oleh tentara. Presiden Dutra terpilih. Namun pada Oktober 1950, Vargas, yang kala itu pemimpin Partai Buruh Brasil, terpilih kembali menjadi presiden.


Tiga tahun kemudian, ekonomi Brasil yang dulu berkembang pesat dipenuhi dengan hutang luar negeri hingga 1.000 juta dolar AS. Kenaikan gaji tidak dapat mengimbangi kenaikan harga dan ada spekulasi bahwa rezim Vargas terlibat dalam korupsi dan kesepakatan bisnis yang meragukan.


Terlepas dari ketidakpuasan yang meluas terhadap Presiden Vargas, catatan kematian dan bunuh dirinya memicu gelombang emosi. Ribuan orang menghadiri pemakamannya di tempat kelahirannya di Sao Borja dan terjadi kerusuhan di ibu kota Rio de Janeiro, yang segera dipadamkan oleh angkatan bersenjata.


Wakil presiden Joao Cafe Filho mengambil alih sebagai kepala negara. Pemilihan berlangsung pada 1955 dan Juscelino Kubitschek diproklamasikan sebagai presiden pada tahun 1956. Ia membantu Brasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang pesat dan memindahkan ibu kota ke Brasilia sebagai bagian dari gerakan untuk mengembangkan pedalaman.


Ekonomi Brasil memiliki sejarah dengan upaya pembangunannya terhambat di masa lalu oleh inflasi yang tinggi dan salah satu hutang luar negeri terbesar di dunia. Hal itu harus diselamatkan pada saat krisis, tetapi reformasi ekonomi pada tahun 1990-an membawa stabilitas keuangan negara.  Reformasi termasuk privatisasi dan pembukaan pasarnya.


Pemerintah berada di bawah tekanan untuk memperbaiki apa yang dikatakan beberapa orang sebagai salah satu distribusi kekayaan yang paling tidak adil di dunia. Sebagian besar tanah subur di negara itu dikendalikan oleh segelintir keluarga kaya, dan Gerakan Pekerja Pedesaan Tanpa Tanah (MST) menuntut redistribusi tanah.


n ferginadira

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA