Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Ke Yerusalem lewat Dubai atau Abu Dhabi

Senin 24 Aug 2020 05:12 WIB

Red: Joko Sadewo

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
Apakah normalisasi UEA-Israel akan membantu kemerdekaan Palestina?.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Coba Anda tebak, kata apa yang paling banyak dicari secara online oleh warga Uni Emirat Arab (UEA), setelah kesepakatan normalisasi hubungan negara itu dengan Israel diumumkan pada 13 Agustus lalu?

“Itu adalah hotel di Israel. Banyak orang tidak sabar untuk berkunjung (ke Israel),” ujar seorang pejabat UEA seperti dikutip beberapa media internasional.

Ya, pariwisata dan dunia penerbangan bisa jadi potensi yang bisa mendatangkan keuntungan dari normalisasi hubungan UEA-Israel. Bukan hanya warga Emirat, namun juga umat Islam dari seluruh dunia yang ingin berkunjung ke Yerusalem. Tepatnya Masjid al Aqsa, kiblat pertama dan tempat suci ketiga umat Islam.

Dengan adanya hubungan bilateral UEA-Israel, umat Islam dari negara-negara yang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, bisa berkunjung ke Yerusalem melalui UEA. Selama ini, mereka berziarah ke Masjid al Aqsa lewat Yordania,  dengan seleksi dan proses ketat. Abu Dhabi dan Dubai, yang merupakan bandara hub internasional UEA, tentu akan lebih menarik.

Sejak UEA dan Israel mencapai kesepakatan bersejarah, berbagai agenda dikebut untuk segera direalisasikan. Tiga hari setelah pengumuman normalisasi, UEA dan Israel membuka sambungan langsung jaringan telepon antara antarnegara, baik telepon seluler maupun kabel.

Kedua negara, seperti dikatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, juga sedang mempersiapkan penerbangan langsung dari Bandara Internasional Ben Gurion ke Dubai dan Abu Dhabi, serta sebaliknya. Pesawat itu nanti akan terbang melintasi langit Arab Saudi. Waktu penerbangan sekitar tiga jam. “Seperti penerbangan dari Tel Aviv ke Roma,” ujar Netanyahu, 17 Agustus lalu.

Netanyahu yakin Saudi akan mengizinkan penerbangan itu, meskipun selama ini negara tersebut tidak mengakui Israel dan ruang udaranya tertutup bagi pesawat Israel. Ia melihat ada pertanda hubungan yang lebih hangat dengan Riyadh akhir-akhir ini. Salah satunya ketika Air India diizinkan pada 2018 untuk mulai terbang di atas wilayah Saudi dengan rute New Delhi-Tel Aviv dan sebaliknya.

Delegasi Israel dan Emirat dalam beberapa pekan ini terus menggelar pertemuan untuk mempersiapkan materi penjanjian bilateral dalam banyak bidang. Selain pariwisata dan penerbangan tadi, perjanjian itu juga akan meliputi kerja sama investasi, keamanan, telekomunikasi, perdagangan, intelijen, teknologi, dan masih banyak lagi.

Atau dalam bahasa Netanyahu ‘tremendous scope for bilateral tourism and gigantic scope for investment with the UAE’. Dengan kata lain, normalisasi hubungan diplomatik kedua negara akan membuat Israel dan UEA lebih hebat.

Pertanyaan besarnya, apakah normalisasi hubungan UEA-Israel akan menghadirkan perdamaian di Timur Tengah, seperti ditegaskan Presiden Amerika Donald Trump? Apakah perjanjian damai UEA-Israel ini juga akan membantu mewujudkan negara Palestina Merdeka?

Thomas Friedman, kolomnis di The New York Times menyebut normalisasi hubungan UEA-Israel sebagai “gempa geopolitik yang menghantam kawasan Timur Tengah” — It’s a geopolitical earthquake! Ia pun setuju dengan istilah Presiden Trump yang mengatakan normalisasi itu sebagai “terobosan BESAR” -- a “HUGE breakthrough”.

Menurut Friedman, normalisasi hubungan UEA-Israel kali ini tidak sama dengan kunjungan Presiden Mesir Anwar Sadat ke Yerusalem pada 1977. Juga tidak sama dengan jabat tangan Presiden Palestina Yasir Arafat dengan Yitzhak Rabin pada 1993. Ia adalah keduanya. Ia akan mempengaruhi semua kekuatan besar yang bermain di Timur Tengah.

Friedman menyatakan, perjanjian UEA-Israel ini akan memberi angin segar yang  menguntungkan bagi mereka yang pro-Amerika, pro-Islam moderat, dan pro-mengakhiri konflik dengan Israel. Pada waktu yang sama, normalisasi itu akan semakin mengucilkan kubu radikal pro-Iran, anti-Amerika, pro-Islamis yang melawan Israel.

Pandangan Friedman yang seolah membagi kawasan Timur Tengah menjadi dua kelompok tentu sangat menyedernahanakan persoalan, terutama yang menyangkut nasib bangsa Palestina. Persoalan mereka bukan konflik dengan Israel. Persoalan mereka adalah ketidakadilan dan pendudukan (penjajahan) Israel atas wilayah-wilayah Palestina.

Coba simak rancangan Presiden Trump tentang perdamaian Israel-Palestina. Rancangan yang diotaki  Jared Kushner, menantu sekaligus penasihat senior Trump,  memberi kewenangan kepada Israel untuk mencaplok 30 persen Tepi Barat, wilayah yang kini menjadi pemukiman Yahudi. Sementara itu, Palestina bisa mendirikan negara di wilayah sisanya, yaitu 70 persen Tepi Barat, dengan beberapa pertukaran tanah dengan Israel. Negara Palestina itu pun, bila berdiri, harus dilucuti dari segala persenjataan alias demiliterisasi. Sedangkan Yerusalem merupakan ibukota Israel yang satu dan tidak terpisahkan.

Normalisasi Hubungan Israel-UEA yang difasilitasi Presiden Trump memang menyatakan penundaan pencaplokan 30 persen Tepi Barat oleh Israel.  Catat, ‘penundaan’ dan bukan ‘pembatalan’. Kata PM Netanyahu, bila kondisinya sudah kondusif, Israel akan merealisasikan pencaplokan 30 persen Tepi Barat.

Arab Saudi, yang dikenal dekat dengan Amerika dan diharapkan oleh Presiden Trump bisa segera bergabung dengan UEA untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, tampak lebih hati-hati. Salah langkah akan bisa merusak citra mereka sebagai pemimpin dunia Islam. Apalagi rajanya berjuluk Khadimu al Haramain (Pelayan Dua Tempat Suci).

Negara terbesar di Teluk itu tetap berpegang pada Inisiatif Perdamaian Arab tahun 2002 yang diprakarsainya. Yaitu, solusi dua negara, dengan Israel harus menarik penuh dari semua wilayah Palestina yang mereka duduki sejak perang tahun 1967. Kompensasinya, perdamaian dan normalisasi penuh hubungan dengan Israel.

Namun, sebagai mitra strategis dengan UEA dalam poros persaingan geopolitik di Timur Tengah, Saudi menanggapi positif normalisasi hubungan diplomatik UEA-Israel, dengan kompensasi penangguhan aneksasi Tepi Barat. ‘’Segala upaya yang dapat menahan ancaman aneksasi dapat dipandang positif,’’ kata Menlu Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.

Arab Saudi dan UEA selama ini berada dalam satu berisan melawan pengaruh poros Iran-Turki-Qatar. Termasuk di dalamnya kelompok-kelompok yang mereka sebut sebagai Islam Politik yang diwakili Ikhwanul Muslimin, yang kini tersebar di berbagai negara di Timur Tengah.

Poros Iran-Turki-Qatar plus para pemimpin Palestina sendiri langsung mengecam keras normalisasi hubungan UEA-Israel. Mereka menyebut para pemimpin UEA “telah berkhianat, menusuk bangsa Palestina dari belakang, memalukan”, dan seterusnya. Mereka juga menuntut agar UEA tidak lagi bicara atas nama bangsa Palestina.

Bagi UEA, Arab Saudi, dan negara-negara yang sekubu dengan mereka telah lama menganggap poros Iran-Turki-Qatar sebagai ancaman, lebih berbahaya daripada Israel. Dua kubu saling berebut pengaruh di banyak tempat: di Libia, Yaman, Suriah, Irak, Lebanon, Palestina, dan seterusnya.

Kini, dengan perjanjian normalisasi hubungan UEA-Israel, seperti ditulis Friedman, ada pesan tersirat yang dikirim dari UEA ke Iran: ‘Sekarang kami memiliki Israel yang berdiri di sisi kami, jadi jangan menggertak kami’.

Jadi, normalisasi itu untuk siapa?

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA