Sabtu 22 Aug 2020 13:05 WIB

Kekeringan di Jasinga Jadi Ancaman Baru

Warga mengaku lebih memilih mengambil air di sumur yang disiapkan desa.

Rep: Rahayu Marini Hakim/ Red: Bilal Ramadhan
Kolam yang kekeringan di musim kemarau (ilustrasi).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Kolam yang kekeringan di musim kemarau (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Kekeringan yang terjadi di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor sudah terjadi setiap tahun. Masyarakat yang mengandalkan sumur untuk kebutuhan air setiap hari harus beralih ketika kemarau panjang datang.

Memasuki pertengahan bulan Agustus salah satu warga, Ikah (43 tahun) menyebut tempat tinggalnya di kampung Kebon Panas, Desa Jasinga memang selalu mengalami kekeringan jika memasuki bulan kemarau.

“Biasanya memang kekeringan air kalau kemarau panjang, tapi alhamdulilahnya masih ada ujan seminggu ini jadi masih ada air,” tutur Ikah kepada Republika, Jumat (21/8).

Untuk mengatasi kebutuhan air jika kemarau datang, ia mengaku lebih memilih mengambil air dari sungai di dekat rumahnya. “Bantuannya ada pengeboran sumur dari desa, tapi lokasinya dari rumah saya lumayan jauh jadinya lebih milih ambil air di sungai Cidurian,” ujar dia.

Berbeda dengan Ikah, Hairul Anwar (27 tahun) mengaku lebih memilih mengambil air di sumur yang disiapkan desa jika kemarau datang. Pria yang tinggal di Koleang desa Jasinga ini bahkan mengaku sangat terbantu dengan fasilitas tersebut.

“Dulu kalau sumur di satu desa kering akan merembet ke desa lain, awalnya pasti dari kampung Kebon panas soalnya dia diatas, tapi sejak 2016 kalau enggak salah disediakan kamar mandi umum yang airnya di pengeboran dari desa. Jadi ambil dari situ, kebantu banget,” kata dia.

Ia menambahkan permasalahan air memang sudah menjadi masalah setiap tahun di Kecamatan yang identik dengan hewan singa ini. “Di sini kalau kemarau panjang biasanya hampir semua kampung kering, tapi sekarang belum keliatan, soalnya masih hujan. Insya allah jangan kering,” ujar dia.

Salah satu staf bagian pemerintahan Desa Jasinga, Hidayat (51 tahun) menjelaskan desa telah membuat program sumur dengan penggaliannya dengan bor. Sebanyak 14 titik sudah dibangun untuk membantu masyarakat sekitar.

“Jadi tahun 2016 sampai 2017 sudah dilakukan bantuan pengeboran sumur dari dana desa untuk warga terdampak sebanyak 14 titik. Alhamdulilah ketika kemarau datang bisa membantu permasalahan air yang setiap tahun terjadi ini,” kata Hidayat.

Permasalahan air ini juga menjadi pekerjaan yang langsung di hadapi camat baru Hidayat Saputradinata. Baru dilantik enam hari yang lalu, ia mengaku masih memantau setiap desa terkait masalah tersebut.

“Sekarang kita belum ada data pasti desa yang kekeringan, karena kita baru masuk nanti Senin. Memang ada beberapa desa tapi kita belum pastikan yang dimananya, yang pasti kita akan diskusi dengan PDAM Tenjo atau dengan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk bantuan,” kata dia.

Ia menambahkan, bantuan akan segera datang begitu ada laporan. “Seperti tahun sebelumnya, kalau Jasinga kekeringan pasti ada bantuan dari PDAM sekitar. Pasti jika ada laporan kekeringan bantuan akan segera datang,” kata dia.

Hasil pantuan Republika, dari dua desa yakni Desa Sipak dan Jasinga belum terjadi kekeringan parah. Hal ini karna masih terjadinya hujan seminggu terakhir.

Seperti pada sumur di Kampung Kebun Panas, Desa Jasinga air masih terdapat di sumur pemukiman. Pada desa Sipak, warga juga mengaku masih memiliki persedian air walaupun tidak banyak.

Sebelumnya Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bogor, Joko Pitoyo menyebutkan musim kemarau tahun ini tak separah tahun lalu. Pasalnya, berdasarkan kajian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tahun ini Kabupaten Bogor dihadapkan dengan kemarau basah, atau kemarau yang masih diselingi hujan.

Hasil prediksi yang ia terima dari BMKG, puncak musim kemarau tahun ini di Kabupaten Bogor akan berlangsung pada bulan September.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement