Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Kisah Perjalanan Insan Mokoginta Menjadi Mualaf

Sabtu 22 Aug 2020 05:00 WIB

Red: Muhammad Hafil

Kisah Perjalanan Insan Mokoginta Menjadi Mualaf. Foto ilustrasi: Ketua Gerakan Ibu Negeri (GIN) Neno Warisman (kiri) memberikan penghargaan kepada Ustad Fadlan Garamatan (tengah), dan Insan Mokoginta (kanan) saat acara Penghargaan Ayah Pejuang 2017, Jakarta, Jumat (20/1)

Kisah Perjalanan Insan Mokoginta Menjadi Mualaf. Foto ilustrasi: Ketua Gerakan Ibu Negeri (GIN) Neno Warisman (kiri) memberikan penghargaan kepada Ustad Fadlan Garamatan (tengah), dan Insan Mokoginta (kanan) saat acara Penghargaan Ayah Pejuang 2017, Jakarta, Jumat (20/1)

Foto: Republika/ Yasin Habibi
Insan Mokoginta menjadi mualaf setelah merantau ke Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ustadz Insan Mokoginta, Kamis (20/8), meninggal dunia. Almarhum dikenal merupakan seorang mualaf yang juga seorang kristolog.

Almarhum Ustadz Insan Mokoginta juga dikenal sebagai tokoh yang membimbing mualaf. Di antara publik figur yang mendapat bimbingan mualaf dari Ustadz Insan Mokoginta adalah artis Roger Danuarta.

Baca Juga

Seperti apa perjalanan almarhum Ustadz Insan Mokoginta hingga menjadi mualaf? Republika pernah memuat kisah perjalanannya menjadi mualaf dan dimuat di Harian Republika pada 29 Januari 2012 lalu.

Memiliki orang tua Muslim ternyata tak menjadikan Insan Latif Syaukani Mokoginta memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Kebebasan beragama yang diberikan kedua orang tuanya justru menjadikannya seorang Katolik.

Alih-alih mewarisi keislaman orang tuanya, pelajaran tentang indahnya Islam justru didapatkan Mokoginta dari sebuah keluarga yang dikenalnya saat merantau ke Jakarta. Kepada Republika, pria kelahiran 8 September 1949 ini menceritakan perjalanannya menemukan dan mempelajari Islam.

“Ayahku adalah seorang non-Muslim dari etnis China yang masuk Islam saat menikahi ibuku,” ujarnya mengawali cerita. Karena itu, praktis Mokoginta terlahir dari kedua orang tua yang beragama Islam. Namun, karena keduanya beranggapan semua agama sama dan benar, ia dan tujuh saudaranya disekolahkan di sekolah Katolik.

Pendidikan dan lingkungan sekolah menjadikan Mokoginta dan saudara-saudaranya pemeluk Katolik. Hingga pada satu masa, tahun 1976, Mokoginta merantau ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Perantauannya itu tak hanya membawanya menjadi seorang pebisnis, tapi juga seorang pengikut Yesus yang mencintai Muhammad SAW.

Ia berkenalan dengan sebuah keluarga Muslim yang menjadi mitra bisnisnya di Jakarta, dan tinggal tak jauh dari mereka. Di sana, lingkungan kembali menjadi guru bagi Mokoginta. “Mereka adalah keluarga yang Islami. Bersama mereka, aku merasakan kehidupan beragama yang harmonis,” kata pria kelahiran Kotamobagu, Sulawesi Utara ini.

Tak perlu waktu lama untuk membuat Mokoginta tertarik pada Islam. Diam-diam, ia mulai membuat penilaian tentang agama itu, dan mulai merasakan kebenarannya. Baginya, ajaran Islam sangat memperhatikan persoalan akidah dan akhlak, sesuatu yang tidak pernah diajarkan secara khusus dalam agamanya.

“Islam mengatur semuanya dengan Alquran dan Sunah Rasulullah, termasuk segala sisi kehidupan beragama. Sedangkan ajaran ‘kasih’ yang selalu dide ngung-dengungkan dalam Kristen tidak kurasakan,” katanya. Semakin jauh mengenal Islam, Mokoginta mulai merasakan ketidakberesan dalam keimanannya. “Alhamdulillah, hijrahku ke Jakarta adalah kehendak Allah SWT.”

Empat tahun bermitra dan bergaul dengan keluarga Muslim itu, Moko ginta tak pernah sekalipun dipaksa atau bahkan didorong untuk masuk Islam. Namun selama itu, diam-diam ia mempelajari Islam dan memban dingkannya dengan ajaran Alkitab.

Tahun 1980, hidayah Allah yang melingkupi hati Mokoginta selama hampir empat tahun berbuah syahadat. Mokoginta berislam setelah melihat bahwa justru umat Islamlah yang mengamalkan ajaran agamanya. “Muslimlah pengikut Yesus dalam arti yang sesungguhnya, karena merekalah yang mengamalkan ajaran Yesus (Nabi Isa AS),” ujarnya.

Mokoginta mencontohkan, banyak di antara perintah Yesus tidak ia amalkan selama menjadi pemeluk Katolik. “Allah mengharamkan babi, tapi kami memakannya. Allah berfirman bahwa Dia itu esa, tapi kami menjadikan-Nya trinitas. Yesus dikhitan sedang kan kami tak wajib berkhitan. Yesus bersabda ia Nabi utusan Allah, tapi kami jadikan ia Tuhan. Yesus me nyuruh menyembah Allah, tapi justru Yesus yang kami sembah setiap hari,” urainya. “Ternyata semua perintah Allah dan ajaran Yesus itu, umat Islamlah yang mengamalkan,” sambungnya.

Ia kemudian menyimpulkan bahwa berislam adalah satu-satu nya jalan untuk bisa mengamalkan semua ajaran Yesus. “Jika aku tetap dalam Kristen, setiap hari aku akan mengkhianati ajaran Allah dan Yesus.” Terlebih, tambahnya, dalam sabdanya, Yesus menyebut dirinya sebagai utusan bagi Bani Israel, bukan untuk seluruh umat. “Yesus juga berkata bahwa akan datang setelahnya Nabi bernama Ahmad atau Muhammad. Dialah Nabi akhir zaman yang diutus untuk menyempurnakan agama bagi umat manusia.” 


Berjuang sebagai Perisai Islam

Mokoginta kemudian nyantri pada beberapa ustadz dan mempelajari Islam secara otodidak, Mokoginta pun dikenal sebagai dai serta pembicara Kristologi di berbagai forum dan majelis. Bahkan, undangan juga datang dari luar negeri.

Tak sekadar tampil menyampaikan ajaran dan pesan Islam, Mokoginta aktif menjawab dan mendebat hujatan kaum non-Muslim terhadap Islam. Sanggahan juga ia sampaikan me lalui tulisan yang dibukukan. Tidak kurang dari 40 buku sanggahan telah ditulisnya. Bebe rapa bahkan dicetak ulang hingga beberapa kali.

Untuk semua sanggahannya, Mokoginta mengaku cukup bersenjatakan Alquran. “Cara membuktikan kebenaran Islam adalah dengan mempertandingkan Alquran dengan Bibel,” ujarnya yakin. Menurutnya, Alquran adalah mukjizat yang menjadi bukti dari semua kebenaran Islam. “Allah sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada keraguan di dalamnya.”

Ia menambahkan, kebenaran isi Alquran adalah bukti keajaibannya. “Semakin didalami, kebenarannya akan semakin jelas terhampar. Karena itu, siapa pun boleh mengkritisi Alquran, asal dengan ilmu dan argumen serta dalil yang benar,” kata pria yang pernah menjadi guru bahasa Inggris ini.

Kini, Mokoginta bangga menjadi Muslim, bukan karena kiprahnya sebagai dai, melain kan karena kebenaran yang dipeluknya. “Dengan berislam, aku mengimani Nabi Muhammad SAW tanpa kehilangan Yesus,” kata peraih Mualaf Award pada 2006, 2007, 2010, dan 2011 ini. 

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA