Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Kenapa Anak Kena Covid Alami Sindrom Peradangan Multisistem?

Jumat 21 Aug 2020 15:21 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Ruam pada anak positif Covid-19 disebut sebagai bagian dari sindrom peradangan multisistem.

Ruam pada anak positif Covid-19 disebut sebagai bagian dari sindrom peradangan multisistem.

Foto: Newsflash / Consejo Jenderal De Colegios Ofic
Peradangan multisistem pada anak positif Covid diidentifikasi sebagai sindrom baru.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Para ilmuwan mengungkapkan adanya perubahan sistem kekebalan tubuh anak-anak dengan penyakit terkait infeksi virus corona jenis baru (Covid-19) yang dapat menyebabkan peradangan parah dan kerusakan jantung. Temuan dalam studi ini mengarah pada perawatan yang lebih baik untuk pasien usia termuda selama pandemi ini.

Menurut para peneliti yang salah satunya berasal dari King's College London di Inggris, penyakit langka, yang disebut sindrom peradangan multisistem pediatrik (PIMS-TS), telah muncul pada sebagian kecil anak selama pandemi Covid-19. Dalam studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, mereka mencatat bahwa kondisi tersebut menyebabkan peradangan parah pada pembuluh darah dan dapat menyebabkan kerusakan jantung.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis sampel darah dari 25 anak yang dites positif terinfeksi virus corona baru dan memiliki PIMS-TS serta gejala Covid-19. Mereka juga menilai sampel darah dari anak-anak yang telah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang dites positif atau yang orang tuanya adalah petugas kesehatan.

Menurut penelitian, sampel diambil dan diuji pada berbagai tahap penyakit, dari fase akut ketika anak-anak pertama kali dirawat di rumah sakit hingga saat rawat jalan. Para peneliti kemudian membandingkan hasil ini dengan tujuh anak yang sehat dalam rentang usia yang sama.

Temuan tersebut mengungkapkan bahwa pada tahap akut PIMS-TS, anak-anak telah meningkatkan kadar molekul pensinyalan sel-sel tubuh yang disebut sitokin. Di saat bersamaan, tubuhnya mengurangi kadar sel darah putih sistem kekebalan yang disebut limfosit. Pada saat anak-anak pulih, perubahan sistem kekebalan berangsur-angsur kembali normal.

Meski jumlah anak dalam penelitian itu kecil, para peneliti mengatakan ini adalah bukti pertama tentang peran sistem kekebalan dalam penyakit tersebut. Mereka percaya itu memberikan bukti penting untuk penelitian di masa depan dan akan menunjukkan perawatan apa yang dapat membantu pasien dengan kondisi tersebut.

Laporan awal sindrom tersebut dari pertengahan April menunjukkan bahwa kondisinya mungkin mirip dengan kondisi peradangan yang ada seperti penyakit Kawasaki. Namun, penelitian saat ini, menurut para ilmuwan, menegaskan bahwa PIMS-TS memengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda dengan kondisi lain yang diketahui dan telah diidentifikasi sebagai sindrom baru.

"PIMS-TS adalah sindrom baru. Penelitian kami memungkinkan kami untuk memberikan deskripsi pertama tentang perubahan sistem kekebalan yang mendalam pada anak-anak yang sakit parah dengan penyakit baru ini," kata rekan penulis studi Manu Shankar-Hari dari King's College London, dilansir Times Now News, Jumat (21/8).


Shankar-Hari mengatakan perubahan kekebalan ini kompleks. Sel-sel bawaan, atau dikenal sebagai respons cepat telah diaktifkan. Menurutnya, limfosit, jenis sel darah putih tertentu yang terlibat dalam kekebalan pelindung tertentu habis, kemudian tampaknya dengan aktif melawan infeksi pada pasien dengan sindrom tersebut.


"Secara klinis, anak-anak ini menanggapi pengobatan yang menenangkan sistem kekebalan seperti kortikosteroid dan imunoglobulin. Meski ada kesamaan dengan kondisi yang ada seperti Kawasaki, perubahan klinis dan imunologis yang kami amati ini menyiratkan bahwa PIMS-TS adalah penyakit berbeda yang terkait dengan penyakit Kawasaki,” jelas Shankar-Hari.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA