Jumat 21 Aug 2020 14:13 WIB

Will Power Perjuangan dalam Pendidikan di Walesi

Semangat dan motivasi yang luar biasa tampak jelas dari anak-anak muda ini.

Suasana belajar mengajar kelas 1 di SD Athahiriyah Yapis Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (27/7). Setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1436 H, kini siswa-siswi telah memasuki masa aktif ajaran baru 2015-2016.
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Suasana belajar mengajar kelas 1 di SD Athahiriyah Yapis Walesi, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (27/7). Setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1436 H, kini siswa-siswi telah memasuki masa aktif ajaran baru 2015-2016.

Oleh Dr. Sarmini, S.Pd.,MM.Pd (Direktur Sekolah Islam Nabilah, Batam, Dosen Universitas Batam, Dosen Universitas Ibnu Sina Batam)

REPUBLIKA.CO.ID,Masih dalam memaknai kemerdekaan, pemuda, perjuangan dan pendidikan, adalah tiga kata yang sangat erat korelasinya. Karena tiga  kata tersebut merupakan sebuah deskripsi kuat ketika kita bicara pada Agustus ini, yang merupakan bulan Kemedekaan Indonesia ke-75. Dan kita akan belajar banyak dari anak-anak muda Walesi yang merupakan perantau di Batam.

Mereka adalah tamu istimewa, anak-anak muda asal Distrik Walesi dari kampung  Assoyelipele. Mereka adalah tujuh anak muda, 3 laki-laki dan 4 anak perempuan. Yang sudah selama 3 tahun ini menjadi anak rantau di Pulau Batam dan mengenyam pendidikan di SMA Islam Nabilah, Batam, yaitu Hasanah Asso, Khotijah Asso, Ero Yelipele, dan Hatiq Yelipele, sedangkan  Ikhsan Lani yang tahun ini sudah berhasil lulus dari  Sekolah Penerbangan/Dirgantara Batam, serta Rahim Lani dan Sewelekma yang juga sudah lulus dari Sekolah Pelayaran di Batam. Berbicara asal mereka dari Walesi, di mana Walesi itu  ? 

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayawijaya tahun 2019,  Distrik Walesi terletak antara 138.90129 – 138.9415 Bujur Timur dan 4.125 – 4.149 Lintang Selatan. Distrik Walesi merupakan distrik yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 1.850 mdpl. Distrik Walesi memiliki luas 366.93 km2 atau sekitar 4,32 persen dari luas wilayah Kabupaten Jayawijaya. Distrik Walesi merupakan distrik pemekaran dari Distrik Asolokobal. Distrik Walesi memiliki tujuh kampung. Distrik ini berada pada ketinggian sekitar 1679-20196 mdpl sehingga berhawa sejuk dengan kampung yang berada pada ketinggian terendah diantara kampungkampung lainnya di Distrik Walesi dengan ketinggiannya yang hanya 1.679 mdpl adalah Kampung Yagara. 

Masih berdasarkan Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Jayawijaya tahun 2019 Distrik Walesi pada tahun 2018 merupakan Distrik yang memiliki jumlah penduduk sebesar 2.824. Agama yang ada di sana 62% Katolik, 20% Islam, 18% protestan.

Penduduk Muslim Papua  di Lembah Baliem berkonsentrasi di Distrik Walesi. Pada lokasi itu terdapat sebuah masjid dan pesantren. Anak-anak yang  berada di dalam pesantren kebanyakan berasal dari daerah pegunungan Papua. Ada yang sengaja dititipkan oleh orangtua untuk menimba ilmu, ada juga anak-anak yang tak mengenal orangtuanya sekali pun. Walau begitu, kehidupan di Walesi sangat kental dengan kekerabatan antar agama.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Jayawijaya maka di Distrik Walesi pada tahun 2018 memiliki tiga sekolah yang terdiri dari 2 sekolah dasar, dan 1 sekolah menengah pertama. Sekolah dasar tersebut satu berupa YPPK dan satunya berupa MI (Madrasah Ibtidaiyah). sedangkan sekolah menengah pertama di distrik ini berupa MTs (Madrasah Tsanawiyah). Dan dikarenakan di Walesi tidak ada Sekolah Menengah Atas maka yang mau melanjutkan pendidikannya pasti harus keluar daerah, atau bahkan keluar pulau.

Anak-anak muda perantau asal Walesi ini luar biasa. Berbicara banyak tentang arti pendidikan, semangat perjuangan hidup dan berbicara tentang cita-cita dengan sangat fasih, sangat berbeda dengan saat kedatangan mereka pertama kali di bumi Melayu, khususnya tempat mereka tinggal dan mencari ilmu saat ini, yaitu Batam. Yang saat itu tahun 2018 diantar dan didampingi ibu asuhnya sekaligus gurunya yaitu Ibu Anggi Fatimah Siregar. Di mana Ibu Anggi sudah menjadi guru di walesi selama sekitar 3 tahun, dan akhirnya menjadi fasilitator anak-anak tersebut melanjutkan pendidikannya di Batam, tempat tinggal Ibu Anggi.

Ibu Anggita  Fatimah Siregar sendiri juga luar biasa sebagai seorang yang memperjuangkan kelangsungan proses pembelajaran mereka agar tidak terputus sekolah anak-anak ini. Beliau sering mengkomunikasikan berkaitan dengan dana pendidikan anak-anak dengan sekolah, instansi atau lembaga-lembaga amil zakat. Perjuangan yang tidak mudah tentunya. Karena tidak semua sekolah mampu dan bersedia memberikan beasiswa terhadap anak-anak tersebut. Beruntung 4 anak yang bersekolah di SMA Islam Nabilah mendapatkan beasiswa sehingga mereka dapat nyaman menyelesaikan pendidikannya hingga lulus. Sehingga hal tersebut dapat meringankan beban ibu asuhnya.

Berbicara tentang pendidikan, anak-anak muda Walesi ini sangat antusias. Setelah lulus tahun ini dari jenjang Sekolah Menengah Atas dan sebagian Sekolah Menengah Kejuruan, mereka bertekad ingin terus melanjutkan di jenjang Perguruan Tinggi dan akhirnya mereka diterima di Kampus Abdullah Sahid Batam, dengan jurusan S1 Bahasa Arab, kemudian di Institut Kesehatan Harapan Bunda, S1 Jurusan Ahli Gizi, lalu di Stikes Awal Bross, S1 jurusan Keperawatan, serta 2 diantaranya masih melanjutkan perjuangannya masuk ke Politeknik Batam. Sementara Hatiq masih harus melanjutkan naik ke kelas 3 di SMA Islam Nabilah Batam. 

Diharapkan pendidikan anak-anak ini dapat berkesinambungan, dan lancar hingga lulus, hal ini dikarenakan pasti dana yang dibutuhkan anak-anak di perguruan Tinggi jauh lebih banyak lagi dan ibu asuhnya, yaitu ibu Anggi terus berjuang mendapatkan beasiswa dari berbagai lembaga. 

Berbicara tentang pendidikan dan perjuangan mereka ketika melewati banyak tantangan, semangat dan motivasi yang luar biasa tampak jelas dari anak-anak muda ini. Karakter masyarakat Walesi yang terkenal dengan semangat juangnya yang luar biasa mereka bawa hingga dalam perjuangan di rantau. Mendapatkan ilmu dengan banyak keterbatasan dana, tantangan tentang bahasa yang pada saat itu anak-anak Walesi ini belum dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar ( sesuai kreteria tata bahasa Indonesia ) karena sering terbalik-balik susuanan pola kalimatnya bila berbicara, tidak dijadikan sebagai halangan mereka meraih prestasi. 

Kekuatan meraka juga sangat nampak pada nilai keagamaan mereka yang kuat dalam beribadah, sholat , mengaji, dan hafalan, sehingga ini menjadi modal yang luar biasa dalam perjuangan menggapai pendidikan mereka.

Pendidikan menurut mereka mutlak harus dicapainya. Mereka mempunyai motto tidak akan pulang tanpa dibawa kesuksesan di tangan mereka. Wawasan yang luas mereka dapatkan dari belajar yang tekun di sekolah ataupun di rumah, dengan didikan yang sangat disiplin dari ibu asuhnya.

Anak –anak muda seperti mereka  memiliki WillPower yang seharusnya dimiliki setiap anak muda saat ini. Mereka  mengasah bakat dan kreativitas, membuang sifat malas, berjiwa sosial tinggi , menjadi pekerja keras dan disiplin, dan tidak membuat keributan , karena waktu mereka habis untuk memperbaiki dan mengevaluasi diri sehingga orientasi masa depan. Harapan akan masa depan yang cemerlang.

Snyder (1994) mendefinisikan harapan sebagai “mental willpower plus waypower for goals”. Willpower, in this definition is “the driving force to hopeful thinking”. It is a sense of mental energy that helps move a person toward a goal. Waypower, the second component in the hope equation, is the mental capacity used to find a way to reach your goals. It reflects the mental plans or road maps that guide hopeful thought”.

Komponen harapan dari Snyder (1994) terdiri dari 3 komponen, yaitu tujuan (goals), willpower dan waypower.

  1. Tujuan (goals) dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang menjadi target atau titik akhir dari urutan aktivitas mental.
  2. Willpower mengarah pada motivasi yang diperlukan untuk memulai dan mempertahankan langkah menuju tujuan. Menurut Braithwaite (2004), willpower merupakan persepsi diri yang dapat digunakan sepanjang jalan untuk mencapai tujuan. Memiliki willpower bermanfaat untuk memulai sesuatu dan mempertahankan ketekunan dalam perjalanan mencapai tujuan.
  3. Waypower merupakan langkah atau jalan menuju tujuan yang diinginkan, diperlukan untuk mencapai tujuan dan mengarahkan individu jika menjumpai halangan.

Mengapa anak-anak muda harus mempunyai willpower ?  daerah mereka asal menunggu mereka kembali dengan kesusksesan di tangan dan membutuhkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, anak-anak muda punya waktu dan energi yang besar, anak muda punya kesempatan sukses yang besar, problem kecil dan besar bisa dihadapi dengan kemauan bergerak solutif.

Dapat disimpulkan bahwaharapan adalah kombinasi atau perpaduan antara mental willpower  dan waypower yang berfungsi untuk mencapai tujuan atau target yang telah ditetapkan oleh seseorang. 

Sebagai Goal Target mereka adalah memajukan pendidikan anak-anak Walesi, Wamena, dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan daerahnya. Sedangkan untuk willpower mereka, adalah kecintaan meraka terhadap kampung dan distriknya tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan, serta ijin dari orang tua mereka untuk melanjutkan pendidikan di luar daerahnya dan akan membawa pulang kesuksesan dan mereka menerapkan waypower dengan terus berjuang dengan keterbatasan yang ada serta kedala-kendala di lapangan sebagai tantangan yang harus mereka dapatkan solusinya agar dapat mewujudkan impiannya membangun daerahnya, baik kendala mengalahkan rasa takut naik pesawat, rasa sedih meninggalkan orang tua, kendala keterbatasan finansial, lingkungan sekolah dan pergaulan, kendala bahasa awal, dan lainnya yang merupakan tantangan yang akhirnya membuat mereka mempunyai kecerdasan adversity yang tinggi, kecerdasan daya juang/ketahanmalangan yang sudah menjadi karakter mereka dari kecil.

Putra daerah terbaik yang digadang-gadang dapat memberikan kontribusi positif dan dapat membangaun daerahnya bila purna tugas di pendidikannya maka pengabdian kepada masyarakat di daerahnya menunggu. 

Mereka tidak dapat berharap terus menerus kepada para pendatang yang bukan asli putra daerah untuk memebangun daerahnya, Walesai. Dan tidak bisa terus menerus berharap pemerintah untuk menuntaskan kemajuan daerahnya, maka di sinilah dibutuhkan peran anak-anak muda seperti meraka. 

Lingkungan yang baik sudah mereka dapatkan selama di rantau, masyarakat serta sekolah dan tempat mereka tinggal, sangat mendukung harapan mereka agar tercapai. Tinggal menjalani perjuangan dan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi yang harus mereka tuntaskan. hIngga mereka kembali dengan kesuskesan dan membangun daerah tercinta, Walesi khususnya dan Wamena, serta Papua pada umumnya. Menjadi harapan daerah merupakan tugas dan amanah mulia, yang mereka sandang saat ini. Satu tangga sudah terlampaui, ada tangga lagi untuk mencapai puncak, dengan willpower yang mereka miliki akan menjadi jalan keberhasilan. Aamiin. Salam Cinta Penulis untuk Walesi, Wamena.

 

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke [email protected].
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement