Rabu 19 Aug 2020 09:39 WIB

Islam di Inggris, Lingkungan Paling Islamis di Eropa?

Umat Islam di Inggris menjalankan ibadah dengan nyaman.

Umat Islam di Inggris menjalankan ibadah dengan nyaman. Masjid Sentral London (London Central Mosque) di Regents Park, London utara, Inggris.
Foto: Victoria Jones/PA via AP
Umat Islam di Inggris menjalankan ibadah dengan nyaman. Masjid Sentral London (London Central Mosque) di Regents Park, London utara, Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, Islam pertama kali masuk ke Inggris pada abad ke-18. Masuknya Islam ke Inggris berkat seorang pelaut yang direkrut dari Benua India. Lebih tepatnya wilayah Bengal. Ia bekerja untuk Kongsi Dagang Hindia Timur Britania.

Michael Herbert Fisher dalam jurnalnya yang berjudul "Counterflows to Colonialism" menjelaskan, komunitas awal Muslim pertama banyak didapati di kota-kota pelabuhan. Ini karena penyebar Islam di Inggris adalah para pelaut.

Baca Juga

Salah satu imigran awal Muslim Asia yang paling terkenal adalah Sake Bengali Dean Mahomet. Ia seorang kapten dari Kongsi Dagang Hindia Timur Britania yang pada 1810 mendirikan restoran India pertama di London. Ia juga terkenal karena memperkenalkan sampo dan terapi pijat ke Inggris.

Islam di Inggris adalah agama non-Kristen terbesar. Sebagian besar didominasi imigran dari Asia Selatan (khususnya Bangladesh, Pakistan, dan India) atau keturunan imigran dari wilayah itu. Ada pula komunitas lain yang berasal dari Timur Tengah, Afghanistan, Malaysia, dan Somalia serta sebagian kecil dari negara-negara Afrika, seperti Nigeria, Uganda, dan Sierra Leone. 

Menurut Sensus Nasional 2011, terdapat 2,7 juta Muslim yang tinggal di Inggris dan Wales, naik hampir satu juta dari sensus sebelumnya. Sebanyak lima persen dari jumlah itu adalah kalangan dewasa, sedangkan 9,1 persen merupakan anak di bawah usia lima tahun.

Sebagian besar Muslim bermukim di Bradford, Luton, Blackburn, Birmingham, London, dan Dewsbury. Selain itu, populasi Muslim juga dapat ditemui di High Wycombe, Slough, Leicester, Derby, Manchester, Liverpool, dan kota-kota pabrik dari Northern England.

Secara umum, umat Islam di Inggris menikmati kebebasan menjalankan praktik keagamaan. Sarjana muslim, Maulana Syed Ali Raza Rizvi, berpendapat bahwa di Inggris Muslim lebih bebas mempraktikkan keyakinan mereka.

Ini bila dibandingkan dengan negara-negara di Eropa lainnya dan tak sedikit negara-negara Islam. "London lebih Islami daripada banyak negara Muslim secara umum," ujar Rizvi dalam forum tokoh lintas agama di London seperti dilansir telegraph.co.uk, sebagaimana dikutip dari arsip Harian Republika. Acara ini juga dihadiri Kardinal Vincent Nichols, pemimpin Gereja Katolik Roma di Inggris dan Wales dan Kepala Rabbi Efraim Mirvis.

Ia menjelaskan, Inggris dinilai lebih Islami dibandingkan negara lain karena kebebasan untuk beribadah dan multikultural. Di Inggris Islam dapat disimpulkan sebagai sebuah cinta dan keadilan. Seharusnya seluruh negara di dunia juga menerapkan hal ini. Namun, kepemimpinan politik Islam di seluruh dunia telah gagal untuk mendorong ini.

Maulana Rizvi mengatakan, tidak seperti Yahudi dan Kristen, Muslim di Inggris adalah sebuah komunitas baru. Namun, ada banyak komunitas yang hidup bersama dalam damai dan harmonis, memberikan penghormatan kepada orang lain, dan mengasihi orang lain dan itulah yang Islam. Ia menambahkan, hidup di Inggris akan membuat nilai-nilai Islam menjadi lebih hidup. 

Hak untuk kebebasan beragama di Inggris diatur dalam tiga sistem hukum konstituen, yakni oleh hukum nasional, Eropa, dan hukum internasional. Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia (ECHR) menjamin kebebasan beragama yang tertuang dalam Pasal 9.

Bunyinya, yaitu: "Hak untuk kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agama atau kepercayaan dan kebebasan, baik sendiri maupun dalam komunitas dengan orang lain dan di depan umum atau swasta, untuk mewujudkan agama atau kepercayaan, dalam ibadah, mengajar, praktik, dan ketaatan."

Pasal lainnya berbunyi, "Kebebasan untuk memanifestasikan agama atau kepercayaan seseorang harus tunduk hanya pada pembatasan seperti yang ditentukan oleh hukum dan yang diperlukan dalam masyarakat demokratis untuk kepentingan keamanan publik, melindungi ketertiban umum, kesehatan atau moral, atau perlindungan hak dan kebebasan orang lain."

Kendati demikian, tak dapat dimungkiri, di tengah terpaan Islamofobia yang melanda sebagian besar kawasan Eropa, komunitas Muslim tak terlepas sebagai target dan sasaran para pembenci Islam dan Muslim.

Survei pada 2015 menyebutkan, 60 persen dari Muslim Inggris sering menerima perlakuan diskriminasi atau tekanan dalam menajalani praktik keagamaan.

Angka ini naik 40 persen dari survei yang dilakukan pada 2010. Mayoritas Muslim Inggris mengatakan, diskriminasi yang mereka terima didorong oleh politisi dan pemberitaan media yang tidak seimbang.

Muslim yang terlibat sebagai objek survei Komisi Hak Asasi Manusia Islam (IHRC) mengatakan, umat Islam menderita pelecehan fisik dan verbal serta diskriminasi di tempat kerja. Penelitian ini didasarkan pada wawancara dengan 1.780 orang dengan pertanyaan sama seperti survei pada 2010 lalu. 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement