Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

JKN-KIS Seolah Jadi Malaikat Keluarga Saya

Senin 17 Aug 2020 22:49 WIB

Red: Stevy maradona

Warga menunjukan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) saat pembagian tiga jenis kartu sakti itu, beberapa waktu lalu.

Warga menunjukan Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) saat pembagian tiga jenis kartu sakti itu, beberapa waktu lalu.

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Selama perawatan tak ada biaya sedikit pun yang ia keluarkan untuk rumah sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, PASURUAN -- Kisah duka mulai dirasakan Miratika Puji Rahayu (28 tahun) sejak pertengahan tahun kemarin. Putri semata wayangnya, Shabrina Dea Azzahra (5), terdiagnosa penyakit Leukimia hingga saat ini. Ayu, sapaan akrab sang ibu, menceritakan jika sang anak sering mengalami demam dan sakit kepala sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

“Sebelum saya bawa ke rumah sakit, anak saya sering rewel. Mungkin karena sakit kepala yang dia rasakan. Suhu badannya juga naik turun. Takut makin parah, saya bawa dia ke rumah sakit,” tutur Ayu, saat ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu, seperti dalam rilis BPJS Kesehatan kepada pers, kemarin.

Ia menambahkan, jika selama perawatan tak ada biaya sedikit pun yang ia keluarkan untuk rumah sakit. Dari pelayanan hingga pemberian obat semua ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ia senang karena manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) benar-benar adanya. Apalagi sang anak dirawat dalam kurun waktu yang lama.

“Saya bersyukur saat gelisah biaya, kartu ini (JKN-KIS) jadi penolong saya dan keluarga. Karena gak tega kalau harus bawa pulang tapi kondisi anak masih kritis. Kalau diingat, Sepekan lebih kami di rumah sakit,” tambahnya.

Dua bulan setelah keluar rumah sakit, Ayu kembali gelisah lantaran mata sang anak terlihat lebam dan keluar bintik-bintik merah. Penasaran dengan gejala yang terlihat, sang ibu lekas membawanya lagi ke rumah sakit. Namun, kegelisahan itu semakin bertambah lantaran gusi sang anak terlihat berdarah. Ayu lantas minta rujukan ke salah satu rumah sakit di Kota Malang untuk dapat pelayanan medis yang lebih lengkap.

Sepulang dari rumah sakit, anak Ayu terlihat lesu. Beberapa gejala baru mulai muncul. Matanya terlihat lebam dan keluar bintik-bintik merah di sekitar badan. "Takut demam berdarah, saya bawa dia ke rumah sakit. Beberapa jam di sana, gusinya keluar darah. Saya dan suami makin khawatir karena kondisinya kian parah," kata dia. Hari itu juga Dea minta dirujuk ke RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar).

Setibanya di sana, Dea, panggilan sang anak, lantas menerima penanganan intensif. Beberapa tes medis dilakukan guna mengetahui jenis penyakit yang ia derita. Kepastian Leukimia muncul setelah dokter melakukan Bone Marrow Puncture (BMP), salah satu tes yang mengambil dan memeriksa sel darah di sumsum tulang. Hal ini menjadi pukulan telak bagi Ayu dan suami.

Mereka tak menyangka jika putrinya harus menerima cobaan berat di usianya yang belia. Akibat vonis ini, Dea harus tidur dua pekan di rumah sakit. Di sisi lain, Ayu bersyukur lantaran tak ada biaya yang dibebankan selama perawatan sang anak. Kemudahan itu ia peroleh setelah menjadi Peserta JKN-KIS. Meski begitu, ia lega lantaran sang anak menerima pelayanan yang baik dan optimal.

“Sampai di Malang, anak saya di bawa ke ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Beberapa kali dokter melakukan tes medis di sana. Saya dan suami syok mengetahui Dea leukimia," kata dia. Dokter memberi kepastian lewat tes medis. "Saya sempat nangis, seperti gak punya hati jika lihat anak saya. Saya masih gak percaya kalau Dea benar-benar leukimia."

Ayu mengaku sempat stress karena kepikiran juga soal biaya. Syukur Alhamdulillah, ada JKN-KIS yang membayarnya. Ia takut karena melihat begitu banyak penanganan dokter untuk Dea. Belum lagi dia wajib kemo tiap pekan. "Sudah berapa puluh juta yang harus dibayar kalau untuk kemo saja sudah mahal? JKN-KIS seolah jadi malaikat keluarga saya,” cerita dia.

Pasca rawat inap terakhir, Dea harus jalani kemo rutin tiap pekan. Perawatan ini dilakukan selama 4 bulan penuh. Ayu mengaku sang anak mulai ada perkembangan dari perawatan tersebut. Hingga beberapa bulan berjalan, Dea hanya perlu sekali kemo dalam 5 pekan.

Ayu dan suami pasrah dengan segala keputusan dokter, terpenting putri mereka riang kembali. Menurut Ayu, sang anak harus menjalani perawatan kemo selama 2 tahun ke depan. Ia bersyukur semua biaya perawatan telah ditanggung BPJS Kesehatan. Ia terharu dengan kebaikan Program JKN-KIS yang telah memberi dampak besar untuk anaknya. Ia mengaku jika biaya perawatan Dea mencapai Rp 86 juta.

Di akhir obrolan, ia mengucap banyak terima kasih untuk BPJS Kesehatan. Ia juga berharap Program JKN-KIS senantiasa ada untuk kebaikan masyarakat Indonesia. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA