Wednesday, 16 Jumadil Akhir 1443 / 19 January 2022

Wednesday, 16 Jumadil Akhir 1443 / 19 January 2022

Kesepakatan Damai Agadez Nigeria, Cegah Intervensi ISIS

Sabtu 15 Aug 2020 21:49 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Kesepakatan damai di Agadez mencegah keterlibatan ISIS di kawasan itu. Peta Nigeria

Kesepakatan damai di Agadez mencegah keterlibatan ISIS di kawasan itu. Peta Nigeria

Foto: Google
Kesepakatan damai di Agadez mencegah keterlibatan ISIS di kawasan itu.

REPUBLIKA.CO.ID, AGADEZ –  Perselisihan antara kelompok etnis Fulani atau Fula dengan etnis Tuareg yang dipicu pencurian ternak dan sepeda motor telah memicu kekerasan di Desa Amataltal, kota Agadez, Nigeria. Terlebih saat seorang pria menembakkan senapannya ke langit dalam perselisihan itu.

 

Baca Juga

Perselisihan semacam itu sangat langka terjadi di wilayah yang selama ini tenang dengan dihuni beberapa ratus orang. Ini mengirimkan peringatan, bahwa perselisihan seperti itu membuka pintu bagi kelompok jihadis untuk mengeksploitasi konflik dan meningkatkan kekacauan.

Mewaspadai eskalasi konflik, para pemimpin desa Amataltal meminta komite penjaga perdamaian regional untuk memediasi pada Juni tahun lalu. Beberapa hari berselang, mereka bertemu dan setuju untuk menjaga perdamaian. 

 

Sejak 2017 kekerasan mengatasnamakan Islam menguasai sebagian besar Sahel Afrika Barat saat militan yang terkait ISIS menyergap dan menewaskan empat tentara Amerika Serikat di Nigeria.

Pada Ahad lalu, enam pekerja Prancis dan dua penduduk setempat ditembak mati di area cagar alam jerapah yang berada 65 km dari ibukota Nigeria yang mulanya dianggap sebagai zona aman. Meski demikian beberapa ratus mil di utara Agadez, wilayah yang seluas Prancis dan berbatasan dengan Aljazair, Libya, dan Chad sebagian besar tetap damai.

 

Para pemimpin setempat mengatakan dengan pengaruh jaringan ulama, mantan pemberontak, dan komite perdamaian yang  dibentuk sebagai respons atas pemberontakan bersenjata pada 1990-an, telah menghambat jihadis memperoleh tempat.  

 

Di tengah perjuangan pasukan Prancis untuk menahan terjadinya pertumpahan darah di tempat lain, dan upaya Amerika Serikat yang sedang mempertimbangkan penarikan pasukan, para tokoh pemimpin kota Agadez justru mengatakan metode yang mereka tawarkan dapat mengalahkan militan tanpa senjata.  

 

"Agadez menunjukan bahwa itu bisa dilakukan. Dengan kepemimpinan yang tepat dan hubungan yang tepat, anda bisa memiliki stabilitas (wilayah)," kata Hannah Armstrong seorang analis dari lembaga think tank International Crisis Group,seperti dilansir Reuters pada Sabtu (15/8).  

 

Kondisi Agadez sangat kontras dengan wilayah Tillaberi di barat daya Nigeria yang berbatasan dengan Mali dan Burkina Faso. Tahun lalu serangan militan yang berafiliasi dengan ISIS dan Alqaeda menewaskan sedikitnya 367 orang di zona perbatasan itu.

Meski demikian Agadez tak kebal, pada 2013 militan meledakan bom mobil di luar pangkalan militer yang menewaskan 20 tentara. Pada 2010, afiliasi Alqaeda menculik tujuh orang asing di zona pertambangan uranium di sekitar kota Arlit.   

 

 

 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA