Saturday, 2 Safar 1442 / 19 September 2020

Saturday, 2 Safar 1442 / 19 September 2020

Kontribusi Besar Muslim untuk Kemerdekaan India Terlupakan

Jumat 14 Aug 2020 17:45 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Gambar Dewa Ram menurut kepercayaan orang Hindu dan desain bangunan kuilnya tampil di papan iklan digital di Times Square, New York, AS, Rabu (5/8). Pembangunan pura itu dilakukan di atas reruntuhan Masjid Babri di Ayodhya, India.

Gambar Dewa Ram menurut kepercayaan orang Hindu dan desain bangunan kuilnya tampil di papan iklan digital di Times Square, New York, AS, Rabu (5/8). Pembangunan pura itu dilakukan di atas reruntuhan Masjid Babri di Ayodhya, India.

Foto: AP Photo/Ted Shaffrey
Banyak cendekiawan dan sejarawan Muslim yang berjuang untuk kemerdekaan India

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- India merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-74 pada 15 Agustus, di bawah bayang-bayang kerusuhan komunal dan undang-undang anti-kewarganegaraan. Para cendekiawan India menyerukan agar seluruh warga mengingat peran Muslim dalam perjuangan kemerdekaan India.

Baca Juga

Penulis dan cendekiawan Waseem Ahmed Saeed mengatakan seiring berjalannya waktu, kontribusi pejuang kebebasan Muslim di India telah dilupakan. Dalam bukunya yang berjudul Kala Pani: Gumnam Mujahideen-e-Azadi 1857, Saeed mengatakan, umat Muslim memiliki peran besar dalam sejumlah pertempuran di India. Diantaranya, Pertempuran Plassey 1757 di Bengal, pertempuran Seringapatam Sultan Tipu di India Selatan pada 1799 hingga pemberontakan besar-besaran pada 1857 melawan Inggris yang dipimpin oleh umat Islam.

Saeed telah menulis sebuah buku tentang sejarah Indi dalam bahasa Urdu. Saeed mengatakan, sejarah India mengakui Udham Singh sebagai pahlawan karena membunuh Gubernur Punjab, Michael O'Dwyer sebagai balas dendam atas pembantaian Jallianwala Bagh 1919 di Amritsar. Namun, sejarah India tidak mengakui Sher Ali Afridi yang membunuh Lord Mayo, raja muda Inggris dan gubernur jenderal India dari tahun 1869-1872.

Saeed mengatakan, banyak cendekiawan dan sejarawan Muslim yang menyatakan bahwa peran leluhur mereka dalam perjuangan kemerdekaan India telah diabaikan. Saeed mengingat bahwa penguasa Bengal, Siraj ud-Daulah yang pertama kali bertempur dan kalah dari Inggris pada 1775 telah menjadi landasan bagi kekuatan kekaisaran untuk menjajah India. Setelah kalah dalam pertempuran tersebut, banyak pemberontakan yang dipimpin oleh umat Islam hingga 1850.

Sementara, Direktur Proyek Penelitian Sejarah di Institute of Objective Studies, Syed Jamaluddin mengatakan, tidak ada cakupan yang memadai tentang peran Muslim India dalam gerakan nasional. "Kontribusi kaum revolusioner Muslim, penyair dan penulis tidak diketahui hari ini. Demikian pula, sedikit yang diketahui tentang kontribusi orang-orang seperti Ali Musliyar dan Bi-Amma, yang memberikan kontribusi signifikan," ujarnya kepada Anadolu Agency.

Jamaluddin menyebut, pemberontakan Fakir-Sannyasi melawan kekuasaan kolonial bertujuan untuk mencegah mereka memungut pajak agama dari penduduk setempat. Perlawanan itu dimulai pada 1764 hingga 1850. Bahkan pemberontakan itu meluas hingga ke kepresidenan Madras (sekarang Chennai) di India selatan.

Namun gerakan melawan kolonial Inggris yang paling menonjol terjadi pada awal abad ke-20, yang dipimpin oleh Maulana Ubaidullah Sindhi dengan bantuan Turki, Jerman, dan Afghanistan. Gerakan perlawanan itu dikenal dengan Reshmi-Rumaal Tahreek atau Gerakan Kain Sutra. Perlawanan itu dinamakan Gerakan Kain Sutra karena Sindhi dan para pemimpin lainnya mengirimkan surat dan arahan kepada para kadernya yang ditulis di atas kain sutra. Shindi kemudian pergi ke Turki dan bergabung dengan perjuangan nasional negara itu.

Seorang cendekiawan Muslim terkemuka, Abdul Hameed Nomani mengatakan, kontribusi Sindhi belum dimasukkan ke dalam sejarah resmi India. Sindhi bersama dengan pangeran India, Raja Mahender Pratap Singh dan Maulvi Barkatullah telah mendirikan pemerintahan pengasingan India di Afghanistan pada 1915.

"Gerakan ini terjadi sekitar waktu yang sama ketika Subhash Chandra Bose (pejuang kemerdekaan India yang terkenal) bersekutu dengan Jerman dan Jepang untuk mengusir Inggris dari India. Meski Bose diakui secara nasional, tidak banyak yang diketahui tentang Sindhi dan pendukungnya," ujar Nomani.

Nomani mengatakan, Gerakan Kain Sutra yang dipimpin oleh Shindi mengarah pada pembentukan misi Indo-Jerman-Turki mendorong suku-suku lokal di perbatasan Afghanistan untuk menyerang Inggris. Sementara, tokoh-tokoh kunci telah ditangkap oleh Inggris. Menurut Nomani, gerakan tersebut menjadi peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan India.

Nomani mengatakan, pada 2011 pemerintah India merilis perangko untuk memperingati Gerakan Kain Sutra. Namun belum ada kekuatan untuk mencatat pengorbanan Sindhi dan sekutunya, Mahmud Hasan dan Husayn Hasan dalam sejarah kemerdekaan India.

"Hanya referensi sekilas yang dibuat tentang peran Muslim dalam perjuangan nasional India," kata Nomani. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA