Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Wednesday, 17 Rabiul Akhir 1442 / 02 December 2020

Israel dan UEA Sepakat Normalisasi Hubungan

Kamis 13 Aug 2020 23:34 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Teguh Firmansyah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Foto: Amir Cohen/Pool Photo via AP
Netanyahu menyebut kesepakatan ini adalah momen bersejarah.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Israel dan Uni Emirat Arab sepakat untuk menormalisasi hubungan. Hal ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Pernyataan bersama Trump, PM Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed mengatakan mereka berharap terobosan bersejarah itu akan memajukan perdamaian di Timur Tengah. Seperti dilansir BBC, Kamis, dengan kesepakatan ini, Israel akan menangguhkan rencananya untuk mencaplok sebagian besar Tepi Barat yang diduduki.

Hingga saat ini Israel belum memiliki hubungan diplomatik dengan negara-negara Teluk Arab. Namun, kekhawatiran bersama atas pengaruh regional Iran telah menyebabkan kontak tidak resmi di antara mereka.

Menanggapi pengumuman Presiden Trump, Netanyahu mencicit dalam bahasa Ibrani: "Hari bersejarah".

Duta Besar UEA untuk AS, Yousef Al Otaiba, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa itu adalah kemenangan untuk diplomasi dan untuk kawasan.
"Ini adalah kemajuan signifikan dalam hubungan Arab-Israel yang menurunkan ketegangan dan menciptakan energi baru untuk perubahan positif," ujar Otaiba.

Perjanjian tersebut menandai kesepakatan perdamaian Israel-Arab ketiga sejak deklarasi kemerdekaan Israel pada 1948. Mesir menandatangani satu kesepakatan pada 1979, dan Yordania pada 1994.

Dalam beberapa minggu mendatang, delegasi dari Israel dan UEA akan bertemu untuk menandatangani perjanjian bilateral mengenai investasi, pariwisata, penerbangan langsung, keamanan, telekomunikasi, teknologi, energi, perawatan kesehatan, budaya, lingkungan, pembentukan kedutaan timbal balik.

Menurut pernyataan bersama, Negara-negara tersebut juga akan bergabung dengan AS dalam meluncurkan "Agenda Strategis untuk Timur Tengah". Para pemimpin mengatakan mereka memiliki pandangan yang sama mengenai ancaman dan peluang di kawasan, serta komitmen bersama untuk mempromosikan stabilitas melalui keterlibatan diplomatik, peningkatan integrasi ekonomi, dan keamanan yang lebih dekat.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA