Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

Tuesday, 3 Rabiul Awwal 1442 / 20 October 2020

In Picture: Asa Paterno Menjadi Wisudawan pada Usia Senja

Kamis 13 Aug 2020 07:00 WIB

Red: Edwin Dwi Putranto

Foto: REUTERS/GUGLIELMO MANGIAPANE
Giuseppe Paterno mencatatkan diri sebagai lulusan tertua universitas di Italia.

REPUBLIKA.CO.ID, Usia lanjut dan pagebluk tidak menghalangi semangat Giuseppe Paterno untuk menamatkan pendidikan diploma. Di usianya yang menginjak 96 tahun, pria kelahiran Sisilia itu mencatatkan diri sebagai lulusan tertua universitas di Italia.

Paterno menyelesaikan pendidikan Sejarah dan Filsafat di Universitas Palermo, Italia. Ia sudah berusia 90-an ketika mendaftar di Universitas itu di tahun 2017. "Saya berkata kepada diri sendiri, ini saatnya, sekarang atau tidak sama sekali," ujar Paterno kepada Reuters.

Dirinya menyadari bahwa sedikit agak terlambat untuk memulai perkuliahan di usianya yang tak lagi muda, namun ia tetap membulatkan tekadnya untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa. "Saya berkata pada diri saya sendiri, mari kita lihat apakah saya bisa melakukannya," lanjutnya.

Kegigihan Paterno berbuah manis. Bulan Juni 2020, dirinya berhasil lulus pertama di kelasnya dengan penghargaan tertinggi. Mantan pekerja kereta api itu menerima ijazah dan karangan bunga laurel tradisional yang diberikan kepada siswa Italia ketika lulus. Pujian mengalir dari keluarga, dosen dan sesama mahasiswa yang usianya 70 tahun lebih muda dari dirinya. "Anda adalah contoh bagi siswa yang lebih muda," kata profesor Sosiologi Universitas Palermo, Francesca Rizzuto.

Paterno tumbuh di keluarga miskin Sisilia pada masa depresi hebat melanda Italia. Paterno kecil hanya mengenyam pendidikan dasar. Dia bergabung dengan angkatan laut dan bertugas selama Perang Dunia Kedua sebelum bekerja di perusahaan kereta api saat dia menikah dan membesarkan dua anak. Ditengah keterbatasan saat itu, dirinya tetap memendam keinginan untuk mengenyam pendidikan. Paterno menamatkan pendidikan sekolah menengah di usia 31 tahun. "Ilmu pengetahuan ibarat sebuah koper yang dapat selalu saya bawa, itu adalah harta karun," kata Paterno.

Dalam menjalani perkuliahannya, Paterno mengandalkan mesin tik manual yang diberikan ibunya pada tahun 1984 silam untuk mengerjakan semua tugas kuliah. Dia menghindari Google dan memilih untuk membaca buku cetak. Paterno mengaku sedikit tidak nyaman dengan video call yang menggantikan pengajaran di ruang kelas selama penutupan virus korona, tetapi ia tidak mau kelulusannya tertunda hanya karena pandemi dan tetap semangat menyelesaikan semua mata kuliahnya. 

Setelah berhasil menamatkan pendidikannya, Paterno mengaku tidak akan berhenti untuk terus menuntut ilmu. Ia berkeinginan mengabdikan dirinya untuk menulis. "Saya ingin meninjau kembali semua literatur yang tidak sempat saya eksplorasi lebih jauh. Ini adalah tujuan saya," ujarnya. 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA