Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Lima Virus yang Mematikan Selain Covid-19

Kamis 13 Aug 2020 01:37 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Gita Amanda

Electron micrograph of an Ebola virus virion (illustration)

Electron micrograph of an Ebola virus virion (illustration)

Foto: en.wikipedia.org
Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa virus telah berpindah dari hewan ke manusia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Manusia telah memerangi virus sejak sebelum berevolusi menjadi bentuk modernnya. Untuk beberapa penyakit virus, vaksin dan obat antivirus telah memungkinkan kita mencegah infeksi menyebar luas, dan membantu orang yang sakit kembali pulih. Untuk satu penyakit, yakni cacar, kita telah mampu memberantasnya, membersihkan dunia dari kasus-kasus baru.

Tapi, kita masih jauh dari memenangkan perang melawan virus. Dalam beberapa dekade terakhir, beberapa virus telah berpindah dari hewan ke manusia dan memicu wabah yang cukup besar serta merenggut ribuan nyawa. Jenis virus yang mendorong wabah Ebola 2014-2016 di Afrika Barat membunuh hingga 90 persen orang yang terinfeksi, menjadikannya anggota keluarga Ebola yang paling mematikan.

Tetapi ada virus lain yang sama-sama mematikan dan beberapa bahkan lebih mematikan dari itu. Beberapa virus, termasuk virus corona baru yang saat ini memicu wabah di seluruh dunia, memiliki tingkat kematian yang lebih rendah, tetapi masih menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena belum memiliki sarana untuk memeranginya.

Berikut adalah lima pembunuh terburuk versi Live Science selain Covid-19, berdasarkan kemungkinan seseorang akan meninggal dunia jika mereka terinfeksi salah satunya, banyaknya orang yang telah meregang nyawa karenanya, dan apakah mereka mewakili ancaman yang berkembang.

Virus Marburg

Ilmuwan mengidentifikasi virus Marburg pada 1967, ketika wabah kecil terjadi di antara pekerja laboratorium di Jerman yang terkena kera terinfeksi yang diimpor dari Uganda. Virus Marburg mirip dengan Ebola karena keduanya dapat menyebabkan demam berdarah, yang berarti orang yang terinfeksi mengalami demam tinggi dan pendarahan di seluruh tubuh yang dapat menyebabkan syok, kegagalan organ, dan kematian.

Tingkat kematian pada wabah pertama adalah 25 persen, tetapi lebih dari 80 persen pada wabah 1998-2000 di Republik Demokratik Kongo, serta pada wabah 2005 di Angola, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Virus Ebola

Wabah Ebola pertama yang diketahui pada manusia menyerang secara bersamaan di Republik Sudan dan Republik Demokratik Kongo pada 1976. Ebola menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, atau jaringan dari orang atau hewan yang terinfeksi. Strain yang diketahui sangat bervariasi dalam tingkat kematiannya, Elke Muhlberger, seorang ahli virus Ebola dan profesor mikrobiologi di Universitas Boston.

Menurut WHO, satu jenis dari virus tersebut, Ebola Reston, bahkan tidak membuat orang sakit. Tetapi untuk strain Bundibugyo, tingkat kematian hingga 50 persen, dan hingga 71 persen untuk strain Sudan. Wabah yang berlangsung di Afrika Barat pada awal 2014 merupakan wabah penyakit terbesar dan paling kompleks hingga saat ini.

Rabies

Meskipun vaksin rabies untuk hewan peliharaan, yang diperkenalkan pada tahun 1920-an, telah membantu membuat penyakit ini menjadi sangat langka di negara maju, kondisi ini tetap menjadi masalah serius di India dan sebagian Afrika.

"Itu menghancurkan otak, itu penyakit yang sangat, sangat buruk," kata Muhlberger. "Kami memiliki vaksin untuk melawan rabies, dan kami memiliki antibodi yang bekerja melawan rabies, jadi jika seseorang digigit hewan rabies kami dapat mengobati orang tersebut," katanya.

Namun, dia berkata, jika Anda tidak mendapatkan pengobatan, ada kemungkinan 100 persen Anda akan meninggal.

Hantavirus

Sindrom paru Hantavirus atau disingkat HPS pertama kali mendapat perhatian luas di AS pada tahun 1993. Kala itu seorang pemuda Navajo yang sehat dan tunangannya yang tinggal di daerah Four Corners di Amerika Serikat meninggal dalam beberapa hari setelah mengalami sesak napas.

Beberapa bulan kemudian, otoritas kesehatan mengisolasi hantavirus dari seekor tikus rusa yang tinggal di rumah salah satu orang yang terinfeksi. Lebih dari 600 orang di AS sekarang telah terjangkit HPS, dan 36 persen telah meninggal karena penyakit tersebut, menurut CDC.

Virus tidak ditularkan dari satu orang ke orang lain, sebaliknya, orang tertular penyakit dari paparan kotoran tikus yang terinfeksi. Sebelumnya, hantavirus yang berbeda menyebabkan wabah pada awal 1950-an, selama Perang Korea, menurut sebuah makalah 2010 di jurnal Clinical Microbiology Reviews. Lebih dari 3.000 tentara terinfeksi, dan sekitar 12 persen dari mereka meninggal.

Influenza

Menurut WHO, selama musim flu biasa, hingga 500 ribu orang di seluruh dunia akan meninggal karena penyakit tersebut. Tetapi kadang-kadang, ketika jenis flu baru muncul, pandemi menyebabkan penyebaran penyakit yang lebih cepat dan, seringkali, tingkat kematian yang lebih tinggi.

Pandemi flu paling mematikan, Flu Spanyol, dimulai pada tahun 1918 dan menyerang hingga 40 persen populasi dunia, menewaskan sekitar 50 juta orang. "Saya pikir ada kemungkinan hal seperti wabah flu 1918 bisa terjadi lagi," kata Muhlberger.

"Jika strain influenza baru ditemukan dalam populasi manusia, dan dapat ditularkan dengan mudah di antara manusia, dan menyebabkan penyakit parah, kami akan mendapat masalah besar," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA