Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Potensi Resesi Perkuat Alasan untuk Merger Bank Syariah

Kamis 13 Aug 2020 04:14 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Direktur Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho (kiri), Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari ( kanan) berbicara usai usai penandatanganan Nota kesepahaman virtual kerjasama produk keuangan syariah di Jakarta, (11/8). PT Bank Tabungan Negara  (Persero) Tbk dalam hal ini Unit Usaha Syariah atau BTN Syariah dan Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menjalin sinergi dan kolaborasi dalam rangka memperluas layanan Pembiayaan Kepemilikan Perumahan (KPR). Foto: Tahta Aidilla/Republika

Direktur Mandiri Syariah Ade Cahyo Nugroho (kiri), Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari ( kanan) berbicara usai usai penandatanganan Nota kesepahaman virtual kerjasama produk keuangan syariah di Jakarta, (11/8). PT Bank Tabungan Negara  (Persero) Tbk dalam hal ini Unit Usaha Syariah atau BTN Syariah dan Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menjalin sinergi dan kolaborasi dalam rangka memperluas layanan Pembiayaan Kepemilikan Perumahan (KPR). Foto: Tahta Aidilla/Republika

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Merger jadi pilihan strategis di masa ketidakpastian ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Turbulensi akibat pandemi Covid-19 yang membuat potensi resesi di depan mata akan mendorong langkah konsolidasi berbagai perusahaan. Ini membuat opsi merger anak usaha syariah bank-bank BUMN menjadi lebih memungkinkan.

Pengamat Ekonomi Syariah STEI SEBI, Azis Setiawan mengatakan merger menjadi pilihan strategis yang bisa dilakukan di masa ketidakpastian ke depan. Dan ini secara umum langkah yang lebih rasional dan lebih baik untuk bisa bertahan di tengah tekanan yang besar.

"Ini (merger) saya kira arah strategis yang sedang dipersiapkan oleh pemegang saham dari bank syariah anak-anak usaha bank BUMN yang diberikan ke manajemen bank-bank syariah terkait," katanya pada Republika.co.id, Kamis (12/8).

Adanya potensi resesi juga menguatkan pentingnya kebijakan merger untuk membangun bank syariah yang jauh lebih besar dan kuat. Sehingga armada baru yang lebih solid lebih siap untuk menghadapi tsunami dan badai besar.

Di depan, ada juga kebutuhan menghadapi tantangan perubahan teknologi dan digital banking yang akan membutuhkan dana besar untuk investasi teknologi. Butuh kapasitas yang mumpuni agar bank bisa tetap kompetitif kedepannya.

Perubahan teknologi dan tekanan ekonomi yang besar secara riil akan mendorong manajemen puncak untuk bekerja lebih ekstra membuat langkah-langkah strategis. Sehingga ini akan memaksa munculnya kebijakan-kebijakan besar dari perbankan yang cukup fundamental dan drastis.

Karena tsunami perubahannya sangat besar maka dibutuhkan langkah-langkah strategis yang juga bersifat ekstra. Dalam waktu dekat, Azis memprediksi akan ada langkah-langkah strategis drastis yang akan diambil oleh bank syariah lainnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA