Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Konflik Gajah dan Manusia di Aceh Tengah Kini Berkurang

Rabu 12 Aug 2020 18:41 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Gajah

Gajah

Foto: ANTARAFOTO/FB Anggoro
Konflik berkurang sejak warga membentuk tim dalam merawat konservasi gajah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Relawan Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) Karang Ampar-Bergang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menyatakan konflik gajah Sumatera dengan manusia setempat jauh berkurang. Konflik berkurang sejak warga desa membentuk tim dalam merawat konservasi.

"Alhamdulillah kami saat ini sadar dan kami mengajak masyarakat untuk sadar bahwa gajah itu adalah satwa yang dilindungi negara dan undang-undang," kata Ketua TPFF Karang Ampar-Bergang, Muslim, Rabu (12/8).

Pernyataan itu disampaikan Muslim di sela-sela diskusi "Mengungkap Kematian Gajah di Aceh", dalam momentum peringatan Hari Gajah Se Dunia tahun 2020. Muslim menjelaskanTPFF merupakan tempat tergabung warga Karang Ampar dan Bergang yang dibentuk pada 2018, dalam upaya meminimalisir konflik gajah dengan warga desa setempat.

Mereka membentuk TPFF pascakonflik besar terjadi antara satwa liar bertubuh besar itu dengan warga setempat pada 2017. Akibatnya dua ekor gajah liar mati. Satu ekor mati karena memakan racun di rumah warga dan satu lagi mati tertembak pemburu.

"Alhamdulillah, pemburu-pemburu di desa kami itu, kami rekrut untuk menjadi anggota tim relawan TPFF untuk menjaga konservasi gajah tersebut," ujarnya.

Sejak kehadiran TPFF, keberlangsungan hidup antara manusia dan gajah di desa itu dinilai begitu kooperatif. Warga yang tergabung dalam TPFF juga membagi ruang keberlangsungan hidup berdampingan bersama gajah.

"Kami telah membagi ruang antara gajah (hidup) di seberang sungai dan manusia (hidup) di pemukiman warga," ujarnya.

Bahkan, warga juga menyiapkan tempat satwa liar yang memiliki belalai itu makan, di kawasan hutan lindung dan areal penggunaan lain (APL), agar gajah-gajah tersebut tidak mengganggu kegiatan masyarakat di pemukiman.

"Kami cari uang sendiri, kami enggak ada dana dari pemerintah, enggak ada dana dari LSM, enggak ada dari siapa-siapa. Kami membuatnya dari hasil tani, hasil keringat kami, secara mandiri dari 2018 sampai saat ini," ujar Muslim, menjelaskan pembiayaan TPFF.

Menurut Muslim, warga setempat mulai memahami bahwa gajah merupakan aset masa depan. Dengan begitu, populasi gajah harus diperhatikan. Bahkan, warga berharap gajah itu tidak cepat punah sehingga dapat dilihat oleh generasi selanjutnya.

"Artinya selama ini konflik gajah disana itu sangat berkurang, karena adanya kerjasama ini juga antara pemerintahan desa dengan relawan TPFF," ujarnya.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA