Rabu 12 Aug 2020 15:59 WIB

Hujan Meteor Perseid Masih Bisa Dilihat Sampai 24 Agustus

Puncak hujan meteor Perseid terjadi ketika Bumi melewati jejak komet Swift-Tuttle.

Hujan meteor Perseid.
Foto: epa
Hujan meteor Perseid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti astronomi dan astrofisika pada Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) Rhorom Priyatikanto mengatakan hujan meteor Perseid biasa terjadi antara 17 Juli hingga 24 Agustus setiap tahun. Dia mengatakan puncak hujan meteor Perseid terjadi tanggal 11 Agustus.

"Pada puncaknya, bisa terlihat hingga 15 meteor per jam bila dilihat belahan bumi utara," kata Rhorom, Rabu (12/8).

Baca Juga

Rhorom menuturkan bila diamati di daerah ekuator, intensitas hujan meteor jauh lebih rendah. Hujan meteor tersebut terjadi ketika Bumi melewati jejak komet Swift-Tuttle yang banyak berisikan debu dan kerikil antariksa.

Sebagian masuk ke atmosfer dan terbakar sehingga tampak sebagai jejak cahaya di langit. "Gambarannya seperti kalau kita naik mobil melewati sekawanan kutu yang beterbangan di atas jalan," ujar Rhorom.

Rhorom mengatakan beberapa meteor berukuran besar seperti bongkahan sehingga tidak habis terbakar di atmosfer atas. Meteor ini bisa jatuh di permukaan Bumi dan menimbulkan ledakan.

"Ada juga yang meledak di udara sehingga terdengar dentumannya," tuturnya.

Rhorom menuturkan hujan meteor tidak berbahaya, kecuali bila ada meteoroid yang berukuran terlalu besar.

Komet Swift-Tuttle terakhir memasuki tata surya kita pada 1992 dan tidak akan kembali hingga 2126, tetapi kita masih disuguhi sisa-sisa ekornya yang bercahaya setiap tahun.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement