Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Dampak Komunikasi Persuasif Ala Nabi Ibrahim dalam Alquran

Senin 10 Aug 2020 21:15 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Komunikasi persuasif Ala Nabi Ibrahim AS memberikan dampak luar biasa. Ilustrasi.

Komunikasi persuasif Ala Nabi Ibrahim AS memberikan dampak luar biasa. Ilustrasi.

Foto: Republika/Yogi Ardhi Cahyadi
Komunikasi persuasif Ala Nabi Ibrahim AS memberikan dampak luar biasa.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Prof Syihabuddin Qalyubi

Baca Juga

 

Dalam kisah Ibrahim AS banyak dijumpai komunikasi secara persuasif, yaitu komunikasi yang dilakukan  Ibrahim dengan Allah SWT, ayahnya, kaumnya,  Namrud, dan dengan anaknya (Ismail AS) sewaktu akan dijadikan qurban. 

Dalam proses komunikasi persuasif sudah barang tentu ada efek yang diharapkan dari pihak komunikan, yaitu: kognitif, afektif, dan konatif.

1. Kognitif, dalam pengertian komunikator hanya mengharapkan dari  komunikan agar mengetahui informasi yang disampaikannya. Komunikasi Ibrahim yang termasuk kelompok ini antara lain: 

وَإِبْرَٰهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ 

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”  (QS al-Ankabut: 16).

Dalam ayat ini diperlihatkan bahwa Ibrahim sebagai komunikator hanya sebatas memberitahu kaumnya agar bertaqwa kepada Allah SWT, tidak diperlihatkan bagaimana respon dari kaumnya sebagai komunikan. Ayat-ayat tentang komunikasi Ibrahim yang termasuk kelompok ini adalah: Al-Baqarah: 126, al-An’am: 74, Ibrahim: 35, dan, as-Saffat: 85.  

2. Afektif, dalam pengertian komunikator mengharapkan komunikan merespon message yang disampaikan,. Komunikasi Ibrahim yang termasuk kelompok ini antara lain: 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ 

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS al-Baqarah: 260) 

Dalam ayat ini terjadi komunikasi antara Ibrahim (komunikator) dan Allah SWT (komunikan). Allah SWT sebagai komunikan mersepon message yang dikirimkan Ibrahim yaitu tentang menghidupkan yang mati. Dalam komunikasi ini Ibrahim berhasil “membujuk” Allah agar menjelaskan menghidupkan yang mati. Komunikasi yang termasuk kelompok ini antara lain (QS Asyu’ara 70-77). 

3. Konatif, dalam pengertian komunikator berusaha mempengaruhi komunikan agar melakukan suatu tindakan sebagai feedback atas message yang diterimanya. Contoh yang tepat dari aspek ini adalah komunikasi antara Ibrahim dengan puteranya (Ismail) tentang mimpinya yang berujung dengan kesediaan Ismail untuk jadi qurban, sebagaimana dituturkan dalam Alquran. 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ. فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (as-Saffat: 102-103).

Dalam ayat ini Ibrahim sebagai komunikator mengirimkan message kepada Ismail (komunikan) tentang mimpi menyembelihnya. Ismail memberikan respons agar bapaknya melaksanakan apa yang diperintahkkan dalam mimpi itu. 

Respons Ismail dilanjutkan dengan suatu tindakan yaitu kesedian berbaring untuk siap dijadikan qurban. Hanya saja Allah segera memanggil Ibrahim, bahwa itu semua hanya berupa ujian belaka. 

photo
Ilustrasi ibadah haji sebagai ritual dari Nabi Ibrahim dan keluarga. (ilustrasi). - (Antara/Prasetyo Utomo)

Teknik komunikasi persuasif  

Komunikasi persuasif yang efektif dapat berpengaruh terhadap pencapaian suatu tujuan. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan teknik-teknik komunikasi persuasif yang efektif. Ada beberapa teknik yang disebutkan dalam ilmu komunikasi, namun akan diuraikan diantaranya: Teknik Pay Off Idea dan Teknik Fear Arousal.  

Teknik pay off idea  atau Uslūb at-Targīb adalah teknik komunikasi persuasif yang mengintegrasikan cara dengan janji atau imbalan apabila komunikan telah berhasil melakukan anjuran atau ajakan yang diberikan oleh pihak komunikator. Teknik ini telah digunakan Ibrahim tatkala membujuk ayahnya:  

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا 

“Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam: 47)

Ibrahim berusaha membujuk ayahnya dengan doa kedamaian, akan dimohonkan ampunan atas dosa yang dilakukannya, dan garansi kedekatan Ibrahim dengan Tuhannya. 

Sekalipun sebelum itu ayahnya  mengancam akan merajam (melempari batu) dan mengusirnya dalam waktu cukup lama. Komunikasi yang stylenya mirip ini. Lihat Al-zukhrūf: 26-28 dan Al anbiya 55-56. 

Teknik Fear Arousal atau Uslūb at-tarhīb adalah teknik komunikator dalam menyampaikan message (pesan) dalam bentuk kata-kata atau kalimat, mengajak komunikan untuk tidak terlibat dalam tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Teknik ini dapat menyebabkan kegelisahan, ketakutan, dan rasa ingin tahu. Ibrahim AS telah menggunakan teknik ini: 

يٰۤـاَبَتِ لَا تَعۡبُدِ الشَّيۡطٰنَ‌ ؕ اِنَّ الشَّيۡطٰنَ كَانَ لِلرَّحۡمٰنِ عَصِيًّا يٰۤاَبَتِ اِنِّىۡۤ اَخَافُ اَنۡ يَّمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ فَتَكُوۡنَ لِلشَّيۡطٰنِ وَلِيًّا‏

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Mahapemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Mahapemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan". (Maryam: 44-45). 

Ibrahim menjelaskan akibat dari mempersekutukan Allah kelak akan mendapat azab-Nya dan termasuk kawan setan, dengan demikian ia berharap ayahnya mau meninggalkan kebiasaan menyembah berhala dan bersedia beribadah hanya kepada Allah SWT. Namun pada akhirnya masalah hidayah semuanya ada di tangan Allah SWT. Disamping itu ada lagi teknik mencampurkan antara teknik at-targhīb dan at-tarhīb sebagaimana  QS asy-Syuara: 70-87 dan QS al-Ankabut: 16-17. 

Sebetulnya dalam Alquran banyak sekali pelajaran yang bisa diambil untuk kehidupan kita sehari-hari. Dari Ibrahim kita bisa belajar bagaimana memperlakukan anak dan bagaimana berhadapan dengan orang yang berbeda paham. Di samping itu, untuk mempersuasi perlu seorang komunikator yang kredibel, menggunakan cara yang simpati dan pesan yang logis. 

Deskripsi tentang komunikasi persuasif Ibrahim AS berujung kepada suatu kesimpulan, bahwa kisah-kisah dalam Alquran jika ditelusuri dengan menggunakan pendekatan apa saja, akan didapatkan informasi yang sangat mencerahkan. Sebagaimana firman Allah SWT : 

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (QS Yusuf: 111). Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya."   

*Guru besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

  

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA