Friday, 1 Safar 1442 / 18 September 2020

Friday, 1 Safar 1442 / 18 September 2020

Jawaban Rasulullah Ketika Dituding tidak Adil

Senin 10 Aug 2020 05:57 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah

Jawaban Rasulullah Ketika Dituding tidak Adil

Jawaban Rasulullah Ketika Dituding tidak Adil

Foto: tangkapan layar Reuters/Jumana el-Heloueh
Dalam sejarahnya teryata ada yang berani menuduh Rasulullah tidak adil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad Saw adalah manusia sempurna yang diciptakan Allah sebagai utusan-Nya. Rasululllah selalu berbuat adil kepada umatnya. Namun, dalam sejarahnya teryata ada yang berani menuduh Rasulullah tidak adil.

Baca Juga

Dalam buku Tuhan Ada di Hatimu, Habib Husein Ja’far al-Hadar menceritakan, seorang Muslim bernama Dzul Khumaisarah menegur Nabi, “Wahai Nabi, bagilah harta rampasan perang ini secara adil.”

Maka, Nabi pun berkata kepadanya, “Celakah engkau! Siapa lagi yang dapat berlaku adil jika aku sudah (dikatakan) tak adil. Sungguh celaka dan rugi jika aku tak dapat berbuat adil. Sungguh celaka dan rugi jika aku tak dapat berbuat adil.”

Lalu Sayiddina Umar bin Khattab berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!”. Tapi, Rasulullah kemudian mengatakan,

“Biarkan dia. Sesungguhnya dia mempunyai pengikut, di mana sholat kalian akan tampak remeh jika dibandingkan sholat mereka, begitu pula puasa kalian dibandingkan puasa mereka. Mereka membaca Alquran, tapi Alquran tak melewati tenggorokan mereka (hingga masuk ke hatinya). Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya...”

Habib Husein menjelaskan, Nabi Muhammad adalah manusia teragung yang diciptakan Allah sebagai utusan-Nya yang paling mulia. Bahkan, Alquran mengatakan  sekadar mengangkat suara kita melebihi suara nabi saja dilarang. Ketika para sahabat mengangkat suaranya melebihi nabi, turun Surat Al-Hujarat ayat 2 dalam Alquran, yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari."

Sedangkan Dzul Khumaisirah dalam cerita tersebut berani menuduh Nabi tak adil lantaran urusan harta. Menurut Habib Husein, Nabi menegaskan orang seperti Dzul Khumaisirah akan terus ada. Mereka cakap dalam sholat, konsisten dalam berpuasa, dan hafal Alquran, namun ibadahnya tak pernah sampai ke dalam hatinya.

Orang seperti Dzul Khumaisira tampak sebagai seorang yang sangat Islam secara tampilan dan ibadah, namun hati dan sikapnya tidak memrepresentasikan Islam sama sekali. Ia bahkan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Imam Jauzi menyebut Dzul Khumaisirah sebagai Khawarij pertama.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA