Sunday, 10 Safar 1442 / 27 September 2020

Sunday, 10 Safar 1442 / 27 September 2020

Merasa Kecewakan Rakyat, Menteri Informasi Lebanon Mundur

Ahad 09 Aug 2020 21:54 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Karta Raharja Ucu

Unjuk rasa anti pemerintahan di Beirut, Lebanon, Sabtu (8/8), pecah dan berujung ricuh. Masyarakat berkumpul di kegiatan mereka sebut Aksi Sabtu Menggantung Tali sebagai bentuk protes kepada pemimpin politik. Massa menuntut pemimpin politik bertanggung jawab atas ledakan dahsyat di pelabuhan.

Unjuk rasa anti pemerintahan di Beirut, Lebanon, Sabtu (8/8), pecah dan berujung ricuh. Masyarakat berkumpul di kegiatan mereka sebut Aksi Sabtu Menggantung Tali sebagai bentuk protes kepada pemimpin politik. Massa menuntut pemimpin politik bertanggung jawab atas ledakan dahsyat di pelabuhan.

Foto: EPA-EFE/IBRAHIM DIRANI DAR AL MUSSAWIR
Manal Abdel meminta maaf kepada rakyat atas ledakan yang terjadi.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Menteri Informasi Lebanon, Manal Abdel Samad mengundurkan diri, Ahad (9/8). Pengunduran diri dilakukan karena ia merasa mengecewakan rakyat pascaledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada Selasa lalu.

"Setelah bencana besar di Beirut, saya mengumumkan pengunduran diri saya dari pemerintahan," kata Samad seperti dilansir dari Arab News, Ahad (9/8).

Ledakan tersebut mengakibatkan 150 orang lebih meninggal dunia dan 5.000 orang menderita luka-luka. Samad pun menyatakan permintaan maafnya kepada masyarakat Lebanon karena sebagai pejabat pemerintah telah mengecewakan rakyatnya.

Pascaledakan, demonstrasi besar digelar pada Sabtu (8/8) menuntut pertanggungjawaban pemerintah dengan pengunduran diri. Aksi unjuk rasa tersebut kemudian berujung ricuh dengan lemparan batu dan tembakan gas air mata.

Bukan hanya peserta unjuk rasa, pemimpin Gereja Maronit Lebanon juga meminta seluruh pejabat pemerintah mengundurkan diri. Ledakan besar di Beirut menurutnya sebagai bukti kebusukan aparat negara.

Tokoh kristen Maronit Beshara Rai juga termasuk yang mendesak kabinet Perdana Menteri Hassan Diab untuk mundur. Ray menganggap terjadinya ledakan tersebut adalah sebuah kejahatan kemanusiaan.

“Tidaklah cukup bagi seorang anggota parlemen untuk mengundurkan diri di sini atau seorang menteri untuk mengundurkan diri di sana,” kata Rai.

Ray juga mendesak agar dilakukan penyelidikan internasional atas ledakan itu. Di mana menurut pihak berwenang, ledakan tersebut dipicu oleh kebakaran di gudang pelabuhan, tempat 2.750 ton amonium nitrat. Namun Presiden Lebanon, Michel Aoun menyatakan menolak untuk dilakukan penyelidikan internasional.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA