Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Tempat Berkumpul Berpotensi Jadi Klaster Penularan Corona

Jumat 07 Aug 2020 19:56 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Ajang berkumpul seperti pesta pernikahan harus diwaspadai agar tidak muncul klaster baru penyebaran Covid-19.

Ajang berkumpul seperti pesta pernikahan harus diwaspadai agar tidak muncul klaster baru penyebaran Covid-19.

Foto: ANTARA/Iggoy el Fitra
Pemerintah diminta serius awasi potensi berkumpul agar cegah klaster corona.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Kesehatan Masyarakat Ascobat Gani menganalisis tempat-tempat orang-orang berkumpul berpotensi menjadi klaster baru penularan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19). Di antaranya permukiman, teman satu kelompok olahraga seperti gowes sepeda bisa menjadi klaster baru Covid-19.

Ia menilai saat tinggal di rumah akibat Covid-19, orang mencari kegiatan yang bisa mengisi kebosanan. Kemudian, dia melanjutkan, orang-orang mencari tempat baru untuk berkumpul.

Baca Juga

"Saya melihat anak-anak di permukiman itu berkumpul dan nongkrong di pertigaan, bukan di rumah. Kemudian kelompok olahraga bersama misalnya gowes ketika satu orang positif Covid-19 membuat orang lain menjadi positif dan akhirnya menjadi klaster," ujarnya saat bicara di konferensi virtual Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertema Identifikasi Klaster Baru dan Cara Penularan, Jumat (7/8).

Kemudian ia juga menilai hari bebas kendaraan setiap Ahad jika kembali digelar juga berpotensi menjadi klaster tempat penularan baru meskipun belum diuji. Kekhawatirannya bukannya tanpa alasan, ia menyebutkan pesta pernikahan terlebih dahulu telah menjadi klaster Covid-19.

 

"Tempat-tempat keramaian ini berpotensi menjadi klaster, ketika satu orang masuk, berinteraksi, dan bisa menulari yang lain di tempat-tempat keramaian. Ini berbahaya," katanya.

Di satu sisi, Ia mengakui masyarakat Indonesia memiliki budaya suka berkumpul dan berkerumun sehingga imbauan penerapan protokol kesehatan banyak yang tidak dipenuhi. Karena itu, ia meminta masalah ini harus jadi perhatian serius pemangku kepentingan. Ia meminta pemerintah konsisten terus mensosialisasikan protokol kesehatan. Ia meminta edukasi protokol kesehatan ini diberikan sesuai konteks budaya lokal dan kondisi sosial budaya masing-masing.

"Pengemasan pesan ini sesuai dengan bahasa lokal yang mudah dimengerti oleh masyarakat setempat," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA