Tuesday, 5 Safar 1442 / 22 September 2020

Tuesday, 5 Safar 1442 / 22 September 2020

Panen Perdana, Petani Nikmati Tingginya Harga Gabah

Sabtu 08 Aug 2020 01:37 WIB

Rep: Lilis sri handayani/ Red: Esthi Maharani

Petani Indramayu menggelar panen padi

Petani Indramayu menggelar panen padi

Foto: Kementan
Di awal panen ini, petani menikmati tingginya harga gabah.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Para petani di sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu mulai memasuki masa panen untuk musim tanam 2020. Di awal panen ini, mereka menikmati tingginya harga gabah.

Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten indramayu, Sutatang, menyebutkan, sejumlah daerah yang sudah panen di antaranya Kecamatan Sindang, Terisi, Pasekan dan Kroya. Di daerah-daerah tersebut, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani berkisar antara Rp 4.500 – Rp 4.800 per kilogram (kg).

‘’Harganya berbeda-beda tergantung kualitas gabah yang mereka hasilkan,’’ ujar Sutatang kepada Republika, Jumat (7/8).

Sutatang mencontohkan, untuk Kecamatan Kroya, harga GKP ada di kisaran Rp 4.500 per kg. Pasalnya, kualitas gabahnya kurang bagus akibat kurangnya pasokan air. Sedangkan di daerah Kecamatan Sindang dan Pasekan, harga GKP sekitar Rp 4.800 per kg karena kualitas gabahnya bagus seiring cukupnya ketersediaan air.

Sutatang menilai, harga GKP di tingkat petani saat ini terbilang cukup bagus. Menurutnya, petani masih bisa memperoleh keuntungan.

‘’Harga gabah di tingkat petani saat ini masih diatas HPP (harga pembelian pemerintah),’’ tukas Sutatang.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah atau Beras, GKP di tingkat petani mencapai Rp 4.200 per kg dan di penggilingan seharga Rp 4.250 per kg.

Sutatang menambahkan, dengan tingginya harga saat ini, petani lebih memilih menjual gabahnya ke pasaran dibandingkan ke Bulog. Pasalnya, ada selisih harga antara HPP yang ditetapkan dengan harga di pasaran.

‘’Petani kan mau dapat untung. Jadi pilih jual ke pasaran karena lebih mahal,’’ tutur Sutatang.

Selain harganya yang cukup tinggi, lanjut Sutatang, produksi panen dari daerah-daerah yang sudah panen juga cukup bagus. Dia menyebutkan, produksi panen rata-rata mencapai 7,7 ton per hektare. Kondisi tersebut dinilainya karena pasokan air yang relatif cukup pada musim kemarau kali ini.

Salah seorang petani di Kecamatan Sindang, Endra, mengaku bersyukur dengan hasil panen kali ini. Selain harganya yang cukup tinggi, produksi panen juga cukup bagus.

‘’Hasil panennya sebagian langsung saya jual, sebagian lagi saya simpan,’’ terang Endra.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA