Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Sunday, 8 Rabiul Awwal 1442 / 25 October 2020

Mahatma Gandhi

Peringatan Masa Lalu Gandi, Memahami India Hari Ini

Jumat 07 Aug 2020 14:29 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru

Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru

Foto: Indiabooks
Peringatan Gandhi tetap relevan seperti biasanya di India

REPUBLIKA.CO.ID, -- Indonesia dan India kedua mempunyai kesamaan yang teramat mirip, baik itu alamnya maupun budaya. Suasana wilayahnya pun hampir sama pula. Bila melihat langsung India, sangat mirip dengan Indonesia.

Apalagi, bagi orang Jawa atau mereka yang tinggal di Jawa, banyak nama orang dan nama wilayah yang senada dengan nama dari bahasa asal India, Sansekerta. Semua tahu pengaruh India sangat kental di sini. Ingat Indonesia sekarang di masa kolonial lalu disebut Hindia Timur atau Hindia Belanda (India yang menjadi milik Belanda).

Belum lagi soal pajak tanah misalnya. Orang Hindia Belanda baru tahu soal ini ketika Raffles menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda. Dia mengenakan, sekaligus menjalankan pajak tanah, dengan montoh model pajak ini dengan mengaca pada keberhasilan kolonial Inggris di India.

Bahkan bangunan yang besar seperti candi di Indonesia banyak yang terpengaruh dari negara itu. Ini kontras dengan India sendiri, meski negara itu mayoritasnya beragama Hindu namun peninggalan bangunan dan budayanya banyak yang terpengaruh Islam. Tak hanya nama orang, nama kota dan bangunan -- seperti ikon cinta legendaris Taj Mahal-- misalnya ternyata peninggalan budaya kerajaan Islam (Kesultanan Mugah).

Persamaan ini makin berati sebab di zaman perjuangan kemerdekaan para  pendiri kedua bangsa ini ternyata saling bekerja sama dengan erat dan bahu membahu. Banyak peristiwa heroik di zaman revolusi Indonesia menjadi saksinya. Dan uniknya lagi, tahun mendapat kemerdekaan baik Indonesia dan India hampir bersamaan, yakni pada dekade pertengahan 1940-an.

Pada sisi lain, bila kemudian di India sampai kini lestari juga cita-cita yang menyatakan bahwa India adalah Hindu, di Indonesia pun sama. Sejak lama para pendiri bangsa Indonesia juga berdebat soal perlunya negara ini menjadi 'negara Islam' seperti dikatakan Ki Bagus Hadikusumo dan para ulama lainnya pada sidang BPUPKI beberapa bulan sebelum kemerdekaan. Lagi-lagi uniknya, baik India maupun Indonesia oleh para pendirinya ditetapkan sebagai bukan negara agama. India memilih menjadi negara sekuler dari pada jadi negara Hindu, Indonesia memilih menjadi negara 'jalan tengah' (negara perjanjian agung) yang tidak berdasarkan agama dan sekaligus juga tidak sekuler.

Maka, sejatinya memahami India juga seperti halnya memahami Indonesia. Sampai kapanpun antara soal agama dan kebangsaan akan selalu tarik menarik. Dan Indonesia pantas harus lebih banyak bersyukur, sebab nasibnya tidak setragis India di mana negara ini kemudian terpecah menjadi dua -- India dan Pakistan-- gara-gara soal agama.

Nah, untuk membahas serta memahami itu semua kiranya pantas untuk merenungkan tulisan soal Biografi magisterial sejarawan India, Ramachandra Guha yang ditulis majalah ekonomi terkemuka dunia "The Economist' tahun 2019 yang bertajuk 'Gandhi’s warnings are as relevant as ever' (Peringatan Gandhi sama relevannya dengan sebelumnya). Tulsan ini ada dalam versi daringnya di economist.com.

Tulisan itu seperti ini selengkapnya:

--------------

Stok pahlawan nasional di setiap negara memang selalu berfluktuasi seiring waktu. Selama beberapa dekade Jawaharlal Nehru, perdana menteri pertama India, dihormati di rumah-rumah warga.

Nehru seorang penulis berbakat. Ia menghasilkan buku-buku yang mengesankan saat ditahan di penjara yang dikelola Inggris. Dan ketika berkuasa dia pun mampu menjaga negaranya yang multiagama dengan tetap demokratis dan stabil, meskipun ada tekanan yang sangat besar.

Di luar negeri Nehru mampu membimbing India menjauh dari keterikatan perang dingin. Namun pada hari terkahir ini kekaguman itu memudar: "Mood yang populer di India telah berubah dengan dratis  terhadap Nehru dan warisannya," kata Ramachandra Guha, seorang sejarawan.

Jeritan pilu Partai Kongres, yang pernah menjadi partai dominan India, sebagian menjelaskan perubahan itu. Propaganda resmi digunakan untuk memperebutkan Nehru dan keturunannya, mulai dari era perdana menteri Indira Gandhi hingga Rajiv Gandhi. Dan ketika Partai Kongres berkuasa, setiap ulang tahun dinasti ini dirayakan di papan reklame dan pengumuman pers yang terasa menjilat.

Namun sekarang pudar. Saat ini kaum nasionalis Hindu memegang jabatan dan dengan paksa menolak segala warisan itu. Para penguasa lama diejek karena korupsi, salah urus ekonomi, dan pelemahan militer yang dikatakan telah mereka awasi.

Narendra Modi, perdana menteri saat ini, memang menghormati orang lain. Pahlawan utamanya pun adalah wakil Nehru sendiri, yakni Vallabhbhai Patel, seorang nasionalis yang lebih berotot dan politisi pro-Hindu. Patel mengawasi penggabungan negara-negara pangeran yang dikelola Muslim ke India yang terkadang disertai kekerasan. Bebeerapa waktu lalu sebuah monumen setinggi 182 meter beruapa patung dirinya dan menjadi patung tertinggi di dunia - diresmikan di daerah terpencil Gujarat, negara bagian asal Modi.

Tokoh dan episode sejarah lainnya juga telah kini dievaluasi ulang. Mr Modi telah mendorong penerimaan populer dari Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), sebuah gerakan yang dilarang di bawah Nehru setelah Mohandas Gandhi ditembak mati pada tahun 1948 oleh ekstremis Hindu yang terkait dengannya. Kadang-kadang Mr Modi merayakan Vinayak Damodar Savarkar, seorang 'radikal brilian' yang mencaci Gandhi dan menganjurkan kekerasan terhadap Muslim.

Book with exclusive partition details challenges conventional ...

  • Keterangan gambar: Gandhi dan pendiri Pakistan Muhammad Ali Jinah.

Bagaimana dengan reputasi orang yang paling dihormati di India, yakni Gandhi? Gandhi memang bapak pembangun bangsa terkemuka di India. Dia melakukan lebih dari siapa pun untuk mengamankan akhir pemerintahan kerajaan di India. Kegelisahannya selama puluhan tahun, pembangkangan sipil, pawai, puasa, lobi, pemenjaraan, dan pencarian publisitas - teknik yang pertama kali dipraktikkannya di Afrika Selatan yang dikelola Inggris - lambat laun membuat kebebasan India tak terhindarkan.

Gandhi membangun Kongres dari gerakan seorang elitis ke gerakan massa. Dia mendesak keharmonisan Hindu-Muslim, untuk kepentingan orang 'Dalit' (sebelumnya "tak tersentuh") sekalipun, untuk kesetaraan wanita dan menghindari industrialisasi demi kerajinan berbasis desa.

Dalam semua upaya ini, kecuali yang terakhir, dia membentuk karakter demokratis India hingga di kemudian hari. Yang terpentin lagi, Gandhi juga membina para generasi penerus India, yang salah satu paling jelas jejaknya adalah pada sosok Nehru. Ini agak kontras dengan nasib pecahan India, Pakistan, yang terkesan militeristik, tidak stabil dan seringkali represif. Suasana Pakistan seperti itu di bawah Muhammad Ali Jinnah sangat mencolok.

"Setiap generasi India harus mengunjungi kembali Gandhi untuk menakar diri mereka sendiri," kata Guha dalam biografi barunya yang luar biasa tersebut. Perubahan iklim politik tidak hanya membutuhkan penilaian ulang. Gundukan material warisan yang terkait kepada Gandhi yang terus tumbuh membutuhkan pemindahan yang konstan. Dahulu Gandi kadang-kadang membuat 80 surat seminggu; Koleksi karyanya mencapai 97 volume. Peneliti, termasu Guha, juga terus menggali tulisan-tulisan yang terabaikan.
Mereka semua adalah jiwa yang agung. Guha misalnya tidak seagung Gandi dan juga tidak menjadi orang suci.

Dalam tulisan di buku biografi Guha ini - yang kedua dari dua jilid - dimulai pada tahun 1914, saat subjeknya kembali dari Afrika Selatan. Narasinya begitu simpatik serta tidak perlu dirinci di beberapa tempat: sayangnya, sebagian besar mungkin menghalangi banyak calon pembaca bertanya. Dia menyampaikan permainan kata Gandhi serta kecerdasannya. Memberikan nasihat kesehatan yang tiada habisnya kepada para korespondennya. Bahkan Gandhi pun menyebut Guha dengan mencela diri sendiri sebagai seorang dokter "dukun".

"Tuan Guha merayakan keahliannya dengan pena,'' kata Seepersad Naipaul (ayah dari penulis terkemuka India V.S Naipul) . Dia memuji Gandhi karena menulis suratnya itu dengan penuh semangat dan langsung dengan istilah: "dari perutnya sendiri bukan dari pipinya".

Gandi sebagai Mahatma, atau jiwa yang agung, tidak muncul sebagai orang suci. Gandhi mengakui bahwa dia bisa menjadi "binatang buas" bagi istrinya, Kasturba. Dia sering tidak konsisten, mementingkan diri sendiri atau tidak rasional. Ini misalnya karena ketika dia mengklaim bahwa kebiasaan membujang entah bagaimana dapat mengakhiri kekerasan agama.

Gandhi bosan dalam desakannya bahwa orang lain harus menghindari seks dan kontrasepsi. Dia keliru dalam memberi tahu orang-orang Yahudi Jerman, Ceko dan Inggris untuk tidak melawan penyerang yang bernama kaum Nazi.

Nah, dalam soal itu sejarawan Guha dalam biografinya juga mengungkapkan rahasia yang lama disimpan tersebut. Dia menyebut: Pada 1920-an Gandhi memiliki kegilaan yang berkepanjangan (jika tidak terbangun) dengan keponakan Rabindranath Tagore, seorang penyair Bengali, yang dia panggil istrinya dalam beberapa surat.

Penulis dengan terampil menelusuri evolusi keyakinan politik Gandhi. Misalnya, dia adalah seorang juru kampanye awal melawan perlakuan buruk terhadap Dalit (kaum papa atau terendah dalam struktur kasta di India), namun pada sisi lain, selama atau sebagian besar hidup Gandhi tetap percaya pada pembagian kasta Hindu dan gagal mendukung pernikahan antar kasta (awalnya dia juga menentang persatuan Hindu-Muslim).

Gandhi hanya secara bertahap secara langsung menolak kasta. “Tidak ada Hindu dari kasta atas yang melakukan tantangan sebanyak Gandhi,” tulisan Guha menyimpulkan keyakikannya mengenai soal Gandhi. meyakinkan. Di sini dia menolak kritikus revisionis, berhaluan kiri seperti Arundhati Roy, yang telah memberi label Gandhi sebagai penjual habis kasta.

Banyak detail dalam biografi sejarah buku ini yang terasa masih segar. Lebih dekat dari penulis biografi lain, Guha juga melacak pengaruh yang terlupakan dari sekretaris lama Gandhi, Mahadev Desai. Dia menawarkan hal-hal sepele yang hidup. Gandhi, ternyata, hanya melihat satu film dalam hidupnya dan tidak tahu siapa itu Charlie Chaplin ketika mereka bertemu. Dan memang Gandhi memesona banyak prang yang dia temui. dengan hanya mengenakan cawat, Gandhi melakukan percakapan yang ramah dengan Raja George V, meskipun Paus Vatikan menolak audiensi dengan delegasi India karena keberatan dengan model pakaiannya.

Tapi analisis Guha itu memang paling berharga untuk masalah besar. Bahkan lebih penting daripada mengamankan kemerdekaan, seperti kata Gandhi di mana India harus mencari perdamaian Hindu-Muslim.

Dan karena kesal dengan pertumpahan darah dari sekat agama, Gandhi secara khusus menekan sikap moderat pada sesama umat Hindu. Dia mengabadikan gagasan bahwa India tidak boleh didominasi oleh satu agama, menjadi hanya milik seorang raja Hindu saja. Gandhi melakukan ini semua meskipun karena tahu ini adalah upaya kolonilias Inggris sebelumnya untuk terus membuat antar Muslim dan Hindu saling melawan satu sama lain. Kalau itu pun ada seharusnya semua itu terlepas dari kejenakaan Jinnah, Savarkar dan lainnya belaka yang memicu antipati untuk keuntungan partisan yang sempit.

Jadi akan sembrono (India)  untuk melupakan peringatan Gandhi? Tapi, dengan alasan yang bagus, sejarawan Guha dalam biografinya memang hawatir hal itu benar-benar akan terjadi. Pada saat nasionalisme Hindu semakin keras, serangan kasar terhadap Gandhi telah menjadi rutinitas online: "yang mengkhawatirkan, ada kekecewaan yang lebih luas terhadap gagasan Gandhi tentang pluralisme agama," kata Guha.

Maka, orang-orang seperti Narendra Modi mungkin menawarkan basa-basi kepada Gandhi, tetapi kemudian mereka "berusaha untuk mengurangi statusnya dengan meninggikan pahlawan mereka sendiri," seperti Savarkar.

Lebih dari sebelumnya, mungkin, orang India dan orang luar akan mendapat manfaat dan berkenalan kembali dengan keyakinan Gandhi yang selalu berada dalam kompromi. Dan ini adalah atatan magisterial sejarawan Guha tentang seorang pria yang penuh kasih serta memberikan kesempatan pada generi penerusnya dengan tepat waktu.

Namun (perlu disadari), seperti yang diketahui Gandhi, pada akhirnya justru aktor politiklah sebagai penentu. Dan itu sama sekali bukan pada sosok seorang cendikia atau penulis.  Aktor politik itulah yang membawa perubahan nyata.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA