Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Bank Dunia Siap Kerahkan Dana Pemulihan Ledakan Lebanon

Kamis 06 Aug 2020 20:55 WIB

Red: Nur Aini

Warga mengendarai skuter dan sepeda motor di depan sebuah rumah yang hancur akibat ledakan dahsyat Selasa di pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.

Warga mengendarai skuter dan sepeda motor di depan sebuah rumah yang hancur akibat ledakan dahsyat Selasa di pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.

Foto: AP/Hussein Malla
Bank Dunia akan membantu penggalangan dana untuk mendanai pembangunan Lebanon

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kelompok Bank Dunia, Rabu (5/8), mengatakan siap mengkaji kerusakan dan kebutuhan Lebanon untuk memulihkan diri dari ledakan hebat di pelabuhan Beirut. Bank Dunia mengatakan akan membantu menggalang dana publik dan swasta untuk mendanai pembangunan kembali dan pemulihan.

Melalui pernyataan, Bank Dunia mengatakan pihaknya "juga akan bersedia memprogram kembali sumber-sumber yang ada saat ini serta mencarikan dana tambahan untuk mendukung pembangunan kembali kehidupan masyarakat yang terdampak oleh bencana ini."

Bank tersebut tidak menunjukkan sumber daya mana yang dapat dialihkan untuk upaya pemulihan pascaledakan. Pada Juni, lembaga pemberi pinjaman pembangunan multilateral itu mengumumkan akan mengalokasikan kembali 40 juta dolar AS (sekitar Rp 580 miliar) dari program kesehatan saat ini senilai 120 juta dolar (sekitar Rp 1,7 triliun) bagi Lebanon untuk membantu negara itu memerangi pandemi virus corona.

Baca Juga

Sedikitnya 135 orang tewas dan 5.000 lainnya luka-luka dalam ledakan pada Selasa (4/8) di pelabuhan Beirut. Insiden itu juga menyebabkan sekitar 250.000 orang kehilangan tempat tinggal setelah beberapa ledakan susulan mengguncang banyak bangunan.

Pada Rabu, juga tidak ada kejelasan apakah bencana itu akan mengubah negosiasi alot Lebanon dengan Dana Moneter Internasional (IMF). IMF dan Lebanon sejak Mei telah mencoba menyusun paket dana talangan lebih luas untuk membendung krisis keuangan, yang dipandang sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas negara itu sejak perang saudara 1975-90. Perundingan tersebut macet di tengah ketidaksepakatan mengenai skala kerugian finansial dalam sistem perbankan Lebanon.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA