Kamis 06 Aug 2020 17:00 WIB

Kerugian Akibat Ledakan Lebanon Capai 15 Miliar Dolar

Ledakan membuat operasi pelabuhan di Beirut terhenti sementara.

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah
Asap mengepul dari lokasi ledakan yang melanda pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.
Foto: AP/Hussein Malla
Asap mengepul dari lokasi ledakan yang melanda pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Gubernur Beirut Marwan Abboud mengatakan total kerugian yang disebabkan ledakan pada Rabu (5/8) kemarin diperkirakan mencapai 15 miliar dolar AS. Di stasiun televisi Al Hadath TV pada Kamis (6/8) Abboud mengatakan angka itu termasuk hilangnya bisnis saat krisis ekonomi masih berlangsung.

Ledakan yang terjadi di Hangar 12 pelabuhan Beirut itu membuat operasi pelabuhan terhenti sementara dan kapal-kapal terpaksa masuk ke pelabuhan yang lebih kecil. Pelabuhan Beirut merupakan gerbang utama impor negara berpopulasi enam juta jiwa itu.

Baca Juga

Pada Rabu (5/8) Bank Dunia mengatakan akan bekerja sama dengan mitra-mitra mereka di Lebanon dalam memobilisasi dana publik dan swasta yang dikumpulkan untuk memulihkan dampak ledakan. Tapi belum diketahui dampak apa yang terjadi pada Lebanon.

Presiden Michel Aoun mengatakan ledakan berasal dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di dalam gudang di pelabuhan selama enam tahun. Ia berjanji akan menggelar penyelidikan dan membawa siapa pun yang bertanggung jawab ke pengadilan.

Salah satu pejabat pemerintah yang mengetahui proses penyelidikan awal mengatakan insiden ledakan terjadi karena 'pengabaian dan tidak adanya tindakan' dari pemerintah. Sumber yang tidak disebutkan namanya tersebut mengatakan 'tidak ada yang dilakukan' untuk menyingkirkan bahan mudah meledak itu dari pelabuhan.

Amonium nitrat tidak hanya digunakan sebagai bahan utama pupuk tapi juga untuk meledakan tambang. Sejumlah media melaporkan adanya pesawat atau drone di sekitar lokasi ledakan dan sejumlah warga Beirut juga mengaku melihat rudal sesaat sebelum ledakan.

Namun pemerintah Lebanon membantah ledakan itu dipicu oleh serangan. Sumber dari pasukan keamanan Lebanon mengatakan percikan api berasal dari pengelasan.

Kepala Staf Gedung Putih Mark Meadows mengatakan pemerintah Amerika Serikat (AS) tidak akan membuang kemungkinan ledakan tersebut disebabkan oleh serangan. Meadows menambahkan hingga saat ini AS masih terus mengumpulkan data intelijen.

Warga yang turut merasakan ledakan mengatakan mereka tidak pernah mengalami ledakan serupa selama perang sipil yang terjadi sejak tahun 1975 hingga 1990. Lebanon juga kerap mengalami serangan bom, kerusuhan dan perang dengan Israel.

"Pertama kami mendengar satu suara, lalu yang kedua ada ledakan besar, semua hal hancur, saya melihat orang terlempar lima atau enam meter," kata Ibrahim Zoobi yang bekerja di pelabuhan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement