Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Doni Minta Influencer tak Sebar Info Palsu Soal Obat Covid

Kamis 06 Aug 2020 14:34 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Andri Saubani

Doni Monardo.

Doni Monardo.

Foto: ANTARA/PUSPA PERWITASARI
Doni Monardo menegaskan hingga kini belum ada obat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ketua Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta influencer tidak membuat pernyataan yang tidak benar terkait pandemi Covid-19. Termasuk, informasi mengenai sudah ditemukannya obat Covid-19.

Menurut Doni, Satgas akan dengan senang hati menerima masukan dari pihak manapun jika memang ada informasi mengenai obat tradisional yang bisa berdampak pada ketahanan tubuh manusia. Namun, saat obat tradisional itu disebut obat untuk Covid-19, jelas tidak benar.

"Tidak boleh ada yang mengklaim ini obat tradisional jadi obat Covid-19. Berbahaya karena pada saat ini ada publik figur yang menyebut bahwa ini (obat tradisional) adalah obat virus," ujar Doni menanggapi video Anji dan Hadi Pranoto terkait klaim obat, di Gedung Pakuan, Bandung, Kamis (6/8).

Hingga saat ini, kata Doni, belum ada pihak manapun yang berhasil menemukan obat virus ini secara medis. Bahkan, vaksin Covid-19 saat ini masih dalam tahap uji klinis.

"Sampai sekarang obatnya belum ada. Kalau jamu atau herbal seperti itu memang banyak warga kita yang melakukannya (meminuman herbal) sejak lama," katanya.

Doni mengatakan, tidak ada yang salah dengan penggunaan obat herbal untuk menangkal berbagi jenis penyakit. Namun, ketika obat itu ingin diperjualbelikan agar dikonsumsi banyak orang maka baiknya melalui serangkaian uji klinis. Termasuk mendapat izin edar dari BPOM dan Kementerian Kesehatan.

Doni pun mengimbau pada masyarakat agar tidak terpancing dengan berbagai informasi tak valid terkait Covid-19. Termasuk dengan keberadaan obat yang diklaim sejumlah pihak sudah ada dan bisa digunakan.

"Kalau obat yang benar (Covid-19) nanti akan ada pengumuman resmi dari Kementerian Kesehatan," katanya. 

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, hingga kini BPOM tidak pernah memberikan persetujuan klaim khasiat obat dari Hadi Pranoto yang dapat menyembuhkan pasien Covid-19. Penny kepada wartawan di Jakarta, Kamis (6/8), mengatakan dari data yang terdaftar di BPOM produk herbal yang dinyatakan dalam informasi tersebut adalah Produk Obat Tradisional yang memiliki merek dagang Bio Nuswa dengan klaim yang disetujui yaitu membantu memelihara daya tahan tubuh.

"Produk Bio Nuswa tersebut didaftarkan oleh PT Saraka Mandiri dengan Nomor Izin Edar POM TR 203 636 031 berlaku mulai 14 April 2020 hingga 14 April 2025," kata dia. Namun sampai saat ini, kata Penny, PT Saraka Mandiri belum pernah memproduksi produk Bio Nuswa.

Terkait obat herbal temuannya, Hadi Pranoto kepada Republika menjelaskan, berasal dari tumbuh-tumbuhan alam Indonesia, seperti manggis, sirsak, kelapa, pegagan, bawang putih dan beberapa bahan alam lainnya. Hadi mengklaim, obat herbal temuannya aman dan tanpa efek samping saat dikonsumsi. Ia menegaskan, obat herbal tersebut bukan vaksin tapi dapat memberikan kekuatan pada tubuh manusia guna melawan Covid-19.

"Ini masalah emergensi kemanusian yang harus kita prioritaskan. Untuk menangani dan membantu saudara-saudara kita yang saat ini terjangkit Covid-19. Saya harap ini bisa meringankan beban pemerintah dan membantu masyarakat dalam penanganan penyakit ini," terang Hadi.

Baca Juga

photo
Mengenal Obat Covid-19 Bernama Dexamethason - (Data Republika)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA