Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Respons Ledakan Beirut, Jokowi: Indonesia Bersama Lebanon

Kamis 06 Aug 2020 11:23 WIB

Rep: Sapto Andika Candra / Red: Ratna Puspita

Presiden RI, Joko Widodo

Presiden RI, Joko Widodo

Foto: BPMI
Ledakan Beirut tewaskan sedikitnya 135 orang dan lebih dari 5.000 orang terluka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pesan duka cita untuk masyarakat Lebanon. Jokowi merespons ledakan dahsyat yang melanda area pelabuhan di ibu kota Beirut pada Selasa (4/8). Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 135 orang dan lebih dari 5.000 orang terluka.  

"Saya turut berbela sungkawa untuk saudara-saudariku di Lebanon. Dalam kejadian tragis dan menyakitkan ini, Indonesia berdiri bersama Lebanon. Doa kami untuk keluarga dan korban ledakan dahsyat di Beirut," tulis Jokowi dalam cuitannya di media sosial, Kamis (6/8). 

Hingga hari ini, tim evakuasi dan penyelamat Lebanon masih terus melakukan pencarian jenazah serta warga yang hilang pasca-ledakan mengguncang Beirut. Hingga Rabu (5/8), sedikitnya 135 orang telah dilaporkan tewas.

Baca Juga

Menteri Kesehatan Lebanon Hamad Hassan mengungkapkan ledakan telah menyebabkan lebih dari lima ribu orang terluka. Sementara puluhan warga lainnya masih dinyatakan hilang. Pemerintah telah mengumumkan tiga hari berkabung dimulai pada Kamis (6/8).

"Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kengerian yang melanda Beirut tadi malam, mengubahnya menjadi kota yang dilanda bencana," kata Presiden Lebanon Michel Aoun.

Dia berjanji pemerintah akan menyelidiki peristiwa ledakan secara tuntas dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Hal itu guna meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak terlibat.

Ledakan di Beirut berasal dari sebuah gudang yang berlokasi di dekat pelabuhan. Menurut Aoun, gudang itu menyimpan 2.750 ton amonium nitrat, bahan kimia yang digunakan untuk memproduksi pupuk dan bahan peledak.

Aoun menyebut amonium nitrat telah berada di gudang tersebut selama enam tahun. Tak ada langkah pengamanan yang diterapkan setelah bahan kimia itu disita. 

Sumber resmi yang mengetahui investigasi awal menyalahkan insiden ledakan sebagai kelambanan dan kelalaian. Dia mengatakan tidak ada yang dilakukan oleh komite dan hakim yang terlibat dalam masalah tersebut untuk memerintahkan pemusnahan atau pelenyapan amonium nitrat tersebut.

Menurut sumber-sumber di kementerian kabinet memerintahkan pejabat pelabuhan yang terlibat dalam menyimpan atau menjaga amonium nitrat di gudang sejak 2014 untuk dimasukkan ke dalam tahanan rumah. Kabinet pun telah mengumumkan keadaan darurat selama dua pekan di Beirut. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA