Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Saturday, 20 Rabiul Akhir 1442 / 05 December 2020

Pengadilan Kasus Bom Mantan PM Lebanon Ditunda

Kamis 06 Aug 2020 08:58 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Bom mobil meledak menghancurkan iring-iringan kendaraan Rafik Hariri. Pengadilan menunda putusan persidangan atas pengeboman pada 2005 yang menewaskan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik al-Hariri.

Bom mobil meledak menghancurkan iring-iringan kendaraan Rafik Hariri. Pengadilan menunda putusan persidangan atas pengeboman pada 2005 yang menewaskan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik al-Hariri.

Persidangan ditunda karena terjadi ledakan besar di pelabuhan Beirut

REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM -- Pengadilan menunda putusan persidangan atas pengeboman pada 2005 yang menewaskan mantan Perdana Menteri Lebanon Rafik al-Hariri hingga 18 Agustus. Persidangan ditunda karena terjadi ledakan besar di pelabuhan Beirut pada Selasa (4/8) yang menewaskan 135 orang dan melukai 5.000 lainnya.

Pengadilan yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berlokasi di luar Den Haag, Belanda dijadwalan memberikan putusan dalam persidangan terhadap empat pelaku di balik pembunuhan Hariri dan 21 orang lainnya. Persidangan rencananya digelar pada Jumat (7/8) esok.

"Vonis telah ditunda untuk menghormati korban dari ledakan dahsyat yang mengguncang Beirut pada 4 Agustus dan menghormati hari berkabung selama tiga hari di Lebanon," ujar pernyataan pengadilan.

Sebelum ledakan, Lebanon telah bersiap untuk mendengar putusan pengadilan dalam kasus pengeboman yang menewaskan Hariri 15 tahun lalu. Keempat terdakwa akan diadili secara in absentia. Mereka terkait dengan kelompok Hizbullah.

Hariri meninggal dunia oleh bom truk besar di tepi pantai atau sekitar dua kilometer dari pelabuhan. Ada spekulasi bahwa ledakan yang terjadi di Beirut terkait dengan putusan pengadilan terhadap kasus pembunuhan Hariri.

Foto-foto yang beredar menunjukkan, ledakan telah menghancurkan bangunan-bangunan di pelabuhan yang menjadi pintu masuk utama untuk bantuan pangan. Lebanon bergantung pada impor makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi lebih dari enam juta penduduknya.

Ledakan tersebut mengancam krisis kemanusiaan baru di negara yang menampung ratusan ribu pengungsi Suriah. Selain itu, Lebanon telah mengalami krisis ekonomi berkepanjangan dan memiliki beban utang terbesar di dunia.

Ledakan besar itu telah memecahkan kaca sejumlah bangunan di wilayah pantai Mediterania. Bahkan efek ledakan mencapai Siprus, sebuah pulau yang terletak 180 mil di seberang laut Beirut. Seorang warga di Nicosia mengatakan rumah dan daun jendelanya bergetar karena ledakan.

Ledakan yang sangat besar membuat warga Beirut kembali terkenang dengan konflik selama perang saudara pada 1975-1990. Mereka mengira efek guncangan yang ditimbulkan dari ledakan itu adalah gempa. Sejumlah orang mencari kerabat mereka di rumah sakit terdekat.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA