Tuesday, 5 Safar 1442 / 22 September 2020

Tuesday, 5 Safar 1442 / 22 September 2020

Efesiensi Kata, Tuntunan Rasulullah untuk Orang yang Beriman

Rabu 05 Aug 2020 23:03 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Rasulullah SAW menganjurkan untuk efesiensi kata semanfaat mungkin. Muhammad (Kaligrafi)

Rasulullah SAW menganjurkan untuk efesiensi kata semanfaat mungkin. Muhammad (Kaligrafi)

Foto: Wikipedia
Rasulullah SAW menganjurkan untuk efesiensi kata semanfaat mungkin.

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah kata mempunyai arti dan ibarat layaknya senjata tajam. Lewat kata, manusia dapat meneguk penghormatan ataupun kebahagiaan.

Baca Juga

Namun sebaliknya, dengan kata pula, manusia dapat terjerembab dalam lubang nista yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Oleh karenanya, sebagai manusia beriman, kita dituntut untuk menjaga kata yang keluar dari mulut kita.

Pepatah mengatakan, 'mulutmu, harimaumu'. Selain menjaga, manusia juga dituntut untuk memanfaatkan kata-katanya, tentu hanya dengan mengeluarkan kalimat yang bermanfaat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: 

من حُسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

''Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.'' (HR Tirmidzi).

Perkara yang tidak bermanfaat banyak ragamnya, bisa berupa perkataan atau perbuatan yang haram, makruh, atau perkara yang mubah yang kecil manfaatnya. Oleh karena itu, kita dituntut untuk selalu mengucapkan kata-kata yang mengandung manfaat dan menghindarkan diri dari kesalahan.

Jika meragukan, sebaiknya diam. Rasulullah SAW bersabda:  

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

 ''Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia mengucapkan yang baik-baik atau diam.'' (HR Bukhari).

Di samping dituntut agar selalu berkata-kata yang kaya manfaatnya, Islam juga melarang untuk melakukan perdebatan yang dapat membangkitkan emosi, permusuhan, murka, atau menimbulkan dendam.

Hal fundamental lainnya yang dapat menjerumuskan manusia adalah melakukan percandaan yang kelewat batas. Kendati demikian, bukan berarti Islam melarang bercanda, berhumor, atau menghibur diri. Tetapi, anjuran Islam sebagai agama yang suci adalah jangan menghabiskan keseluruhan waktu hanya untuk bercanda atau membuat orang tertawa.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

''Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena sesungguhnya tertawa itu dapat mematikan hati.'' (HR Ibnu Majah).

Dengan berlebihan melakukan tawa, humor, dan sejenisnya, hati kita akan tumpul dan ditakutkan terbuai oleh humorisme semata. Perbuatan-perbuatan tersebut sebaiknya dijauhkan dari kehidupan kita jika ingin menapaki kebahagiaan di akhirat. Pergunakanlah kata-kata untuk suatu yang banyak mandatangkan manfaat serta barakah. Niscaya kita akan terhindar dari kebutaan hati dan hampa pahala

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA