Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Kontraksi Ekonomi RI Lebih Minim Dibanding Negara Lain

Rabu 05 Aug 2020 13:43 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nidia Zuraya

Staf Khusus Presiden, Arif Budimanta

Staf Khusus Presiden, Arif Budimanta

Foto: darmawan / republika
Pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen pada Kuartal II 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perekonomian nasional pada kuartal II 2020 dilaporkan tumbuh minus 5,32 persen (yoy). Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebutkan bahwa secara kuartalan, PDB Indonesia tumbuh minus 4,19 persen dari kuartal I lalu. Kondisi ini merupakan imbas dari pandemi Covid-19 yang tak hanya menekan perekonomian nasional, tapi juga global.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Arif Budimanta, menilai bahwa dampak yang dialami Indonesia masih lebih minimum ketimbang negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Singapura misalnya, ekonominya tumbuh minus 12,6 persen dan Jepang yang diprediksi kontraksinya sampai 10 persen.

"Ini namanya transisi baik dari sisi pasokan dan permintaan. Dibandingkan dengan negara mitra dagang utama itu, seperti Korea Selatan, kita masih relatif walaupun terkontraksi relatif lebih minimum dibandingkan yang dihadapi negara mitra dagang utama," jelas Arif, Rabu (5/8).

Arif menyebutkan, Indonesia bisa menahan laju kontraksi lebih dalam lantaran sudah disiapkan bantalan berupa bantuan sosial. Bansos memang menjadi jaring pengaman yang disiapkan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

"Karena kita sudah siapkan program counter cyclical pertama yang dari awal diberikan pemerintah. Bantuan sosial, program padat karya. Ini concern Presiden menjadi sangat signifikkan karena dari demand side itu bisa terus menggerakkan perekonomian," jelasnya.

Di sisi lain pemerintah juga mengoptimalkan belanja pemerintah untuk mengoptimalkan pertumbuhan. Belanja pemerintah ini diharapkan dapat memperbaiki daya beli dan menumbuhkan sisi permintaan (demand) yang berujung pada pulihnya sisi suplai.

"Demand nanti akan menggerakan suplai agar kemudian di kuartal III ekonomi nasional kita bisa bangkit tapi tetap tumbuh berkualitas. Rating job lebih banyak, dan bisa menggerakan ekonomi," kata Arif.

Arif kembali mengingatkan bahwa kontraksi ekonomi tak hanya dialami Indonesia namun juga banyak negara lain di dunia. Seluruh dunia, ujarnya, menganggap lemahnya ekonomi saat ini sebagai masalah bersama.

Seperti diketahui, perekonomian Indonesia terus menunjukkan perlambatan sejak kuartal I 2020 ini. Pada kuartal IV tahun 2019 lalu, PDB nasional mampu tumbuh 4,97 persen. Lantas melambat menjadi 2,97 persen pada kuartal I dan minus 5,32 persen pada kuartal II 2020.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA