Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Kisah Wanita Dhaif Menyelamatkan Ulama dari Kelalaian

Rabu 05 Aug 2020 07:55 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Ani Nursalikah

Kisah Wanita Dhaif Menyelamatkan Ulama dari Kelalaian

Foto:
Ulama bani Israil putus asa dan sedih karena istri yang dicintai meninggal.

Kisah Wanita Dhaif Menyelamatkan Ulama dari Kelalaian

Cukup lama wanita itu menunggu di depan pintu. Wanita itu sudah tidak sabar ingin segera bertamu dengan orang alim itu.

"Aku harus bisa bertemu dengannya," katanya dalam hati.

Di luar dia wanita itu mendengar percakapan orang yang mengantarnya dengan orang alim itu. "Ada seorang wanita di depan pintu ingin meminta fatwamu. Wanita itu bersikap ia hanya ingin bicara denganmu," begitu percakapan yang didengar oleh wanita di balik pintu.

"Suruh dia masuk," kata orang alim dan juga jawaban itu terdengar oleh wanita.

Rasa penasaran takut tidak bisa diterima akhi‎rnya kandas juga. Ternyata orang alim itu mau menemuinya. Setelah semua orang yang mengantarkan itu mempersilakan masuk dan meninggalkan rumah, wanita itu langsung berkata setelah mengucapkan salam.

"Aku datang untuk meminta fatwamu dalam suatu perkara," katanya.

"Apa itu," tanya orang alim itu sambil tidak menampakkan mukanya kepada wanita itu.

Meski wajah sang kiai dari golongan Bani Israil itu tidak menatap wajahnya, wanita itu melanjutkan apa yang ingin disampaikannya. "Aku meminjam perhiasan dari tetanggaku. Aku memakannya dan meminjamkannya beberapa waktu, kemudian mereka memintaku untuk mengembalikannya. Apakah aku harus mengembalikannya?" kata wanita itu panjang lebar.

"Ya demi Allah," singkatnya.

Wanita itu kembali berkata. "Perhiasan itu telah berada padaku selama beberapa waktu," katanya.

Kali ini orang alim itu menjawabnya lebih panjang,untuk mempertegas apa yang disampaikannya tidak perlu diulangi lagi. "Hal itu lebih wajib atasmu untuk mengembalikannya pada mereka ketika mereka meminjamkannya beberapa waktu," katanya.

Wanita itu kembali menimpalinya, kali ini jawabannya lebih pada apa yang ingin ‎disampaikannya, bukan fatwa tapi sebuah perumpamaan berupa nasihat untuk orang alim yang sedang tesesat. "Semoga Allah merahmatimu. Apakah kamu menyesali apa yang Allah pinjamkan kepadamu, kemudian Dia mengambilnya darimu sementara Dia lebih berhak daripada dirimu?"

Orang alim itu terkejut dengan perkataan akhir yang disampaikan wanita itu. Selama ini ia tidak sadar apa yang telah dilakukannya selama ini keliru telah menutup diri tidak mau menerima orang setelah ditinggalkan mati oleh istri tercinta‎.

"Perkataan wanita itu benar aku telah menzalimi diriku sendiri ampuni atas kelalaianku ya Allah," katanya dalam hati sambil memejamkan mata. Setelah membuka matanya yang basah oleh air mata, wanita itu sudah tidak ada di hadapannya lagi.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA