Selasa 04 Aug 2020 12:05 WIB

China Siapkan Balasan atas Pengusiran Jurnalisnya di AS

China akan mengambil tindakan pembalasan jika semua jurnalisnya diusir dari AS

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih
Bendera Cina-Amerika. China akan mengambil tindakan pembalasan jika semua jurnalisnya diusir dari AS. Ilustrasi.
Foto: washingtonote
Bendera Cina-Amerika. China akan mengambil tindakan pembalasan jika semua jurnalisnya diusir dari AS. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- China akan mengambil tindakan pembalasan jika semua jurnalisnya diusir dari Amerika Serikat (AS). Kepala Editor Global Times, Hu Xijin, mengatakan China juga akan menargetkan jurnalis AS yang ada di Hong Kong.

"Mengingat bahwa pihak AS belum memperbarui visa jurnalis China, pihak China telah mempersiapkan skenario terburuk jika semua wartawan China harus meninggalkan AS. Pihak China akan membalas, termasuk menargetkan wartawan AS yang berbasis di Hong Kong," ujar Hu dalam cicitannya di Twitter.

Baca Juga

AS membatasi visa bagi jurnalis China hingga 90 hari dengan opsi perpanjangan yang efektif mulai 11 Mei. Namun tidak dijelaskan berapa banyak jurnalis China yang terkena dampak atas kebijakan pembatasan visa tersebut. Sebelumnya, China telah mengusir wartawan AS yang bekerja untuk surat kabar New York Times, Wall Street Journal, dan Washington Post.

Beijing mengatakan para wartawan tersebut tidak diizinkan untuk meliput di wilayah China daratan, Hong Kong, maupun Makau. Langkah ini dilakukan setelah pemerintah AS menuding lima media China sebagai misi asing dan membatasi jumlah warga negara China yang bekerja di AS.

Pada Februari, China mengusir tiga wartawan Wall Street Journal. Pengusiran itu terkait dengan pemberitaan tentang pandemi virus corona yang dinilai telah menyudutkan China.

Hubungan antara Washington dan Beijing telah memburuk ke level terendah dalam beberapa dekade. Hal ini disebabkan oleh sejumlah masalah termasuk penanganan China terhadap pandemi virus corona, perdagangan bilateral, dan undang-undang keamanan baru untuk Hong Kong.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement