Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Pengungsi di Liang Terima Hewan Qurban dari ACT Maluku

Selasa 04 Aug 2020 12:49 WIB

Red: Gita Amanda

Aksi Cepat Tanggap (ACT) Maluku mendistribusikan 16 ekor kambing dan lima ekor sapi untuk pengungsi di Desa Liang, Maluku Tengah.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) Maluku mendistribusikan 16 ekor kambing dan lima ekor sapi untuk pengungsi di Desa Liang, Maluku Tengah.

Foto: istimewa
ACT mendistribusikan 16 ekor kambing dan 5 ekor sapi untuk para pengungsi

REPUBLIKA.CO.ID, AMBON -- Tim Global Qurban Aksi Cepat Tanggap (ACT) Maluku mendistribusikan 16 ekor kambing dan 5 ekor sapi untuk para pengungsi di Desa Liang, Maluku Tengah.

Anggota Masyarakat Relawan Indonesia Maluku dan koordinator lapangan kegiatan, Syahril Mewar di Ambon, Selasa (4/8), mengatakan pembagian hewan qurban itu merupakan upaya berbagi kasih dan kebahagiaan dengan para pengungsi dalam momentum Idul Adha 1441 Hijriah.

“Penyembelihan 16 ekor kambing dan 5 ekor sapi dilakukan kemarin (Senin, 3/8) di beberapa titik tenda pengungsian, yaitu Puncak Bun-Bum Menderita dan Rahban," kata Syahril.

Menurut dia, penyaluran hewan qurban dilakukan di kamp pengungsian karena para penyintas gempa masih bertahan di tenda-tenda darurat dengan segala keterbatasan.

Baca Juga

Rustam Samual, salah satu pengungsi di Bun-Bum sangat berterima kasih kepada Aksi Cepat Tanggap yang mendistribusikan hewan qurban. Ia mengaku dirinya dan para pengungsi sangat bersyukur mendapatkan hewan kurban dan bisa menyembelih secara langsung.

"Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada Global Qurban Aksi Cepat Tanggap Maluku yang telah menyalurkan 16 ekor kambing dan 5 ekor sapi untuk kita di tenda pengungsian. Ini menjadi kebahagiaan tersendiri untuk kami para pengungsi," katanya.

Saat gempa 6,5 skala Richter (SR) mengguncang pulau Ambon dan Pulau Seram pada September 2019, banyak warga desa Liang mengungsi ke tempat aman karena takut terkena musibah rumah ambruk atau terjangan tsunami.

Gempa yang kemudian berlanjut hingga mencapai lebih dari 1.000 kali selama 2-3 bulan membuat warga takut kembali ke rumah sampai saat ini, selain karena memang banyak rumah yang rusak parah dan belum diperbaiki.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA