Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Friday, 8 Safar 1442 / 25 September 2020

Anji dan Misinformasi Seputar Covid-19

Senin 03 Aug 2020 18:50 WIB

Red: Indira Rezkisari

Peneliti Hadi Pranoto menunjukkan ramuan herbal untuk antibodi Covid-19,  di Kota Bogor, Jawa Barat. Hadi Pranoto populer setelah tampil di video YouTube musisi Anji yang membahas tentang obat Covid-19 yang diklaim manjur.

Peneliti Hadi Pranoto menunjukkan ramuan herbal untuk antibodi Covid-19, di Kota Bogor, Jawa Barat. Hadi Pranoto populer setelah tampil di video YouTube musisi Anji yang membahas tentang obat Covid-19 yang diklaim manjur.

Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah
Legislator mendorong ada tindakan tegas ke penyebar misinformasi soal Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ali Mansur, Sapto Andika Candra, Rr Laeny Sulistyawati, Antara

Musisi Erdian Aji Prihartanto atau Anji kembali membuat kegaduhan saat menampilkan wawancara dengan Hadi Pranoto di kanal YouTube Anji. Video yang kini sudah dicopot penayangannya oleh YouTube tersebut membahas mengenai obat Covid-19 yang diklaim ditemukan Hadi.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memastikan Hadi Pranoto tidak terdaftar dalam basis data PB IDI. "Setelah kami cek nama Hadi Pranoto yang mengaku profesor dan ahli mikrobiologi itu datanya tidak ditemukan dan tidak terdaftar di database IDI online," kata Humas IDI dr Abdul Halik Malik saat dihubungi dari Jakarta, Senin (3/8).

Halik menjelaskan PB IDI hingga saat ini masih menelusuri data mengenai seseorang yang disebut sebagai Profesor dan ahli mikrobiologi di kanal YouTube milik Anji. "Ya kita coba telusuri info yang benar tentang Prof Hadi dan temuannya," kata Halik.

Video tersebut menuai kontroversi karena klaim seseorang yang disebut-sebut bergelar profesor dan mengklaim dirinya ahli mikrobiologi. Pernyataan Hadi Pranoto dinilai kontroversial karena mengklaim telah menemukan obat Covid-19 yang sudah memberikan kesembuhan ribuan pasien di Indonesia.

Informasi yang disajikan namun masih sumir. Alasannya tidak ada bukti klinis terkait temuan obat yang diklaim telah mengobati ribuan pasien Covid-19 di Indonesia.

IDI mengimbau masyarakat agar tetap kritis dalam menerima informasi yang belum jelas sumber kebenarannya tentang Covid-19 sekalipun mendapati info tersebut dari seorang publik figur. "Masyarakat agar tetap kritis dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sekalipun itu disampaikan oleh publik figur," kata Halik.

Dia menyarankan agar masyarakat selalu memastikan untuk mendapat keterangan lain atau mengecek kembali kebenaran akan informasi pada sumber-sumber informasi yang kredibel dan terpercaya.

Menurut dia, komunikasi publik yang kredibel dan terpercaya sangat penting untuk mencegah terjadinya infodemi di tengah pandemi. Yang dimaksud infodemi di sini adalah penyebaran informasi yang tidak benar secara cepat ke banyak orang dan dapat menyebabkan pandemi Covid-19 bertambah buruk.

"Literasi informasi yang baik diperlukan di tengah maraknya misinformasi dan informasi yang tidak jelas agar tidak membingungkan masyarakat," kata dia.

Ia mengatakan kegiatan sosialisasi dan edukasi seputar Covid-19 dan penanganannya perlu terus disampaikan oleh pemerintah dan para pihak dengan merujuk pada pedoman standar atau protokol kesehatan yang sudah ada. "Mari bersama-sama menggunakan pedoman standar untuk penanganan Covid-19 dan mencegah penularannya dengan menerapkan protokol kesehatan yang sudah ada," kata Halik.

Tindakan Menyesatkan
Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai, penyebaran informasi yang salah adalah penyesatan. Tindakan seperti ini tentu tidak bisa ditolerir.

Maka, sambungnya, jika nyata-nyata merugikan kepentingan umum, harus ada tindakan hukum yang tegas. Mengingat setiap orang tentu dilarang menyebarkan informasi keliru secara sengaja. Apalagi, informasi yang disebarkan itu bertujuan agar membuat orang lain salah.

"Atau informasi tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan sepihak dari pemberi informasi. Saya kira banyak klausul hukum yang bisa diterapkan terkait hal itu," tegas Saleh saat dihubungi Republika.co.id, Senin (3/8).

Oleh karena itu, Saleh meminta agar masyarakat untuk berhati-hati dalam memberikan dan menerima informasi seputar Covid-19. Sebab, informasi merupakan salah satu kunci penting dalam memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Jika informasi yang diberikan salah, akan banyak orang yang terkena dampaknya.

Lanjut Saleh, tentu itu sangat tidak baik di tengah niat baik semua orang dalam memerangi Covid-19. Karena, hal ini menyangkut keahlian khusus, orang yang berbicara mestinya adalah mereka yang memiliki latar belakang pendidikan terkait virus.

Baca Juga



"Kalau semua orang boleh bicara, informasinya akan simpang siur. Bahkan, antara satu dengan yang lain bisa saling tumpang tindih," ungkap politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Dalam hal ini, lanjut Saleh, pemerintah diminta untuk berdiri di barisan depan dalam memberikan informasi. Berbagai informasi yang berserakan di media sosial harus disaring. Jika ditemukan ada yang salah, harus diluruskan. Di situlah pentingnya juru bicara Covid-19 yang dibentuk pemerintah. Tentu di dalam tim juru bicara ada ahli-ahli yang representatif untuk meluruskan dan memberikan informasi valid.

Kemudian, di tengah situasi Covid-19 yang seperti ini, masyarakat banyak yang gelisah. Karena itu, kadang-kadang mudah menerima informasi yang belum terverifikasi. Untuk itu, masyarakat tentu tidak boleh juga ikut menyebarkan informasi salah yang tidak bertanggung jawab.

“Harus saling jaga. Saling mengingatkan. Musuhnya adalah Covid-19. Semua harus bekerjasama untuk melawannya," kata Saleh.

Bukan kali ini saja Anji menjadi sorotan karena membahas mengenai Covid-19 di media sosial. Beberapa waktu sebelumnya Anji juga pernah mendapat kritikan karena pendapatnya mengenai foto jenazah Covid-19 yang diabadikan oleh fotografer National Geographic.

Dalam unggahannya di akun sosial media Instagram itu Anji meragukan mengenai dampak Covid-19 yang mengerikan sebagaimana diberitakan media. Tidak hanya itu, Anji juga mempertanyakan perihal seorang fotografer yang bisa memfoto jenazah Covid-19 sementara keluarga pasien sendiri tidak bisa masuk.

Unggahan Anji di Instagram tersebut pun akhirnya juga dihapus oleh pemilik akunnya sendiri. Anji juga mengutarakan permintaan maafnya kepada Pewarta Foto Indonesia yang sebelumnya telah mengirimkan surat terbuka kepada dirinya.

Klaster Perumahan
Hari ini, terdapat penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 1.679 orang. Dari angka tersebut, Jawa Timur menjadi provinsi yang mencatatkan kasus baru terbanyak, yakni 478 orang.

Menyusul kemudian DKI Jakarta dengan 472 kasus baru, Sulawesi Selatan dengan 97 kasus, Jawa Tengah dengan 95 kasus, dan Sulawesi Utara dengan 78 kasus baru. Dari lima besar provinsi dengan penambahan kasus terbanyak tersebut, hanya Jawa Tengah yang mencatatkan kasus sembuh lebih banyak ketimbang kasus positifnya. Hari ini, ada 110 pasien Covid-19 yang sembuh di Jateng. Bahkan, Sulawesi Selatan mencatatkan nol kasus sembuh pada hari ini.

Namun ada angka yang perlu disoroti dalam laporan Covid-19 hari ini, yakni jumlah spesimen yang diperiksa pada Ahad (2/8) kemarin hanya 14.728 unit. Padahal rata-rata spesimen harian di Indonesia sudah mulai stabil di atas 20.000 unit. Seperti yang sudah-sudah, sedikitnya jumlah spesimen diperkirakan karena sejumlah laboratorium yang libur pada Ahad kemarin.

Jumlah pasien Covid-19 sembuh juga dilaporkan semakin banyak, dengan 1.262 kasus sembuh pada hari ini. Selain itu ada 13 provinsi yang melaporkan jumlah pasien sembuh lebih banyak daripada jumlah pasien positif yang baru.

Sementara jumlah pasien yang meninggal dengan status Covid-19 bertambah 66 orang pada hari ini. Sehingga jumlah kumulatif pasien yang meninggal dunia ada 5.302 orang.  

Bila sebelumnya klaster perkantoran marak dibahas, kini Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat bukan perkantoran yang menjadi klaster terbanyak penularan. Permukiman penduduk menjadi tempat penularan Covid-19 yang terbanyak, setidaknya di DKI Jakarta dan Jatim.

"Klaster (penularan) tertinggi di DKI Jakarta atau Jatim berada di permukiman atau local transmission. Artinya ada seseorang yang positif Covid-19 kemudian yang dia tulari adalah keluarganya, lalu keluarganya sudah belanja ke warung, ikut arisan dan menginfeksi orang-orang lain dalam satu wilayah yang sama," kata Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah saat mengisi konferensi virtual, di akun youtube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bertema Telaah Pergeseran Pemetaan Zonasi Risiko Nasional Covid-19 di 514 Kabupaten/Kota, Senin (3/8).

Angka penularan Covid-19 tertinggi kedua yaitu di pasar tempat pelelangan ikan. Kemudian, ia menyebutkan fasilitas pelayanan kesehatan juga berada di posisi ketiga klaster penularan karena orang yang datang berobat ke tempat telah memiliki gejala dan sakit.

"Keempat, klaster perkantoran yang juga menyumbang angka penularan karena ketika mulai beraktivitas maka mau tidak mau bertemu dengan banyak orang," ujarnya.

Kelima, ia menyebut rumah ibadah juga menjadi klaster penularan. Satgas menemukan beberapa kasus di tempat ibadah.  

Karena itu, ia tak bosan-bosannya mengingatkan masyarakat menerapkan protokol kesehatan dan meminta masyarakat harus hati-hati. "Ada beberapa aktivitas masyarakat yang kebih hati-hati. Pertama adalah kegiatan sosial, karena kita mulai bertemu banyak orang entah tahlilan, pengajian, pernikahan, lamaran yang sudah mulai banyak," katanya.

Intinya, ia meminta masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker wajah, menjaga jarak dimanapun baik di rumah ibadah, asrama, pesantren, panti asuhan, pengungsian, apartemen, kos, permukiman padat, pasar, perkantoran, pelayanan kesehatan, hingga transportasi umum, baik KRL, LRT.

"Tempat-tempat ini jadi contoh orang yang berkumpul dalam jumlah banyak di satu ruangan dalam satu waktu," ujarnya.

photo
Perbandingan Harga Vaksin Covid-19 - (Reuters)



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA