Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Thursday, 18 Rabiul Akhir 1442 / 03 December 2020

Sekolah Fatih Salurkan Salurkan Daging Qurban di Aceh

Senin 03 Aug 2020 11:01 WIB

Red: Fernan Rahadi

Pemotongan daging kurban (ilustrasi)

Pemotongan daging kurban (ilustrasi)

Foto: dokpri
Jumlah qurban yang dipotong sebanyak 21 ekor sapi dan dua ekor kambing.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Di tengah wabah Covid-19 yang melanda dunia, Indonesia serta khususnya Provinsi Aceh, Sekolah Teuku Nyak Arif Fatih Bilingual School dan Fatih Bilingual School tetap berusaha menunaikan anjuran agama yang tertuang pada QS Al-Kautsar ayat 2, yakni berqurban.

"Berkat dukungan seluruh bagian sekolah mulai dari siswa, guru, staf, orang tua dan alumni serta atas Inayah Allah SWT tahun ini diselenggarakan pemotongan dan pendistribusian daging qurban yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya," kata General Manager Teuku Nyak Arif Fatih School, Mustafa Cakallioglu, dalam siaran persnya akhir pekan lalu,

Berbeda, kata dia, karena biasanya pembagian daging qurban berfokus di sekolah yang beralamat di Lamnyong dan Lamlagang Kota Banda Aceh tersebut. "Tahun ini pendistribusian daging qurban diadakan secara sporadis dan langsung ke masyarakat yang membutuhkan dengan pertimbangan protokol kesehatan yaitu mengurangi kerumunan massal," ujarnya.

Mustafa dan Nurhadi Hafman (Pimpinan Fatih Bilingual School) menerangkan tahun ini jumlah qurban yang dipotong sebanyak 21 ekor sapi dan dua ekor kambing. Daging yang didistribusikan mencapai 1.770 paket, di wilayah Kota Banda Aceh dan Aceh besar yaitu Rukoh, Alue Naga, Lambiheu Lambaro, Lamtimpeng, Kopelma Dusun Barat, Lamtengoh, Kajhu, Bak Buloh, Ule Lung, Cot Geundreut, Neuheun, Kampung Arab, Kampung Tiongkok, Lam Ue, Lampulo, Lamnga, Labuy dan wilayah Aceh Besar lainnya. 

Bekerja sama dengan Keucik (kepala desa) daerah masing-masing, daging qurban didistribusikan langsung kepada fakir, miskin, yatim, dhuafa, dan masyarakat yang terkena dampak Pandemi Covid-19.

Tradisi Berqurban di masyarakat Aceh memang sangat kental dan selalu menjadi perhatian. Sehari sebelum Hari Raya Idul Adha masyarakat Aceh juga mengenal istilah Meugang yaitu tradisi memasak daging dan menikmati bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu. 

Secara resmi Meugang telah dinobatkan oleh Kemendikbud sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional sejak 2016 untuk kategori Adat Istiadat Masyarakat, Ritus dan Perayaan-perayaan. Meskipun begitu, dalam situasi yang masih prihatin ini budaya tersebut sedikit banyak terdampak karena adanya keterbatasan yang muncul akibat pandemi ini.

Jika dibandingkan dengan jumlah qurban tahun lalu memang mengalami penurunan namun justru di dalam kondisi memprihatinkan ini jumlah tersebut justru di luar dari harapan semula. "Ketika kondisi ekonomi masyarakat sedang mengalami penurunan justru tidak mengurangi  minat masyarakat untuk ikut berartisipasi namun justru semangat tersebut semakin meningkat guna dapat membantu masyarakat lain yang membutuhkan," kata Mustofa.

Pemotongan diadakan sesuai dengan protokol kesehatan dan sesuai dengan syariat Islam dengan penjagal berlisensi MUI bekerja sama dengan UPTD RPH Banda Aceh berjalan dengan baik dan lancar dengan mengutamakan kebersihan, higienitas dan unsur kesehatan lainnya dengan harapan daging yang didistribusikan dalam kondisi baik, bersih dan sehat.

"Alhamdulillah anjuran berqurban tahun ini telah ditunaikan, mudah-mudahan daging yang didistribusikan dapat mengurangi beban masyarakat ditengah pandemi saat ini dan Allah SWT menerima amal dan qurban kita semua," ujar Mustafa.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA