Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

Thursday, 16 Zulhijjah 1441 / 06 August 2020

30 Tahun Lalu, Irak-Kuwait Berperang Demi ‘Emas Hitam’

Ahad 02 Aug 2020 19:01 WIB

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Nashih Nashrullah

Irak melakukan invansi terhadap Kuwait untuk memperebutkan emas hitam. Bendera Kuwait. Ilustrasi.

Irak melakukan invansi terhadap Kuwait untuk memperebutkan emas hitam. Bendera Kuwait. Ilustrasi.

Foto: topnews.in
Irak melakukan invansi terhadap Kuwait untuk memperebutkan emas hitam.

REPUBLIKA.CO.ID, KUWAIT CITY – Pada dini hari 2 Agustus 1990 silam, tentara Irak di bawah komando Presiden Saddam Hussein melancarkan serangan terhadap negara tetangganya, Kuwait.

Baca Juga

Tidak perlu memakan waktu lama, ibu kota negara kecil yang kaya minyak itu hancur. Kepala negara Kuwait saat itu, Sheikh Jaber al-Ahmed al-Sabar melarikan diri ke Arab Saudi. 

Seorang pensiunan jenderal pasukan Irak pada saat itu, Subhi Tawfiq mendeskripsikan bagaimana serangan itu dimulai. "Ketika saya mendengar berita pagi itu, saya diliputi oleh rasa sakit dan putus asa yang luar biasa," kata Subhi Tawfiq dikutip laman Aljazirah, Ahad.

"Itu adalah hari yang mengerikan bagi kedua negara Teluk, tetapi jelas merupakan awal dari akhir bagi Irak," katanya mengingat peristiwa 30 tahun yang lalu.

Meskipun Irak dan Kuwait memiliki perselisihan perbatasan yang telah berlangsung beberapa dasawarsa, kedua negara menjadi sekutu dekat selama perang 1980-an melawan Iran. 

Kuwait menyediakan dana yang sangat dibutuhkan Irak dalam bentuk pinjaman untuk peralatan militer selama konflik delapan tahun.

Namun demikian, setelah perang Irak-Iran berakhir pada tahun 1988, Irak, yang secara ekonomi jatuh dan sarat dengan hutang yang sangat besar, membutuhkan lebih banyak bantuan keuangan. Irak pun memiliki perhatian pada sumber daya minyak Kuwait yang besar dan berharap untuk memaafkan utangnya.

Segera setelah Kuwait menolak permintaannya untuk melupakan pinjaman, Baghdad meluncurkan serangan ofensifnya. Beberapa pekan kemudian, Hussein menganeksasi Kuwait dan menyatakannya sebagai provinsi ke-19 Irak.

"Dari perspektif Kuwait, Irak selalu menyimpan agenda ekspansionis terhadap Kuwait dan invasi mereka masuk dalam agenda itu," kata Dania al-Thafer, Direktur Gulf International Forum.

"Banyak orang di Kuwait juga berpendapat bahwa invasi itu sebagian besar dimotivasi oleh keinginan Irak untuk mengendalikan cadangan minyak Kuwait yang besar," ujarnya menambahkan. Invasi Irak ke Kuwait kala itu mendapatkan kecaman cepat oleh komunitas internasional yang bergerak untuk mengisolasi Irak secara politik dan ekonomi. 

Pada 6 Agustus, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menuntut penarikan pasukan Irak segera dan tanpa syarat dari Kuwait. PBB juga memutuskan embargo perdagangan, keuangan, dan militer di Baghdad.

Namun pada akhir November, Kuwait masih di bawah pendudukan Irak. DK PBB kemudian mengizinkan penggunaan semua sarana yang diperlukan untuk memaksa Irak keluar dari Kuwait jika pasukannya tidak mundur pada 15 Januari 1991.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (Amerika Serikat) George Bush mengirim pasukan ke Arab Saudi dan mengumpulkan pasukan koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat dengan tujuan melakukan intervensi jika batas waktu tidak dipenuhi. 

Ketika tenggat waktu berlalu, koalisi pimpinan Amerika Serikat meluncurkan Operasi Badai Gurun pada 17 Januari 1991, dengan pembombardiran target yang sengit di Kuwait dan Irak. 

Operasi 43 hari berakhir pada 27 Februari setelah serangan darat 100 jam memaksa Irak untuk menarik pasukannya.

Setelah hampir tujuh bulan pendudukan Irak di Kuwait, Irak akhirnya menerima semua resolusi PBB. Hal itu dilakukan hanya setelah negaranya menderita karena ribuan korban militer dan sipil menimpanya serta kerusakan parah pada infrastruktur Irak yang tak terelakan.

Di Kuwait seluruh lingkungan telah dihancurkan, ratusan warga Kuwait tewas atau disiksa dan sebagian besar sumur minyaknya telah dibakar. Tak lama setelah penghentian permusuhan, Sheikh al-Sabah kembali untuk membangun kembali dan memulihkan Kuwait yang hancur.

Beberapa analis berpendapat Kuwait tidak pernah sepenuhnya kembali ke kemewahan sebelum perang. Namun, negara teluk kecil itu akhirnya mendapatkan kembali keharmonisan domestik meskipun ada kebencian di antara beberapa warga Kuwait terhadap operasi Amerikat Serikat dan terhadap mereka yang melarikan diri dari negara itu selama perang.

Namun demikian, bagi Irak, invasinya sendiri membuka pintu kehancuran selama beberapa dekade. Pada 2003, invasi yang dipimpin Amerika Serikat menghancurkan negara itu dan diikuti oleh konflik sektarian dan munculnya ISIS. 

Hingga hari ini, negara tersebut menderita karena kurangnya layanan dasar dan korupsi yang mengakar di tengah kemarahan yang meningkat atas elit penguasa sektarian yang tidak berbuat banyak untuk meringankan penderitaan rakyat Irak.

Irak menjadi terisolasi oleh negara-negara Teluk. Perang yang dipantik Irak kala itu telah melemahkan negara tersebut secara ekonomi, politik dan militer. Rakyat Irak juga menderita di bawah sanksi yang melumpuhkan dan embargo selama bertahun-tahun yang dikenakan PBB.

"Sanksi dan isolasi membuat Irak berlutut. Setelah perang, seluruh gaji bulanan saya, penghasilan besar pada saat itu hampir tidak bisa membelikan saya sebungkus rokok sekalipun," kenang jenderal purnawirawan angkatan darat Tawfiq. "Invasi itu menghancurkan Irak. Hal-hal hanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk," ujarnya menambahkan.

Efek jangka panjang utama dari Perang Teluk adalah bahwa hal itu membuka jalan bagi keamanan dan kehadiran militer AS yang lebih besar di wilayah tersebut. 

Meskipun keterlibatan AS dalam perang itu datang menyusul permintaan dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya untuk bantuan militer dengan tujuan mengekang ekspansionisme Irak di kawasan itu, Washington memiliki kepentingan yang jelas.

Sejak akhir Perang Teluk pertama, telah ada tanda-tanda utama untuk memperbaiki hubungan regional dan global dengan Irak. Beberapa kekuatan global mendukung Irak dalam operasi militer melawan ISIS sampai kemenangan Baghdad melawan kelompok bersenjata pada 2017. 

Selain itu, beberapa negara Teluk memberikan dukungan keuangan untuk upaya pembangunan kembali pasca-ISIS dan sejak itu menunjukkan minat yang meningkat dalam meningkatkan hubungan bilateral.

Khususnya, Kuwait juga mengabdikan bantuan 30 miliar dolar AS pada 2018 untuk membantu Irak, tetapi 30 tahun kemudian, ingatan akan perang yang menghancurkan masih menghantui banyak orang di Kuwait dan Irak.

 

 

Sumber: https://www.aljazeera.com/news/2020/08/years-iraq-invasion-kuwait-haunts-region-200801131142416.html

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA