Tuesday, 14 Zulhijjah 1441 / 04 August 2020

Tuesday, 14 Zulhijjah 1441 / 04 August 2020

Bila Hewan Kurban Sulit Dibaringkan, Apa Penyebabnya?

Sabtu 01 Aug 2020 00:30 WIB

Red: Nur Hasan Murtiaji

Ketua Cabang Istimewa Muhamadiyah Malaysia Sonny Zulhuda (kiri) bersama panitia Muhammad Aksan menunjukkan sapi kurban saat kegiatan Ibadah Kurban Panitia Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di Tempat Pemotongan Hewan (TPH), Kg Kerdas, Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (31/7/2020).

Ketua Cabang Istimewa Muhamadiyah Malaysia Sonny Zulhuda (kiri) bersama panitia Muhammad Aksan menunjukkan sapi kurban saat kegiatan Ibadah Kurban Panitia Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di Tempat Pemotongan Hewan (TPH), Kg Kerdas, Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (31/7/2020).

Foto: Rafiuddin Abdul Rahman/ANTARA
Sapi yang ngamuk dan sulit dibaringkan pasti ada penyebabnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Ada kalanya kita menjumpai sapi atau hewan kurban lain yang agak sulit dibaringkan. Penampilan sapi yang stres, ngamuk, sulit dikendalikan, berontak, dan sangat sulit dibaringkan, itu pasti ada penyebabnya.

Menurut Direktur Halal Research Centre Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Nanung Danar Dono, beberapa sebab utama sapi berontak atau mengamuk sesaat sebelum disembelih adalah beberapa hal berikut. Pertama, suasana area penyembelihan terlalu yang terlalu gaduh dan ramai. "Keramaian ini membuat sapi stres," kata Nanung kepada Republika.co.id belum lama ini.

Kedua, sapi melihat temannya disembelih atau dikuliti. Hal ini membuat sapi menjadi panik dan makin stres. Ketiga, sapi melihat warna merah dan mencium aroma amis genangan darah temannya. "Sapi semakin gelisah," kata Nanung menjelaskan.

Keempat, sapi melihat temannya dikuliti dan atau dipotong-potong tubuhnya. Kondisi ini menjadikan sapi tidak lagi tahan dan berontak ingin lepas. "Maka seharusnya, sapi tidak diperkenankan melihat temannya disembelih, apalagi dikuliti," ungkapnya.

Oleh sebab itu, jika memang tempat penyembelihan sangat terbatas, maka sebelum sapi berikutnya dibawa masuk untuk disembelih, sapi yang sedang dikuliti semestinya ditutup terlebih dulu. Cara menutupnya, papar Nanung, bisa dengan menggunakan kain terpal, tirai bambu, atau bahan lain yang sejenis. Tujuannya tentu agar hewan yang disembelih atau dikuliti tidak terlihat oleh temannya.

Ibadah kurban, lanjut Nanung, bukanlah pesta pembantaian hewan, melainkan proses ibadah persembahan yang terbaik seorang hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Sang Khalik, Sang Pencipta seluruh makhluk. Karena ini ibadah, maka rangkaian prosesi penyembelihan pun harus dilakukan dengan adab-adab yang baik (Islami). 

Nanung mencontohkan saat membaringkan hewan. Butuh keterampilan saat membaringkan atau merobohkan sapi. Ada beberapa metode yang telah diperkenalkan, seperti metode Burley, Rope Squeeze, dll. Dari beberapa metode yang dipromosikan, metode Burley yang dirasa paling mudah dan nyaman bagi hewan kurban.

Allah SWT dan Rasul-Nya mewajibkan kita untuk berbuat ihsan (berbuat baik) saat menyembelih. Maka tidak disebut termasuk dalam kelompok umat Rasulullah SAW jika seseorang tidak mau mengikuti sunnah (tuntunan) Rasulullah SAW.

Dari Syaddad bin Aus RA, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan berbuat baik (ihsan) terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlahn dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya serta senangkan (ringankan beban) hewan yang akan disembelih.” (HR Muslim no 1955).

Berbuat baik (adab) umat Islam saat menyembelih hewan kurban ditunjukkan dengan beberapa hal berikut. Pertama, menyediakan ruang transit ternak yang nyaman, tidak bising (ramai), teduh, terpisah antar jenis ternak (sapi versus kambing/domba), tersedia pakan dan air minum yang mencukupi, terbebas dari rasa takut, dan tali ikatan tidak terlalu pendek.

Kedua, ternak yang sakit tidak disembelih. Ketiga, tidak mengasah pisau di dekat sapi. Gelombang suara tinggi asahan pisau membuat sapi gelisah dan takut. Keempat, tidak memperlihatkan proses penyembelihan dan pengulitan hewan di hadapan hewan lain yang masih hidup.

Berikutnya, kelima, hewan yang akan disembelih dibaringkan secara santun, tidak dengan paksaan atau bantingan yang membuat sapi berontak dan daging memar. Keenam, penyembelihan menggunakan pisau yang super tajam, dengan satu rangkaian proses sembelihan yang simultan tanpa jeda.

Ketujuh, hewan yang disembelih tidak boleh dipotong ekornya, dipotong kakinya, apalagi dikuliti, melainkan setelah dipastikan hewan tersebut benar-benar telah mati sempurna. "Semoga prosesi ibadah penyembelihan hewan kurban kita lancar, dan amal kita diterima oleh Allah SWT," tutup Nanung.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA