Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Tuesday, 21 Zulhijjah 1441 / 11 August 2020

Belajar Sendirian di Sekolah

Jumat 31 Jul 2020 19:14 WIB

Red: Esthi Maharani

Seorang siswa kelas IV SDN 1 Kota Banjar, Jawa Barat, dipandu wali kelasnya untuk melakukan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring di sekolahnya, Kamis (30/7). Siswa tersebut belajar di sekolah lantaran keluarganya tak memiliki gawai untuk digunakan dalam KBM secara daring.

Seorang siswa kelas IV SDN 1 Kota Banjar, Jawa Barat, dipandu wali kelasnya untuk melakukan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring di sekolahnya, Kamis (30/7). Siswa tersebut belajar di sekolah lantaran keluarganya tak memiliki gawai untuk digunakan dalam KBM secara daring.

Foto: Republika/Bayu Adji P
Tak punya gawai, seorang siswa belajar sendiri di sekolah dibimbing gurunya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Bayu Adji P

Caca Alfarizki (10 tahun), siswa kelas IV A, SDN 1 Kota Banjar, Jawa Barat, mesti belajar di sekolah sendirian sejak tahun ajaran baru dimulai. Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring tak mungkin bisa karena kedua orang tuanya tak punya gawai. Alhasil pihak sekolah membuka diri untuk memfasilitasi Caca belajar di sekolah.

Di sekolah, Caca belajar seorang diri di ruang perpustakaan. Ketika Republika mendatangi sekolahnya, Caca sedang fokus di depan layar laptop inventaris sekolah yang digunakannya untuk mengakses materi pelajaran yang disampaikan secara daring. Alat pelindung diri maksimal ia gunakan, mulai dari masker hingga pelindung wajah (face shield).

Setiap hari, Caca datang ke sekolah sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Wali kelasnya, Ela Susilawati sesekali memberi petunjuk untuk menggunakan laptop dan membantunya menyelesaikan tugas yang tak dimengerti.

Kendati belajar tanpa teman-temannya di sekolah, Caca tetap semangat. Bahkan, menurut dia, lebih nyaman belajar seperti itu karena ia bisa fokus belajar menggunakan laptop sekaligus fokus dengan materi belajar yang diberikan.

"Banyak yang baru. Bisa belajar internet juga," kata dia, Kamis (30/7).

Meski begitu, kadang Caca juga rindu dengan teman-temannya yang lain. Sebab, belajar seorang diri setiap hari membuatnya kesepian. Ia berharap, sekolah dapat kembali dibuka normal. Sehingga, kegiatan belajar mengajar juga bisa kembali seperti semula.

"Kalau ramai-ramai enak, lebih seru," kata dia.

Wali kelas IV A SDN 1 Kota Banjar, Ela Susilawati mengatakan, salah satu kendala sistem PJJ adalah tidak semua orang tua siswa bisa memfasilitasi anak dengan gawai untuk belajar secara daring seperti yang terjadi pada Caca. Karena itu, pihak sekolah berinisiatif untuk membolehkan Caca belajar di sekolah dengan waktu yang terbatas. Pihak sekolah juga membolehkan Caca belajar di sekolah lantaran jarak rumah siswa dengan sekolah relatif dekat.

"Ada keuntungannya juga Caca belajar di sekolah. Di sini dia bisa sekalian belajar laptop oleh gurunya. Di sini juga kita awasi, jadi pasti belajar," kata dia.

Sementara untuk proses pembelajaran siswa lainnya, guru memberikan materi secara daring dan berkunjungan ke rumah-rumah siswa untuk memantau perkembangan proses belajar. Hanya saja, kunjungan itu dilakukan secara terbatas.

"Misalnya di satu lokasi ada lima orang siswa, dikumpulkan di satu titik untuk diberi tugas dan dijelaskan materi yang perlu penjelasan," kata Ela.

Guru SDN 1 Kota Banjar, Dudu Nurdzaman mengatakan, selama ini, sistem PJJ di sekolahnya dilakukan dengan dua cara, yaitu secara daring dan luring. Untuk daring, para guru memberikan materi pelajaran melalui aplikasi Google Classroom dan media komunikasi dengan para orang tua melalui aplikasi WhatsApp.

"Jika ada anak dari kalangan kurang mampu yang tak memiliki perangkat, kita persilahkan belajar di sekolah. Namun hanya sekira 10 persen dari total sekira 490 siswa di sini," kata dia.

Menurut dia, layanan itu dinamai sebagai proses KBM dengan tatap muka secara khusus. Sebab, layanan itu terbatas hanya untuk anak yang tak punya perangkat, sehingga mereka tetap bisa belajar.

Selain itu, untuk mendukung sistem PJJ, pihak sekolah bersama komite juga melakukan subsidi silang. Artinya, orang tua mampu ada yang membelikan pulsa bagi anak yang punya perangkat tapi tak punya pulsa.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA