Kamis 30 Jul 2020 20:03 WIB

Tak Punya Gawai, Caca Belajar Sendirian di Sekolah

Proses KBM daring menjadi kendala tersendiri untuk sekolah-sekolah di daerah

Rep: Bayu Adji/ Red: A.Syalaby Ichsan
Seorang siswa kelas IV SDN 1 Kota Banjar, Jawa Barat, dipandu wali kelasnya untuk melakukan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring di sekolahnya, Kamis (30/7). Siswa tersebut belajar di sekolah lantaran keluarganya tak memiliki gawai untuk digunakan dalam KBM secara daring.
Foto: Republika/Bayu Adji P
Seorang siswa kelas IV SDN 1 Kota Banjar, Jawa Barat, dipandu wali kelasnya untuk melakukan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring di sekolahnya, Kamis (30/7). Siswa tersebut belajar di sekolah lantaran keluarganya tak memiliki gawai untuk digunakan dalam KBM secara daring.

REPUBLIKA.CO.ID, BANJAR - Seorang siswa kelas IV A Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kota Banjar, Jawa Barat, Caca Alfarizki (10), harus rela belajar seorang diri di sekolahnya. Siswa itu tak bisa melakukan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring di rumahnya lantaran tak memiliki gawai.

Wali Kelas IV A, SDN 1 Kota Banjar, Ela Susilawati mengatakan, pihak sekolah memang sengaja membiarkan Caca untuk belajar di sekolah. Sebab, orang tua Caca tak memiliki gawai yang dapat digunakan untuk pembelajaran secara daring."Jadi dia setiap hari datang ke sini (sekolah), tapi hanya dikasih waktu 90-120 menit per harinya," kata dia kepada Republika, Kamis (30/9).

Menurut dia, proses KBM  daring menjadi kendala tersendiri untuk sekolah-sekolah  di daerah. Sebab, belum semua orang tua siswa memiliki gawai yang dapat digunakan anaknya untuk proses KBM. Karena itu, pihak sekolah membuka diri bagi siswa yang tak memiliki gawai untuk belajar di sekolah.

Ela mengatakan, di kelas yang diasuhnya, hanya Caca yang tak memiliki gawai untuk KBM secara daring. Namun, di kelas yang lain, ada juga siswa lainnya yang bernasib sama."Alasan kita perbolehkan belajar di sekolah itu karena siswa tak punya gawai. Selain itu, rata-rata juga rumahnya dekat dengan sekolah jadi bisa datang. Yang penting kita tetap jaga protokol kesehatan," kata dia.

Di sekolah, Caca belajar seorang diri di ruang perpustakaan. Hanya gurunya yang langsung mengawasi proses KBM menggunakan laptop inventaris sekolah itu. Setiap harinya, ia harus datang pukul 09.00 WIB ke sekolah untuk menerima materi pelajaran. Namun, Caca selalu dijemput oleh gurunya untuk pergi ke sekolah.

Caca mengaku tetap semangat meski harus belajar seorang diri di sekolahnya. Namun, terkadang ia juga merasa kesepian. Sebab, tak ada teman sebaya yang bisa diajak berbicara atau bercanda saat belajar. "Kadang kangen juga sama teman-teman yang lain. Maunya sekolah normal lagi," kata dia.Namun, ia mengatakan, belajar dengan menggunakan laptop membuatnya merasakan hal yang baru. Sebab di rumahnya tak ada gawai yang bisa digunakan untuk belajar. 

 

"Banyak yang baru. Tapi kalau ramai lebih seru," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement