Kamis 30 Jul 2020 17:40 WIB

Jepang Siaga Hadapi Lonjakan Covid-19 Saat Kampanye Wisata

Kasus baru Covid-19 di Jepang terjadi di seluruh wilayah

Red: Nur Aini
Sebuah spanduk imbauan agar orang-orang tinggal di rumah untuk menekan penyebaran COVID-19 dan pandemi coronavirus di kawasan pertokoan, Tokyo, Jepang, Senin (11/5). Awal bulan ini, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memperpanjang keadaan darurat sampai akhir Mei 2020.
Foto: EPA-EFE/FRANCK ROBICHON
Sebuah spanduk imbauan agar orang-orang tinggal di rumah untuk menekan penyebaran COVID-19 dan pandemi coronavirus di kawasan pertokoan, Tokyo, Jepang, Senin (11/5). Awal bulan ini, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe memperpanjang keadaan darurat sampai akhir Mei 2020.

REPUBLIKA.CO.ID,TOKYO -- Jepang tengah bersiap dengan lonjakan kasus Covid-19 dengan lebih dari 1.000 kasus baru untuk pertama kalinya. Kasus Covid-19 muncul satu pekan setelah pemerintah memulai kampanye perjalanan domestik untuk membangkitkan industri pariwisata.

Hingga Rabu (29/7), otoritas kesehatan mengonfirmasi sebanyak 1.264 kasus baru Covid-19 terjadi di seluruh Jepang, demikian laporan lembaga penyiaran NHK. Angka itu melampaui rekor sebelumnya di angka 981 kasus.

Baca Juga

Prefektur Iwate di Jepang bagian utara, yang sempat menjadi prefektur terakhir bebas Covid-19, melaporkan kasus pertama pada Rabu. Sementara, prefektur Okinawa di selatan mencatat 44 kasus, rekor dalam tiga hari berturut-turut.

Sebelumnya, pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe meluncurkan kampanye perjalanan nasional bertajuk "Mari Berpergian" pada 22 Juli yang menyasar pemulihan industri pariwisata sekalipun kasus infeksi Covid-19 masih tercatat cukup tinggi.

Norio Sugaya, seorang anggota panel influenza Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai kampanye itu dirilis pada waktu yang tidak tepat.

"Saya sangat mendukung industri pariwisata...namun kita harusnya tidak melakukan (kampanye) itu ketika infeksi kembali naik. Virus ini menyebar selagi orang-orang berpergian. Jelas bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan," kata Sugaya.

"Para dokter akan segera memberikan tanda peringatan. Rumah sakit akan segera terisi, begitu pula dengan ruang rawat intensif," ujar dia menambahkan.

Di sisi lain, Tokyo berencana untuk memangkas jam operasional restoran dan tempat karaoke pada bulan depan, sebagai salah satu upaya mengurangi tambahan kasus yang saat ini tengah melonjak, demikian dikutip dari surat kabar bisnis Nikkei.

Pemerintah setempat mempertimbangkan pemberian kompensasi sebesar 200.000 yen (sekitar Rp 27 juta) untuk toko-toko yang mematuhi permintaan otoritas agar tutup pada pukul 10 malam dari 3 hingga 31 Agustus.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement