Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Permintaan Kopi Bubuk Lampung Turun Drastis Selama Pandemi

Rabu 29 Jul 2020 15:40 WIB

Red: Nora Azizah

Permintaan kopi bubuk lampung turun hingga 50 persen selama pandemi (Foto: ilustrasi kopi bubuk)

Permintaan kopi bubuk lampung turun hingga 50 persen selama pandemi (Foto: ilustrasi kopi bubuk)

Foto: breakfastwithaudrey.com.au
Permintaan kopi bubuk lampung turun hingga 50 persen selama pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG -- Sri Wahyuni, pengelola usaha kopi bubuk di Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus, Lampung, mengungkapkan, penjualan menurun drastis sejak pandemi. Biasanya, ia bisa menjual sekitar 100 kg bubuk kopi, tetapi kini anjlok menjadi sekitar 50 kg.

“Untuk tetap bertahan di tengah kondisi pandemi tersebut, petani kopi di Ulubelu menerapkan metode tumpang sari sembari menunggu panen kopi. Biasanya, kami menanam cabai dan pisang di sela-sela tanaman kopi sebagai penghasilan mingguan bagi petani,” kata dia pula, akhir pekan lalu, di Bandarlampung.

Baca Juga

Sri yang juga Ketua Koperasi Produsen Srikandi Maju Bersama itu membenarkan harga dan penjualan kopi masih menjadi masalah utama bagi petani kopi lokal di Ulubelu, terlebih pada masa pandemi. Biasanya, ada pembeli dari luar daerah yang mengambil hasil panen kopi.

Namun, di tengah pandemi seperti ini, orang dari luar daerah tidak ada yang datang, sehingga penjualan merosot tajam. Dia berharap, pihak terkait, termasuk pemerintah, dapat membantu dalam pemasaran dan pengendalian harga kopi di Lampung, sehingga penjualan meningkat dan petani bisa merasakan manfaat dari geliat industri kopi.

“Sejauh ini, bantuan untuk nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Padahal, tidak semua petani menjadi nasabah KUR,” kata dia.

Paramita Mentari Kesuma, Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (Scopi), mengatakan, penurunan penjualan kopi terjadi karena proses ekspor dan impor mengalami kendala. Hal ini sebagai dampak dari pemberlakuan lockdown.

“Toko, coffee shop, restoran, tutup karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga daya beli terhadap kopi menurun,” kata Paramita.

Kafe-kafe di pusat Kota Bandarlampung, ibu kota Provinsi Lampung, saat pandemi masih tutup. Meski kini sebagian di antaranya mulai beroperasi kembali, tetapi belum pulih.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA