Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Sekolah akan Dibuka, IDAI Ingatkan Angka Kematian Anak

Rabu 29 Jul 2020 13:00 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Andri Saubani

Sejumlah murid mengikuti kegiatan belajar secara tatap muka menggunakan meja bersekat plastik, di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 09 Pasar Pandan Airmati (PPA), Kec. Tanjung Harapan, Kota Solok, Sumatera Barat, Jumat (24/7/2020). Sekolah tersebut memberlakukan belajar tatap muka bagi kelas 1 untuk uji coba pelaksanaan pembelajaran luring (luar jaringan) sekaligus memperkenalkan sekolah, dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.

Sejumlah murid mengikuti kegiatan belajar secara tatap muka menggunakan meja bersekat plastik, di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 09 Pasar Pandan Airmati (PPA), Kec. Tanjung Harapan, Kota Solok, Sumatera Barat, Jumat (24/7/2020). Sekolah tersebut memberlakukan belajar tatap muka bagi kelas 1 untuk uji coba pelaksanaan pembelajaran luring (luar jaringan) sekaligus memperkenalkan sekolah, dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.

Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO
Angka kematian anak akibat Covid di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Pasifik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Yogi Prawira mengatakan IDAI tetap meminta agar kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan secara online. IDAI pun mengingatkan bahwa angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi di Asia-Pasifik.

Sejak awal munculnya Covid-19 di Indonesia, Yogi mengaku IDAI sangat mengapresiasi langkah pemerintah yang menerapkan pembelajaran dari rumah. Menurutnya, hal ini harus terus berlanjut minimal hingga akhir tahun 2020 untuk melindungi anak-anak dari paparan infeksi virus corona.

"Kami menyarankan evaluasi bulan Desember jadi paling cepat bulan Desember (sekolah dibuka) untuk tatap muka, itupun dengan syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku," ujar Yogi saat dihubungi, Selasa (28/7) malam.

Ditambah lagi kata Yogi, kasus Covid-19 di Indonesia telah melampaui China dan dalam catatan WHO, angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Pasifik. "Jadi ada masalah di sini," ungkapnya.

Kemudian mengenai zonasi penyebaran Covid-19, dalam sudut pandangnya sistem zonasi hijau, kuning, dan merah di Indonesia cenderung misleading (menyesatkan). Alasannya, karena untuk menyatakan suatu daerah masuk kategori zona hijau hanya perlu untuk tidak melakukan tes sehingga tidak ada catatan penambahan kasus.

"Yang paling gampang tidak perlu diperiksa, tidak ada pemeriksaan (artinya) tidak ada hasil positif, tidak ada pertambahan kasus. Tapi kan bukan seperti itu yang diminta, jadi harusnya ada semacam kewajiban dari pemerintah pusat untuk masing-masing daerah berusaha memenuhi persyaratan yang diminta oleh WHO, karena di Indonesia ini kan kapasitas tes sangat tidak merata," jelasnya.

Kemudian bila berdasarkan positivity rate, sebagai salah satu syarat bisa dikatakan transmisi untuk Covid-19 sudah terkendali, positivity rate harus kurang dari lima persen selama dua sampai tiga minggu berturut-turut. Sehingga jika itu belum terpenuhi, artinya risiko untuk transmisi lokal masih besar.

"Dan perlu diingat terapi untuk penyakit ini belum ada, jadi semuanya sifatnya masih trial. Ada yang bagus, ada juga yang tidak (menunjukkan) perbaikan. Jadi untuk populasi yang rentan seperti anak-anak maka yang terbaik adalah pencegahan," tegasnya.

Baca Juga



Caranya tambah Yogi, adalah mengurangi paparan dengan tetap di rumah. Sehingga, ia kembali menegaskan supaya pemerintah tidak gegabah dalam mengeluarkan suatu keputusan.

"Jadi saran kami pemerintah harus berpikir ulang, jangan gegabah," tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo memberikan isyarat bahwa pemerintah akan melonggarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sekolah yang selama ini diterapkan pada masa pandemi Covid-19. Pelonggaran PJJ dilakukan dengan memperbolehkan kegiatan belajar tatap muka secara terbatas bagi sekolah-sekolah di luar zona hijau penularan Covid-19.

"Soal PJJ, Bapak Mendikbud telah melakukan langkah-langkah dan mungkin tidak lama lagi akan diumumkan bahwa daerah-daerah selain zona hijau, itu juga akan diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan belajar tatap muka dengan cara terbatas," jelas Doni, Senin (27/7).

photo
Infografis Survei Orang Tua Khawatir Jika Sekolah Dibuka Kembali - (Infografis Republika.co.id)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA