Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

In Picture: Video Warga Australia Menolak Masker Jadi Viral

Selasa 28 Jul 2020 19:15 WIB

Red:

Orang dalam video tersebut sering mengutip teori konspirasi.

Meningkatnya angka penularan virus corona di Australia mendorong pemerintahnya untuk memperketat aturan, namun tidak semua orang menaatinya.

Sebuah video yang viral akhir pekan lalu menunjukkan seorang perempuan menolak untuk mengenakan masker dan berargumen dengan karyawan dan polisi di toko perabot rumah tangga, bernama Bunnings.

Video asli yang dibagikan di Twitter kini sudah diputar lebih dari satu juta kali dan menggambarkan satu dari sekian pertengkaran antara warga Australia dengan pihak berwajib karena aturan terkait COVID-19.

Orang dalam video tersebut sering mengutip teori konspirasi atau argumen berbau hukum semu dan menekankan peraturan terkait virus corona telah melanggar hak asasi manusia dan berbahaya.

Tindakan seperti ini dikenal sebagai "sovereign citizen movement" atau gerakan masyarakat di negara berdaulat, di mana warga mengeinterpretasikan sebuah kebijakan sesuai pengertian sendiri.

Melihat video ini, Premier Daniel Andrews, Menteri Utama negara bagian Victoria, Australia, angkat bicara.

"Jika Anda hanya mengambil keputusan egois untuk kebebasan pribadi, menggunakan pernyataan yang Anda temukan di sebuah situs, ini bukanlah soal hak asasi manusia," katanya.

Seberapa luas perilaku anti masker?

Pemerintah Australia telah menganjurkan warga untuk menggunakan masker di daerah di mana terdapat penularan antar warga dan tidak memungkinkan untuk menjaga jarak antara individu, yang saat ini meliputi beberapa daerah di Victoria dan New South Wales.
Beberapa pengecualian diberikan, misalnya bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau karena alasan terkait profesi.

Tidak ada data tentang perilaku orang-orang terhadap imbauan mengenakan masker di Australia, namun, terdapat data yang mencatat penggunaan masker.

Menurut Badan Pusat Statistik Australia, satu dari delapan partisipan survei yang berumur 24-29 tahun mengatakan memakai masker di bulan Juni karena alasan pandemi.

Sementara itu, dua minggu setelahnya, survei terbaru dari pengumpul suara 'online', YouGov menemukan satu dari lima orang Australia mengatakan mereka selalu memakai masker di tempat umum.

Kedua survei ini dilakukan sebelum 'second wave' atau gellombang kedua COVID-19 dan kebijakan masker dari Pemerintah Australia dikeluarkan.

Wakil kepala 'Royal Australian College of General Practitioners', asisten profesor Ayman Shenouda, mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak memiliki pandangan anti-masker dan anti-peraturan.

"Mayoritas orang dalam komunitas melakukan peran mereka dan mematuhi batasan yang ada untuk menghadapi pandemi COVID-19," katanya.

Pemberitaan media tentang pelanggaran aturan

 

Walau laporan tentang ketidakpatuhan beberapa warga Australia telah menerima perhatian banyak orang di media, hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan warga Australia menentang peraturan terkait COVID-19.

Video-video biasanya disebarkan di komunitas 'online' kecil, kemudian diangkat oleh media tradisional dan disiarkan ke banyak orang.

Menurut keterangan dari perusahaan monitor media bernama Streem, hingga 27 Juli pukul 9 pagi, sudah ada 1.157 laporan media tentang kejadian di Bunnings, dengan perincian 644 berita di televisi, 540 di internet, 52 di radio, dan 11 cetak.

Pekan lalu, video viral serupa dari seorang perempuan yang melanggar aturan virus corona karena menolak untuk memberitahu tujuannya di titik pemeriksaan COVID-19 disebutkan di 328 item media.

Analis pemantauan media Conal Hanna mengatakan perhatian yang diberikan masyarakat terhadap berita ini sangatlah mengejutkan.

"Di saat banyak berita di media bernada kritis terhadap pandangan perempuan tersebut, mereka juga menyiarkan pesan perempuan itu kepada jutaan orang lain."

Berita ini adalah salah satu yang paling terkenal di media sosial, menurut data dari analis media sosial BuzzSumo.

Artikel online dari video tersebut merupakan berita virus corona yang nomor dua paling banyak dibaca di media sosial di Australia selama seminggu kemarin, dilihat dari jumlah 'engagements'.

Pengaruh pemberitaan media terhadap perilaku

Wakil komisaris Kepolisian Victoria, Rick Nugent, menanggapi video yang beredar dengan mengecam orang yang merekam dirinya sendiri menyalahkan peraturan.

Ia juga mengancam akan memberikan denda kepada mereka.

"Kelihatannya orang-orang lebih suka dipandang buruk dan mendapatkan jumlah 'like' banyak di media sosial dibandingkan mementingkan kesehatan dan keselamatan sesama warganya," katanya.

Pemberitaan dari kejadian yang sebelumnya tidak dilihat banyak orang kini menimbulkan pertanyaan apakah sebenarnya media telah memberitakan secara akurat reaksi publik terhadap peraturan COVID-19, selain dari kemungkinannya mempengaruhi kepatuhan orang-orang.

Ini bukan pertama kalinya pemberitaan media tentang pandemi telah menerima kritik.

Pemberitaan tentang obat dan vaksin yang mungkin bisa menyembuhkan COVID-19 pun dilihat sebagai penyebab dari timbulnya teori konspirasi dan kesalahpahaman tentang virus corona.

Dr Mathew Marques, dosen Psikologi Sosial di 'La Trobe University' yang telah mempelajari perilaku anti-sains dan pergerakan konspirasi, mengatakan perilaku anti-masker mirip dengan kepercayaan anti-vaksin.

Ia berpendapat media seharusnya tidak memberitakan pandangan ini.

Ia mengatakan kecil kemungkinannya video ini akan mendorong orang-orang untuk berhenti memakai masker, tapi khawatir akan mempengaruhi mereka yang sudah patuh.

"[Hal] ini akan menghambat masyarakat dalam melakukan perilaku kesehatan yang penting untuk menekan penularan COVID-19, yaitu membatasi pertemuan sosial, menjaga jarak dan kebersihan, serta reaksi terhadap keberadaan vaksin di masa depan ketika sudah tersedia," katanya.

Dr Mathew mengatakan manusia belajar dari sesamanya, terutama di tengah situasi yang tidak biasa.

Inilah mengapa menurutnya tindakan media memilih untuk fokus kepada individu yang lebih "mencuri perhatian" harus dihentiikan.

"Menghakimi orang yang tidak melakukan hal yang benar mungkin tampak menyenangkan, atau sekilas seperti bahan bercandaan, tapi hal seperti ini turut menghambat diskusi penting yang seharusnya bisa diikuti banyak orang."

Simak berita lainnya di ABC Indonesia.

Sumber : https://www.abc.net.au/indonesian/2020-07-28/video-viral-sejumlah-warga-australia-tak-mau-pakai-masker/12499026
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES