Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Friday, 24 Zulhijjah 1441 / 14 August 2020

Kopi Robusta Masih Dipandang Sebelah Mata

Selasa 28 Jul 2020 06:06 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Buah ceri kopi robusta. Ilustrasi

Buah ceri kopi robusta. Ilustrasi

Foto: Republika/Prayogi
Seperti arabika, robusta juga bisa menghasilkan cita rasa berkualitas.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGGAMUS, LAMPUNG -- Kopi Indonesia memang tengah naik daun. Namun, sayang, yang paling dilirik saat ini adalah arabika. Sepupunya, robusta, masih dipandang sebelah mata. Padahal kopi bercita rasa tebal ini, bisa dibilang paling sering dihirup mayoritas masyarakat seantero Tanah Air. Baik itu dalam sajian kopi hitam, kopi instan, hingga es kopi susu kekinian.

Rasa kopi robusta pun sebenarnya sudah akrab di lidah banyak generasi kita. Karena sudah lama ia menjadi bagian tradisi ngopi rakyat Nusantara. Menurut sejumlah catatan sejarah, robusta sudah tiba sejak seabad lalu. Pada sekitar tahun 1900-an, biji kopi jenis ini diboyong ke Tanah Air. Ia datang menggantikan arabika yang pada 1876 populasinya anjlok drastis akibat hama karat daun. 

Robusta pun terus bertahan. Sebab ia memiliki banyak kelebihan. Selain lebih tahan hama dan penyakit, kopi ini bisa ditanam di dataran rendah. Produktivitasnya juga lebih baik daripada arabika dan lebih cepat panen. Kopi jenis ini juga sangat cocok ditanam di daerah tropis-basah, yang menjadi karakter sejumlah wilayah di Indonesia.

Robusta hingga kini masih menjadi andalan industri kopi di Tanah Air. Menurut catatan Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) dalam situs resminya, 83 persen dari total produksi kopi Indonesia adalah robusta. Sisanya arabika.

Sayang, di balik semua pencapaian di atas, robusta masih saja terkesan dianaktirikan.

Hal itu diakui oleh Kukuh Diki Prasetia, salah satu petani kopi pada pusat perkebunan robusta di Ulubelu, Tanggamus, Lampung. Pemuda keturunan petani kopi ini sulit menampik pandangan robusta masih nomor dua. 

"Robusta hari ini memang dianggap sebagai kopi yang masih di level yang bisa dibilang belum sangat dihargai. Artinya kopi robusta ini masih dianggap tidak punya cita rasa yang baik. Sebenarnya semua kopi ketika dikelola dengan baik dari hulu sampai hilirnya akan membentuk taste yang baik," kata pria berusia 28 tahun ini kepada Republika, di Desa Sukamaju, Ulubelu, Senin (28/9).

photo
Petani membawa hasil panen kopi menggunakan motor di Desa Sukamaju, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus, Lampung, Selasa (27/7) - (Republika/Prayogi)

Menurutnya, seperti arabika, robusta juga bisa menghasilkan cita rasa berkualitas. Kuncinya ya pada penanganan yang baik. Dari mulai pembibitan hingga proses pascapanen yang tepat. Hal yang menurutnya, sudah makin banyak disadari sebagian pencinta kopi. Bahkan belakangan dikenal istilah fine robusta, yang setara dengan status specialty pada kopi arabika. Saat ini kopinya makin diburu.  

"Semakin hari trennya semakin naik, mulai banyak kedai yang mau menggunakan full robusta untuk keperluan seduh di kedai," kata pria pemilik UMKM  Beloe Classic dan pembina Komunitas Bumi Ulubelu ini antusias.

Sayangnya, secara presentase, kopi berkualitas terbaik diakui Kukuh memang belum banyak jumlahnya. Pangkal masalah kerap kali justru ada di tingkat petani. Edukasi yang masih minim dan beberapa keterbatasan sering menjadi kendala.

"Jadi memang robusta ini, banyak memang, belum bisa baik, artinya rasanya belum bisa total belum bisa maksimal, salah satunya karena memang masih keterbatasan teknologi dan pengembangan sumber dayanya masih terbatas," ujar dia. 

Melihat kenyataan tersebut tidak lantas membuat Kukuh patah arang. Baginya membangun kesadaran para petani tak kalah penting dan harus terus dilakukan. Setidaknya petani bisa menyadari, bahwa semakin berkualitas kopi, maka keuntungan yang didapat juga bisa makin mendekati harapan.

Kukuh juga mengapresiasi belakangan sudah ada beberapa pihak yang mulai mendukung upaya meningkatkan mutu kopi robusta. Baik dari tahap edukasi, pembinaan, hingga penyuluhan. Salah satunya adalah Rumah Belajar Kopi yang digagasnya bermitra dengan Pertamina Geothermal Energy di Ulubelu. Meski begitu, Kukuh juga sadar butuh proses panjang untuk mewujudkan misinya secara merata.

photo
Petani memetik hasil panen kopi menggunakan motor di Desa Sukamaju, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus, Lampung, Selasa (27/7). - (Republika/Prayogi)

Lalu, apakah robusta akan bisa sejajar dengan arabika?

"Setiap jenis kopi punya peminat masing-masing, dan punya rasa yang berbeda. Sejajar atau tidak, kalau menurut saya tergantung lidah dan penikmatnya. Yang pasti adalah kopi yang baik, akan diminum oleh orang yang baik. Kopi yang berkualitas akan membuat kita cerdas," ungkap Kukuh.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA